Minggu, 03 Juli 2011

Kisah Pdt. Aris van de Loosdrecht, Martir Tana Toraja

Published On: Sun, Jul 3rd, 2011

Kisah Pdt. Aris van de Loosdrecht, Martir Tanah Toraja


Aris van de Loosdrecht dan Alida van de Loosdrecht
TORAJA (TCN) — Ini kisah Pendeta Antonie Aris van de Loosdrecht dan Alida van de Loosdrecht, misionari pertama yang memberitakan Injil ke Toraja,dan Martir Iman Tana Toraja.
Antonie Aris van de Loosdrecht dan istrinya Alida adalah misionaris pertama yang menginjakkan kakinya di bumi Toraja. Atas jasanya masyarakat Toraja dapat mengenal Injil Kristus. Bahkan dapat dikatakan dari “benih” pelayanan mereka, Gereja Toraja dapat berdiri dan berkembang sampai sekarang.
Kisah perjuangan Pendeta Aris dan istrinya Ida van de Loosdrecht yang rela menyeberangi lautan meninggalkan keluarga dan orang-orang yang disayangi demi masyarakat Toraja yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya, menjadi bagian yang perlu kita teladani. Sungguh suatu pelayanan yang tidak akan pernah dapat dibalas oleh masyarakat Toraja secara umum dan Gereja Toraja secara khusus. Injil yang bertumbuh dan menjadi dasar terbentuknya Gereja Toraja adalah Injil yang dihiasi dengan darah MARTIR Anton Aris van de Loosdrecht.
Aris van de Loosdrecht dan Alida van de Loosdrecht menikah pada 7 Agustus 1913. Kemudian mereka berangkat untuk memberitakan Injil ke Tanah Toraja pada tanggal 5 September 1913, ini berarti mereka pergi ke sebuah tempat yang baru dan sangat terpencil kurang lebih satu bulan setelah pernikahan mereka. Mereka tiba di Indonesia yang waktu itu dikenal dengan sebutan “Hindia Belanda”. Akan tetapi tujuan mereka bukanlah Indonesia, melainkan Tanah Toraja. Daerah ini merupakan daerah yang masih sangat terpencil, belum lagi ancaman dari penduduk asli yang saat itu masih sering mengadakan perburuan terhadap manusia (kalau kita tidak ingin menyebutnya sebagai kanibalisme).
Anton dan Ida (demikian panggilan mereka) tinggal di daerah Poso selama awal tahun 1914, di desa Tentena, sekitar 2000 Km timur laut Rantepao. Sebelum berangkat ke Rantepao, mereka dibantu oleh seorang penerjemah Alkitab N. Adriani, untuk menyesuaikan diri dan mengenal bahasa Toraja. Setelah merasa matang dengan pelatihan dan informasi yang didapatnya, mereka kembali ke Rantepao pada awal April.
Jelas bahwa Anton dan Ida sadar benar akan masalah bahasa yang menjadi kendala bagi mereka memberitakan Injil, karena itu mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempelajari bahasa Toraja.
Rumah Kediaman Aris van de Loosdrecht

Mereka tinggal di Rantepao dan mulai melaksanakan berbagai pelayanan mereka. Karena pelayanan mereka banyak masyarakat Toraja yang tertarik dengan Injil sekalipun pada saat itu ikatan adat dan kepercayaan animisme masih sangat kuat. Anton dapat menjalin hubungan yang begitu akrab dengan para kepala-kepala suku dan juga para parenge’ atau para imam. Salah satu parenge’ yang dikenalnya cukup baik, bahkan dapat dikatakan menjalin persahabatan dengannya adalah Pong Maramba. Dikemudian hari hubungan ini menjadi rusak karena Pong Maramba meminta kepada Anton untuk bersedia menjual istrinya. Tentu saja permintaan ini didasari atas budaya patriakhal yang melihat perempuan sebagai milik laki-laki sehingga dapat diperlakukan semaunya, termasuk dijual. Sekalipun Anton telah menjelaskan bahwa dalam agama Kristen istri bukanlah milik melainkan sebagai rekan sekerja yang sama derajatnya, namun Pong Maramba tetap tidak mengerti penolakan Anton. Namun akhirnya konflik ini selesai ketika Pong Maramba ditangkap dan dipenjarakan. Selama melaksanakan pelayanan di Tana Toraja, mereka memfokuskan pada pembangunan sekolah-sekolah yang dapat menampung anak-anak Toraja untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Anton sangat bekerja keras dalam hal ini, dalam salah satu suratnya ke Belanda, Alida mengatakan bahwa suaminya bekerja dari jam setengah enam pagi sampai jam sebelas malam. Dari surat-suratnya kita dapat menyimpulkan bahwa pasangan misionaris ini sangatlah ramah kepada masyarakat Toraja, hal ini diakibatkan karena mereka sendiri mendapatkan sambutan yang sangat ramah dan baik dari masyarakat Toraja. Selain itu mereka juga banyak memberikan pelayanan medis kepada masyarakat, dalam surat-surat mereka, mereka menjelaskan akan rendahnya kualitas kehidupan dan kesehatan masyarakat Toraja, bahkan para parenge’ mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak jauh berbeda dengan kehidupan para budaknya.
Perkembangan misi yang dilakukan oleh pasangan misionaris ini sangat luar biasa, dalam beberapa waktu saja mereka telah berhasil mendirikan banyak sekolah, dan para guru-guru didatangkan dari daerah-daerah yang lebih dulu dikuasai oleh Belanda, seperti Ambon, Sangir, dan Manado. Akan tetapi jumlah orang yang dibabtis sampai saat itu belum ada. Hal ini disebabkan karena komitmen mereka akan pengejaran yang benar dan keyakinan yang kokoh dalam Kristus akan dicapai jika mereka dibaptis dengan pemahaman yang benar. Buah iman dari pelayanan mereka adalah dibaptisnya empat orang anak Toraja dari golongan parenge’ yang telah mengikuti katekisasi dalam waktu yang cukup lama. Anton tidak seperti pendeta-pendeta yang diutus dari Makassar di Makale. Ia sangat mementingkan kualitas iman yang lahir dari pemahaman yang benar akan iman Kristen, itulah sebabnya ia menolak membaptis keempat pemuda ini pada awalnya, ia memaksa mereka untuk harus ikut pelajaran Katekisasi dulu, jika mereka tidak ingin mereka boleh pergi ke Makale dan dibaptis oleh pendeta lain di sana.
Bersama Jemaat
Tantangan Injil di Toraja pada waktu itu ialah adat-istiadat Toraja dan terutama golongan orang-orang yang menikmati aturan-aturan adat tersebut. Mereka antara lain to parenge’ dan to Minaa (imam aluk Todolo). Selain itu ada juga tantangan dari sesama orang Kristen dan Belanda yang bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda. Sekalipun mereka Kristen namun iman mereka bukanlah iman Kristen. Tingkah laku mereka sangat memalukan dan membuat orang-orang Kristen lainnya menjadi malu. Akan tetapi bagaimanapun juga pekerjaan pasangan penginjil ini tidak sia-sia, ini terbukti dengan didirikannya puluhan sekolah dengan jumlah murid ratusan orang.
Pada tanggal 26 juli 1917 Antonie Aris van de Loosdrecht menghembuskan nafas terakhirnya di Bori’. Sungguh suatu peristiwa yang sangat disayangkan harus terjadi. Misionaris ini meninggal setelah mengalami pendarahan yang hebat akibat luka tusukan tombak yang mengenai jantungnya.
Kronologis peristiwa tersebut di mulai ketika Anton pada hari tersebut berencana berangkat ke beberapa wilayah kerjanya, yaitu Nanggala, kemudian ke Balusu lalu mengakhiri perjalanannya di Bori’. Entah mengapa rencananya ini diubah, ia tidak berangkat ke Nanggala dulu, tetapi ia berangkat ke Bori lebih dahulu. Kira-kira jam empat sore ia berangkat ke Bori’ dan tiba di sana sekitar jam lima sore. Setelah mandi di kali belakang rumah guru sekolah, ia kemudian duduk-duduk di beranda rumah guru bersama dengan guru sekolah di Bori’. Mereka mendiskusikan beberapa cerita-cerita Alkitab yang akan diterjemahkan kedalam bahasa Toraja.
Ketika hari mulai gelab, tiba-tiba seseorang yang wajahnya telah dilumuri dengan arang sehingga menjadi sangat hitam dan sulit untuk dikenali, melompat ke beranda rumah tersebut. Tidak lama kemudian ia menghujamkan tombaknya ke dada Anton. Anton terjatuh dari atas kursi dan sang pembunuh melarikan diri. Saat itu ia terluka parah, salah seorang murid bermaksud untuk memanggil istri Anton di Barana’, namun Anton melarangnya ia berkata “Tidak usah! Sebentar lagi saya akan mati, sampaikan salam saya kepada Istri yang sangat saya cintai dan juga anak-anak saya, sekarang tinggalkan saya sendiri, saya ingin berdoa”. Dalam keadaan berdoa inilah Anton menghembuskan nafas terakhirnya. Darah seorang MARTIR telah tertumpah di Tana Toraja, untuk apa dan mengapa?
Menurut kesaksian dari beberapa orang, termasuk istri Anton, Kepala Polisi, dan bahkan pengakuan dari para pembunuh itu, penulis dapat menyimpulkan bahwa pembunuhan itu adalah sebuah pembunuhan berencana yang tujuannya memancing pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Peristiwa ini merupakan imbas dari keputusan pemerintah Hindia Belanda akan pembatasan hari perjudian. Sebelumnya pemerintah memberi isin dua belas hari untuk mengadakan perjudian, namun kemudian dikurangi menjadi empat hari. Akibatnya beberapa orang yang sudah sangat kecanduan terhadap judi bersumpah untuk membunuh controuler (wakil pemerintah Hindia Belanda, setingkat Camat). Dalam perjalanan mereka ke Rantepao pada sore tersebut, mereka melihat kedatangan Anton yang adalah orang Belanda, maka muncullah niat untuk juga membunuh Anton. Sungguh sangat disayangkan hal ini terjadi sebab ternyata pembunuh Anton adalah orang yang kenal dekat dengannya, bahkan anak dari pembunuh ini sangat rajin ke sekolah.
kisah perjuangan Anton dan Ida van der Loosdrecht yang rela menyeberangi lautan meninggalkan keluarga dan orang-orang yang disayangi demi masyarakat Toraja yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya, menjadi bagian yang perlu kita teladani. Sungguh suatu pelayanan yang tidak akan pernah dapat dibalas oleh masyarakat Toraja secara umum dan Gereja Toraja secara khusus. Injil yang bertumbuh dan menjadi dasar terbentuknya Gereja Toraja adalah Injil yang dihiasi dengan darah MARTIR Anton Aris van der Loosdrecht.
Sumber:http://ceritapengharapan.com

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar