Kamis, 14 Maret 2013

Dangke, Keju Khas Satu-satunya Di Indonesia

Humanity | Indra J Mae

TNO-Enrekang, Keju merupakan salah satu makanan bernutrisi tinggi yang paling terkenal didunia dan menjadi bahan pangan utama di Eropa. Keju merupakan hasil produksi dari pengentalan susu murni dan diduga pertama kali ditemukan di timur tengah. Di Indonesia, Keju menjadi salah satu makanan pelengkap bergengsi untuk masyarakat menengah keatas.
Tahukah anda bahwa di Indonesia, satu-satunya daerah penghasil makanan seperti keju ini ada di Enrekang Sulawesi Selatan. Keju lokal ini merupakan makanan tradisional yang populer di masyarakat Sulsel dengan nama Dangke.  Makanan khas masyarakat Enrekang ini dibuat dengan menggunakan susu kerbau atau sapi sebagai bahan bakunya dan diolah melalui proses penggumpalan susu dengan bantuan enzim protease dari daun dan buah pepaya.
Prosesnya sederhana yaitu air susu sapi/kerbau disaring untuk memisahkan kotoran dengan susu sebelum dilakukan fermentasi. Air susu kemudian dimasak dengan suhu minimal 70 derajat Celsius, kemudian dicampur getah pepaya. Getah ini untuk memisahkan lemak, protein, dan air. Selain itu, getah pepaya berfungsi untuk memadatkan bahan susu. Setelah lemak, protein, dan air dipisahkan, barulah dilakukan proses mencetak. Alat yang digunakan untuk mencetak dangke juga menggunakan alat tradisional, yakni tempurung kelapa. Usai proses tersebut, Dangke yang berwarna keputihan dengan bentuk kerucut itu pun dibungkus daun pisang agar tahan lama.
Sampai saat ini, Dangke masih diproduksi oleh industri-industri kecil masyarakat setempat dengan cara tradisional. Kendati Dangke menjadi produk komoditi unggulan Kabupaten Enrekang dan cukup digemari namun pola produksi dan strategi pemasarannya belum memadai sama sekali. Dinas Pariwisata Enrekang mengakui bahwa produk Dangke ini sudah menyeberang ke negara Malaysia dan Jepang namun pengembangan produksinya masih berjalan dilevel industri kecil. Belum ada investasi besar yang meliriknya karena minim promosi dan belum menjadi skala perioritas.
Masalah utama penyebab tidak populernya makanan tradisional dangke adalah karena kurangnya sentuhan teknologi produksi dan pengemasan tata saji. Produk dangke akan memiliki nilai jual dan selera yang tinggi jika disajikan dengan cara yang lebih kontemporer melalui sentuhan teknologi dan tangan-tangan pemasak-pemasak handal.Selain itu, ketersediaan bahan baku yang berasal dari ternak sapi dan kerbau harus menjamin stok kebutuhan produksi dengan jaminan kualitas yang tinggi.
Kebijakan dan program jangka pendek yang diperlukan dalam mengembangkan makanan tradisional adalah menciptakan kondisi agar para konsumen lokal pulih kembali untuk mengkonsumsi makanan tradisional. Hal ini dapat ditempuh dengan penyuluhan pangan dan gizi, sosialisasi di warung makan lokal, Hotel dan restoran, Supermarket melalui tata saji, tata makan dan strategi promosi yang profesional. Penanganan ini tentunya bukan hanya pemerintah daerah Enrekang saja yang harus berjibaku namun perlu perhatian khusus dari pemerintah propinsi untuk mendukung pelestarian nilai-nilai pencitraan pariwisata dan industri masyarakat.
Sumber : Hasil penelitian Muh. Ridwan – www.damandiri.or.id
Enrekang info

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar