Kamis, 14 Maret 2013

Sutra Lokal sulawesi Selatan Punah?

TNO-Sul-Sel, Budi daya sutera alam telah dikenal sejak tahun 1950-an di Sulawesi Selatan dan sampai sekarang masih digeluti oleh sebagian masyarakat pedesaan. Menurut Balai Persuteraan Alam,terdapat 3.214 kepala keluarga yang menggeluti usaha tani murbei dan kokon, dengan luas areal tanaman murbei 1.713 hektar yang tersebar di 11 kabupaten.
Sampai saat ini produksi benang sutera lokal Sulawesi Selatan masih merupakan yang terbesar di Indonesia dengan produksi 54,53 ton dari 64,02 ton produksi nasional atau 86% (Departemen Kehutanan, 2008) namun ironis dengan kondisi yang terjadi di lapangan ketika produksi bahan lokal mulai mengalami penurunan akibat gencarnya impor bahan dari negara lain.
Selembar kain sutera menggunakan dua jenis benang yaitu benang lungsi dan benang pakan. Umumnya, pengrajin sutera Sengkang mengimpor benang lungsi dari Hongkong. Benang sutera lokal sekarang sudah jarang dijumpai, harganya sangat mahal dengan keuntungan tidak sebanding.
Untuk benang pakan, para pengrajin sutera sudah menggunakan benang lokal yang berasal dari Soppeng atau Enrekang. Di peternakan kokon, bayi ulat sutera dipelihara di atas bale-bale beralas daun murbei yang merupakan makanan ulat. Setelah kenyang, ulat akan diam dan siap mengeluarkan liur hingga ulat menjadi kepompong. Bentuknya seperti telur puyuh, berwarna putih dan lembut yang disebut kokon. Kokon inilah yang dipintal menjadi benang sutera dan selanjutnya akan menjadi kain sutera.
dalam perjalanannya sejak 1950-an, perkembangan industri persuteraan alam beberapa tahun belakangan ini mengalami kemorosotan akibat kelangkaan bahan baku sutera lokal (sutera asli). Akibatnya, para pengrajin harus beralih menggunakan benang sutera India. Selain harganya yang cukup murah juga proses pengelolaan sampai menghasilkan kain juga relatif singkat. Sekilas tidak ada perbedaan, namun produk sutera lokal lebih lembut kainnya.
Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Wajo, Andi Ampa Passamula mengakui kondisi tersebut. Menurut dia mahalnya benang sutera lokal, karena daerah asal bahan baku seperti Enrekang dan Soppeng sudah tidak mampu menyuplai lagi. Sehingga, terjadi kelangkaan. Bahan baku sutera lokal ini menggunakan ulat peru. Ada juga ulat China.
Pengolahan bahan baku mulai dari bibit atau telur ulat sehingga bisa menghasilkan sutera yang sudah dipintal hanya bisa dijumpai di Kecamatan Sabbangparu, misalnya lingkungan Salojampu Kelurahan Sompe, Desa Mellusesalo Kelurahan Salotengnga Wajo Sulawesi Selatan.
Namun kondisi saat ini yaitu para pegusaha ulat tersebut sudah banyak yang gulung tikar. Lahan murbei yang luasnya puluhan hektar sudah dibabat habis dan mereka ramai-ramai beralih jadi petani kakao.
“Dulu hampir semua masyarakat di sini memelihara ulat, tapi banyak yang tidak berhasil, sebab bibit ulat peru yang dibeli dari Balai Persuteraan Alam (BPA) kualitasnya tidak bagus bahkan banyak yang rusak, sehingga masyarakat lebih memilih mencari pekerjaan lain, karena ongkosnya tidak sebanding dengan hasilnya. Kami berharap Pemkab menyuplai ulat China yang jauh lebih bagus kualitasnya, kendati harganya mahal” Ujar salah seorang petani di Wajo.
Saat ini, Dinas Kehutanan dan Perkebunan mulai mensubsidi telur ulat (bibit) kepada petani secara cuma-cuma, juga mensosialisasikan pembersihan ruang pemeliharaan telur. Malah sebelumnya Dishutbun hanya mampu menyuplai 6o box bibit, namun saat ini sudah mampu menyediakan 70 box bibit. Dalam 1 box, biasa menghasilkan sampai 5 kilogram benang.


Artikel Terkait



1 komentar:

Indra J Mae mengatakan...

ini artikel yg sy tulis di kabarkami.com. fotonya juga adalah hasil jepretan saya. jadi, sebaiknya lebih terhormat jika anda mencantumkan sumber artikel ini...

Posting Komentar