Minggu, 17 Maret 2013

Tradisi PAJOGE, Tergerus Modernisasi?

TNO-Selayar, Seperti ritual mendorong sebuah kapal atau perahu baru ke laut di tanah Beru, Bulukumba, lain pula di Pulau Bonerate, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan yang juga memiliki ritual serupa yaitu tradisi Songkobala dan Pajoge. Tradisi ini adalah sebuah bentuk kebudayaan yang digelar pada setiap rangkaian prosesi mendorong kapal baru dari industri galangan perahu di pesisir pantai Desa Bonerate menuju ke laut dan merupakan adat kebiasaan bersifat turun-temurun yang wajib dilaksanakan pada setiap  prosesi mendorong kapal.
Ritual Songkabala merupakan rangkaian kemeriahan tradisi pajoge menjadi sarat mutlak yang harus dilaksanakan, sebelum kapal dilepas secara resmi untuk di bawah berlayar oleh sang pemesannya.
Pemesan kapal yang dibuat di Pulau Bonerate ini pada umumnya berasal dari luar wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar, ada juga yang datang dari warga Provinsi Nusa Tenggara Timur dan masyarakat Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Ritual songkabala yang digelar di dalam rangkaian upacara sakral ini diyakini warga setempat dapat menjadi penangkal bala dan segala bentuk musibah lain yang dimungkinkan akan menerpa kapal, saat sedang mengarungi samudera nusantara. Dengan penyelenggaraan ritual tersebut, kapal-kapal buatan Pulau Bonerate yang telah diturunkan ke laut, diyakini akan senatiasa terhindar dari bala atau musibah pelayaran.
Bahkan, kapal buatan masyarakat pulau di penghujung paling selatan Kabupaten Kepulauan Selayar ini, diyakini tidak akan karam dan tenggelam di perairan lain kecuali, bila kapal tersebut kembali ke daerah asal pembuatannya yakni Pulau Bonerate.
Saat pertama kali ditumbuh kembangkan, tradisi Pajoge digelar tanpa iringan alat musik sama sekali. Kultur budaya pajoge di Pulau Bonerate mengalir alami, ibaratnya sebuah aliran anak sungai. Tradisi ini dilakukan pada saat bersamaan dengan ritual Songkobala. Dalam prosesnya, masyarakat memeriahkan tradisi pajoge dengan posisi berdiri melingkar mengelilingi tubuh kapal yang siap turun kelaut. Untuk dapat menghasilkan irama, warga memukul-mukulkan tangannya ke arah badan kapal diselingi riuh tepuk tangan dan hentakan kaki ke tanah. Kemeriahan tradisi budaya ini makin sempurna semaraknya ketika warga masyarakat bersorak-sorai riuh menyambut detik-detik pelepasan perahu ke laut.
Seiring dengan perkembangan jaman, tradisi budaya Pajoge mulai mengalami pergeseran baik dari sisi kemeriahan maupun dari unsur nilai-nilai kebudayaan naturalnya. Hadirnya beragam perangkat elektronik seperti radio tape dan musik elektone menggerus nilai-nilai sakralnya. Sejak saat itu pula, pola tradisi Pajoge kian dikembangkan dan lebih banyak digelar pada rangkaian pesta hajatan perkawinan atau pun khitanan. (reporta: Fadly Syarif / editor: Indra J Mae)

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar