Jumat, 15 Maret 2013

Adat Ritual Pemakaman Kedatuan Luwu

TNO-Luwu, Ritual adat yang sangat kental mewarnai sebuah prosesi pemakaman dalam rangkaian 40 hari wafatnya Andi Luwu Opu Daengna Patiware Datu Luwu ke-39 di Luwu Sulawesi Selatan. Batu nisan almarhum diarak sepanjang jalan menuju ke makam Datu atau makam raja-raja Luwu yang disebut LokkoE. Pengarakan batu nisan sang raja adalah salah satu prosesi adat utama dalam rangkaian kegiatan pemakaman yang disebut Mattampung (pemasangan batu nisan). Pada prosesi adat penutup ini, pihak Istana akan mengundang seluruh raja-raja se-Sulsel yang memiliki ikatan emosional dan kekeluargaan yang dekat dengan kerajaan Luwu. Mereka diharapkan mengikuti prosesi mattampung. acara inti dari prosesi adat mattampung dengan mappanonno batu atau menurunkan batu nisan untuk selanjutnya dipasang di pusara almarhumah yang terletak di dalam Lokkoe. Lokkoe adalah gua buatan berbentuk piramida sebagai moseleum dari keluarga raja dari Kedatuan Luwu.
Acara mappanonno batu diawali dengan mengumandangkan adzan di empat sudut istana Kedatuan Luwu secara bersamaan. Setelah itu, batu nisan diusung menuruni tangga ‘sapana’ yang terbuat dari serpihan batang pinang yang saling dianyam. Batang pinang lazim digunakan di dalama cara-acara ritual di kalangan masyarakat adat. Sebelum usungan batu nisan diusung menuruni tangga sapana, maka seekor kerbau disembelih lalu usungan batu nisan diusung melangkahi jasad kerbau tersebut dan disaksikan oleh Datu Luwu ke-40 dan para bupati se-Tana Luwu. Prosesi itu disebut ‘ripajulekkai camara lebbi’ atau melangkahi kerbau persembahan. Kerbau adalah hewan berkaki empat yang melambangkan empat penjuru mata angin yaitu, utara, selatan, timur dan barat, yang secara simbolis melambangkan bahwa kepergian almarhumah Datu Luwu ke-39 Andi We Addi Luwu diiringi oleh doa dan ratapan sedih dari seluruh masyarakat adat Luwu baik di barat, timur, selatan, dan utara. para pengusung batu nisan terdiri dari 4 orang yang memakai kostum adat berwarna putih dengan ikat kepala hitam. Batu nisan ditempatkan dalam sebuah keranda yang dihiasi dengan pernik khusus. Ketika para pengusung akan berjalan, mereka terlebih dahulu harus melangkahi kerbau yang telah dipotong yang disebut. Ritual inilah yang disebut “Ripajulekkei camara lebbi”.
Di bagian depan ‘parrulu gau’ atau atribut adat pengiring usungan batu nisan terdapat satu pasang suluh atau obor yang menyala yang disebut sulo langit atau suluh alam arwah kemudian diikuti dengan sepasang pabbalu-balu atau sepasang laki-laki yang menutup seluruh tubuhnya dengan sarung berwarna hitam yang melambangkan rasa duka yang mendalam dari seluruh lapisan masyarakat adat dalam Kedatuan Luwu. Sepasang ‘pattoduang’ yang masing-masing mengunakan topi caping dan pakaian petani yang juga berupa simbol bahwa seluruh strata sosial dalam wilayah adat Kedatuan Luwu berduka sedalam-dalamnya.
dokdok LuwuSeorang “dokdok” atau simbol kepala makhluk gaib yaitu seorang yang menggunakan topeng yang seram dimana seluruh tubuhnya ditutupi oleh jubah dari bulu-bulu yang kasar, berjalan bebas hilir mudik dari depan ke belakang. Jika ada seorang diluar iring-iringan prosesi adat tersebut yang sampai tertanggap tangan oleh dokdok, maka orang tersebut harus membayar denda sebelum dilepaskan. Dokdok ini bertugas menghalau semua anasir jahat, baik dari makhluk nyata maupun makhluk gaib yang akan menghalangi prosesi adat tersebut.
Sepasang tombak yang dihiasi dengan rambut manusia yang disebut ‘bessi bandranga’ yang menjadi sumber tanda bahwa iring-iringan tersebut adalah iring-iringan resmi dari Kedatuan Luwu, menyusul pembawa tombak yang disebut bessi menrawe yang disusul dengan pakkaliawo yaitu pembawa perisai dan tombak. Bessi menrawe dan pakkaliawo yang masing-masing berjumlah 12 orang adalah simbol peringkat tertinggi dari upacara adat di Kedatuan Luwu. Sesudah itu terdapat 12 perempuan berpakaian serba putih yang memegang atribut yang disebut passimpa dan masing-masing sejenis kipas yang dikipaskan perlahan-lahan sepanjang jalan. Aktifitas ini menyimbolkan bentuk upaya mengusir segala aral yang melintang. Rombongan passimpa itu terdiri dari ‘inanyompareng’ atau ibu susu dari almarhumah. (sumber: palopopos / foto: Ancha Maupe- Sempugi Grup)

posting : kabarkami.com

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar