Jumat, 03 Maret 2017

BUPATI TANA TORAJA : JANGAN BIARKAN RAKYATKU MISKIN,BODOH,DAN SAKIT !!!

Makale-TNO, Setelah memimpin Pemerintahan di Bumi Lakipadada satu tahun, Lelaki yang piawai memainkan rangkaian kata-kata indah bak puisi kembali memberikan pernyataan yang sangat strategis. Saat ditemui di kediamannya, Nico berucap " Jangan biarkan rakyatku Lapar, Jangan biarkan rakyatku bodoh, Jangan biarkan rakyatku Sakit".

Ir Nicodemus Biringkanae
Ungkapan ini penuh makna, diantaranya dia tidak ingin rakyatnya  miskin, dia tidak ingin rakyatnya tidak berpendidikan, dan dia tidak ingin rakyatnya tidak sehat. Ungkapan itu menjawab situasi yang selama ini terjadi sekian lama di daerah ini. Lanjut Nico, dia juga mengajak masyarakat untuk merubah pola pikir dalam pembangunan. Ditekankan Nico, dia ingin mengubah pola pikir masyarakat yang selama ini hanya berpikir tentang pembangunan fisik saja, tetapi dalam pelaksanaan pembangunan yang diinginkannya adalah investasi dalam pembangunan.

Lanjut dijelaskannya, investasi pembangunan yang diterapkannya adalah untuk menjawab kendala-kendala yang dihadapi masyarakatnya. Dicontohkan, seperti di daerah yang jauh, ada sejumlah produksi hasil bumi yang akan dipasarkan, jelas membutuhkan transportasi yang memadai sehingga dapat mengurangi biaya produksi. Penghematan inilah yang dikatannya sebagai investasi. Bupati yang dilantik februari tahun lalu, sangat memahami kondisi masyarakt sampai wilayah terluar yang berbatasan dengan kabupaten tetangga. "Tidak ada lagi kata terisolir" ucap Nicodemus Biringkanae.(excl)
»»   Selengkapnya...

Jumat, 15 Maret 2013

Lahan Kritis Toraja Potensial Bencana

TNO-Toraja, Penyebaran Lahan Kritis di Kabupaten Tana Toraja hampir pada semua kawasan hutan baik hutan produksi maupun hutan lindung, Lahan Kritis terjadi pula pada lahan-lahan di luar kawasan hutan sehingga secara kumulatif akan berakibat pada semakin kritisnya kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS).

Luas lahan kritis (di dalam maupun di luar kawasan hutan) di Kabupaten Tana toraja sampai Tahun 2010 meliputi : kriteria sangat kritis 68.643 Ha, kritis mencapai 43.235 Ha, agak kritis seluas 16.707 Ha dan Tidak kritis seluas 79.919 Ha. lahan kritis tersebut sebagian besar tersebar di didalam kawasan hutan terutama pada Kawasan hutan Lindung yaitu seluas 43.885 Ha dengan tingkat kekritisan mulai dari Sangat Kritis (SK) sampai dengan Agak Kritis (AK), pada Kawasan hutan produksi terbatas lahan kritis seluas 13.115 Ha, sedangkan pada Areal penggunaan lain (APL) terdapat lahan kritis seluas 71.585 Ha dengan tingkat kekritisan Agak Kritis sampai Sangat Kritis. Sebagian besar lahan kritis yang ada di kabupaten Tana Toraja terdapat di Kecamatan Simbuang, Kecamatan Bonggakaradeng dan Kecamatan Masanda.

Berdasarkan Peta Penujukan Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan No.SK.434/KPTS-II/2009 Tanggal 23 Juli 2009. Alokasi penggunaan lahan dan kawasan hutan di Kabupaten Tana Toraja adalah sebagai berikut
,  Kawasan Hutan Lindung seluas 92.628 ha,  Kawasan Hutan Produksi Terbatas  seluas 20.175 ha, Kawasan Penggunaan Lainnya/APL (Perkebunan, Pertanian, Peternakan, Pertambangan, Pemukiman dan Industri, dll) seluas 95.447 ha.
Kawasan hutan tersebut terbagi dalam beberapa kelompok hutan antara lain : Kelompok Hutan  Buntu Massila/Buntu Karua (HL dan HPT), Kelompok Hutan Latimojong (HL), Kelompok Hutan Tumborera (HL), Kelompok Hutan Batualu (HPT), Kelompok Hutan Mapongka (HPT), Kelompok Hutan Ponean (HPT), Kelompok Hutan Buntu Gasing/Buntu Ambeso (HPT).(FMC)
»»   Selengkapnya...

Kamis, 14 Maret 2013

Dangke, Keju Khas Satu-satunya Di Indonesia

Humanity | Indra J Mae

TNO-Enrekang, Keju merupakan salah satu makanan bernutrisi tinggi yang paling terkenal didunia dan menjadi bahan pangan utama di Eropa. Keju merupakan hasil produksi dari pengentalan susu murni dan diduga pertama kali ditemukan di timur tengah. Di Indonesia, Keju menjadi salah satu makanan pelengkap bergengsi untuk masyarakat menengah keatas.
Tahukah anda bahwa di Indonesia, satu-satunya daerah penghasil makanan seperti keju ini ada di Enrekang Sulawesi Selatan. Keju lokal ini merupakan makanan tradisional yang populer di masyarakat Sulsel dengan nama Dangke.  Makanan khas masyarakat Enrekang ini dibuat dengan menggunakan susu kerbau atau sapi sebagai bahan bakunya dan diolah melalui proses penggumpalan susu dengan bantuan enzim protease dari daun dan buah pepaya.
Prosesnya sederhana yaitu air susu sapi/kerbau disaring untuk memisahkan kotoran dengan susu sebelum dilakukan fermentasi. Air susu kemudian dimasak dengan suhu minimal 70 derajat Celsius, kemudian dicampur getah pepaya. Getah ini untuk memisahkan lemak, protein, dan air. Selain itu, getah pepaya berfungsi untuk memadatkan bahan susu. Setelah lemak, protein, dan air dipisahkan, barulah dilakukan proses mencetak. Alat yang digunakan untuk mencetak dangke juga menggunakan alat tradisional, yakni tempurung kelapa. Usai proses tersebut, Dangke yang berwarna keputihan dengan bentuk kerucut itu pun dibungkus daun pisang agar tahan lama.
Sampai saat ini, Dangke masih diproduksi oleh industri-industri kecil masyarakat setempat dengan cara tradisional. Kendati Dangke menjadi produk komoditi unggulan Kabupaten Enrekang dan cukup digemari namun pola produksi dan strategi pemasarannya belum memadai sama sekali. Dinas Pariwisata Enrekang mengakui bahwa produk Dangke ini sudah menyeberang ke negara Malaysia dan Jepang namun pengembangan produksinya masih berjalan dilevel industri kecil. Belum ada investasi besar yang meliriknya karena minim promosi dan belum menjadi skala perioritas.
Masalah utama penyebab tidak populernya makanan tradisional dangke adalah karena kurangnya sentuhan teknologi produksi dan pengemasan tata saji. Produk dangke akan memiliki nilai jual dan selera yang tinggi jika disajikan dengan cara yang lebih kontemporer melalui sentuhan teknologi dan tangan-tangan pemasak-pemasak handal.Selain itu, ketersediaan bahan baku yang berasal dari ternak sapi dan kerbau harus menjamin stok kebutuhan produksi dengan jaminan kualitas yang tinggi.
Kebijakan dan program jangka pendek yang diperlukan dalam mengembangkan makanan tradisional adalah menciptakan kondisi agar para konsumen lokal pulih kembali untuk mengkonsumsi makanan tradisional. Hal ini dapat ditempuh dengan penyuluhan pangan dan gizi, sosialisasi di warung makan lokal, Hotel dan restoran, Supermarket melalui tata saji, tata makan dan strategi promosi yang profesional. Penanganan ini tentunya bukan hanya pemerintah daerah Enrekang saja yang harus berjibaku namun perlu perhatian khusus dari pemerintah propinsi untuk mendukung pelestarian nilai-nilai pencitraan pariwisata dan industri masyarakat.
Sumber : Hasil penelitian Muh. Ridwan – www.damandiri.or.id
Enrekang info
»»   Selengkapnya...

Sutra Lokal sulawesi Selatan Punah?

TNO-Sul-Sel, Budi daya sutera alam telah dikenal sejak tahun 1950-an di Sulawesi Selatan dan sampai sekarang masih digeluti oleh sebagian masyarakat pedesaan. Menurut Balai Persuteraan Alam,terdapat 3.214 kepala keluarga yang menggeluti usaha tani murbei dan kokon, dengan luas areal tanaman murbei 1.713 hektar yang tersebar di 11 kabupaten.
Sampai saat ini produksi benang sutera lokal Sulawesi Selatan masih merupakan yang terbesar di Indonesia dengan produksi 54,53 ton dari 64,02 ton produksi nasional atau 86% (Departemen Kehutanan, 2008) namun ironis dengan kondisi yang terjadi di lapangan ketika produksi bahan lokal mulai mengalami penurunan akibat gencarnya impor bahan dari negara lain.
Selembar kain sutera menggunakan dua jenis benang yaitu benang lungsi dan benang pakan. Umumnya, pengrajin sutera Sengkang mengimpor benang lungsi dari Hongkong. Benang sutera lokal sekarang sudah jarang dijumpai, harganya sangat mahal dengan keuntungan tidak sebanding.
Untuk benang pakan, para pengrajin sutera sudah menggunakan benang lokal yang berasal dari Soppeng atau Enrekang. Di peternakan kokon, bayi ulat sutera dipelihara di atas bale-bale beralas daun murbei yang merupakan makanan ulat. Setelah kenyang, ulat akan diam dan siap mengeluarkan liur hingga ulat menjadi kepompong. Bentuknya seperti telur puyuh, berwarna putih dan lembut yang disebut kokon. Kokon inilah yang dipintal menjadi benang sutera dan selanjutnya akan menjadi kain sutera.
dalam perjalanannya sejak 1950-an, perkembangan industri persuteraan alam beberapa tahun belakangan ini mengalami kemorosotan akibat kelangkaan bahan baku sutera lokal (sutera asli). Akibatnya, para pengrajin harus beralih menggunakan benang sutera India. Selain harganya yang cukup murah juga proses pengelolaan sampai menghasilkan kain juga relatif singkat. Sekilas tidak ada perbedaan, namun produk sutera lokal lebih lembut kainnya.
Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Wajo, Andi Ampa Passamula mengakui kondisi tersebut. Menurut dia mahalnya benang sutera lokal, karena daerah asal bahan baku seperti Enrekang dan Soppeng sudah tidak mampu menyuplai lagi. Sehingga, terjadi kelangkaan. Bahan baku sutera lokal ini menggunakan ulat peru. Ada juga ulat China.
Pengolahan bahan baku mulai dari bibit atau telur ulat sehingga bisa menghasilkan sutera yang sudah dipintal hanya bisa dijumpai di Kecamatan Sabbangparu, misalnya lingkungan Salojampu Kelurahan Sompe, Desa Mellusesalo Kelurahan Salotengnga Wajo Sulawesi Selatan.
Namun kondisi saat ini yaitu para pegusaha ulat tersebut sudah banyak yang gulung tikar. Lahan murbei yang luasnya puluhan hektar sudah dibabat habis dan mereka ramai-ramai beralih jadi petani kakao.
“Dulu hampir semua masyarakat di sini memelihara ulat, tapi banyak yang tidak berhasil, sebab bibit ulat peru yang dibeli dari Balai Persuteraan Alam (BPA) kualitasnya tidak bagus bahkan banyak yang rusak, sehingga masyarakat lebih memilih mencari pekerjaan lain, karena ongkosnya tidak sebanding dengan hasilnya. Kami berharap Pemkab menyuplai ulat China yang jauh lebih bagus kualitasnya, kendati harganya mahal” Ujar salah seorang petani di Wajo.
Saat ini, Dinas Kehutanan dan Perkebunan mulai mensubsidi telur ulat (bibit) kepada petani secara cuma-cuma, juga mensosialisasikan pembersihan ruang pemeliharaan telur. Malah sebelumnya Dishutbun hanya mampu menyuplai 6o box bibit, namun saat ini sudah mampu menyediakan 70 box bibit. Dalam 1 box, biasa menghasilkan sampai 5 kilogram benang.


»»   Selengkapnya...

Kopi Enrekang Lebih Mahal Dari Kopi Luwak?

TNO-Enrekang, Kopi kalosi Dp (Arabika tipika) merupakan salah satu jenis kopi terbaik yang dihasilkan dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Tak heran jika kopi ini sangat digemari masyarakat dunia, khususnya Benua Eropa dan Amerika. Harganyapun selangit, untuk satu kilogram kopi kalosi mencapai 180 dollar atau setara dengan Rp180 ribu per kilogram jika kurs dollar yang berlaku Rp10 ribu per dolar. Sedangkan harga kopi biasa hanya Rp9.300 per kilogram.
Kondisi Kabupaten Enrekang dengan ketinggian hingga 2.000 meter di atas permukaan laut (dpl) ini memang sangat memungkinkan tumbuhnya tanaman perkebunan dan sayuran yang subur. Salah satu tanaman perkebunan di daerah ini yang terkenal hingga Benua Eropa dan Amerika yaitu Kopi. Jenis tanaman ini, hanya bisa tumbuh di dataran tinggi, seperti halnya di Kabupaten Enrekang.
Pengembangan kalosi DP dilakukan sebagai ikon dan brand mark Kabupaten Enrekang. Sayangnya, menurut Bupati Enrekang, H La Tinro Latunrung, tanaman kopi ini hampir punah. Pohon kopi istimewa ini kini tersisa beberapa pohon saja. “Rata-rata setiap rumah tangga tersisa satu hingga dua pohon saja,” ungkap La Tinro. Semakin berkurangnya pohon kopi ini membuat bupati merasa prihatin. “Jika ini (kopi kalosi Dp,-red) tak diatasi, saya yakin kopi kalosi akan punah dan hanya menjadi kenangan masa lalu,” katanya di Pendopo rumah jabatan Bupati, beberapa waktu lalu.
Berawal dari keprihatinan itulah, diapun berupaya mengembalikan kejayaan kopi kalosi dp ini melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan terkemuka di Sulsel, Universitas Hasanuddin (Unhas). Kerjasama ini dilakukan untuk pemurnian kopi arabika tipika atau lebih dikenal, kopi Kalosi Dp. Upaya ini terus dilakukan di tengah keprihatinan akan semakin punahnya pohon kopi jenis ini. Bahkan, tak tanggung-tanggung, Bupati Enrekang, H Latinro La Tunrung langsung menginstruksikan jajarannya menyiapkan lahan 30 hektare untuk pembibitan Kopi Kalosi.
Pemerintah Kabupaten Enrekang benar-benar serius ingin mengembalikan citra Kopi Kalosi, sebagai kopi terbaik yang ada di dunia. La Tinro mengungkapkan, semakin punahnya kopi kalosi dp akibat produksinya yang sangat rendah. Produksi kopi kalosi hanya mampu memproduksi 300-500 kg per hektre. Sementara kopi biasa mampu memproduksi 2 ton per hektare. Perbedaan jumlah proksi inilah yang membuat masyarakat lebih memilih membudidayakan kopi biasa.
Namun dia tidak berputus asa dan pesimis. Sebagai bupati dengan latar belakang pengusaha, justru membuatnya tertantang mengatasi masalah ini. Ayah empat anak ini yakin, nilai ekonomi yang tinggi dari jenis tanaman ini justru akan mengangkat perekonomian masyarakat sekaligus mengangkat citra Enrekang khususnya dan Indonesia di mata dunia.
Hal senada dikatakan Kepala bidang Perkebunan, Dinas Pertanian dan Perkebunan kabupaten Enrekang, UmarSappe.
“Harga di pasaran dunia, untuk kopi kalosi DP sebesar 180 dolar per kilogram, sementara kopi arabika biasa hanya Rp9.300,” ungkapnya. Untuk itu, lanjutnya, Dinas pertanian dan perkebunan Enrekang terus berupaya melakukan pembenahan dan pengembangan kopi kalosi Dp. “Beberapa daerah kita akan jadikan sebagai tempat pengembangan kopi arabika tipika (kalosi Dp-red), seperti di Nating, Bone-bone, Masalle, Buntumondong dan Bungin,” katanya. Dia menambahkan, sesuai instruksi bupati, pihaknya telah menyiapkan lahan seluas 30 hektare di Desa Sawitto Kecamatan Bungin untuk pemurnian dan membuat sumber benih. “Hasilnya nanti akan menjadi sumber benih kopi arabika tipika (kalosi) yang sudah hampir punah. ( Arizal Alamsyah, Sumber Foto : enrekang.com)
»»   Selengkapnya...

Jumat, 06 Juli 2012

Adik Syahrul Tinggalkan Kapal Induk

Irman Yasin Limpo
TNO-MAKASSAR, Adik kandung Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Irman Yasin Limpo (akrab disapa None), mengaku tidak ikut campur lagi dengan tim pemenangan kakaknya itu, pada Pilgub Sulsel 2013. Tim pemenangan Syahrul diberi nama Kapal Induk.

Pilihan None untuk tidak terlibat di Kapal Induk, mengingat posisinya sebagai Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel. Master campaign Syahrul pada Pilgub Sulsel 2008 lalu itu, menyatakan akan netral karena statsunya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

"Kita tidak ada istilah tim keluarga. Kayaknya, Kapal Induk sudah terbentuk di 24 kabupaten, saya juga kurang tahu karena saya tidak di Kapal Induk sekarang. Saya ini PNS, saya di rumah saja," kata None saat bincang-bincang dengan wartawan di kantor DPRD Sulsel, Makassar, Jumat (6/7/12).

Meskipun mengaku lepas tangan dengan Kapal Induk, None akan tetap berupaya memenangkan Syahrul atas pribadi dan keluarganya, bukan sebagai PNS.

"Tapi kan saya punya hak suara jadi saya bisa memilih. Saya selaku PNS tentu tidak boleh bilang, eh, Anda Pak Syahrul ini, nah. Jadi saya di rumah saja tapi jangan kamu tulis lagi itu (Rumah Rakyat)," kata None kepada wartawan sambil tertawa.

None kaget mendengar pertanyaan wartawan jika rumah yang dimaksudkan None adalah Rumah Rakyat (nama tim pemenangan Ilham-Aziz), " rumah rakyat ya?" tanya wartawan kepada None," ha ha jangan, jangan sampai kau tulis itu, bukan itu," elak None lagi-lagi dengan penuh tawa.

Penulis : Ilham
Editor : Imam Wahyud
posting : TRIBNTIMUR.COM
»»   Selengkapnya...

Kamis, 05 Juli 2012

-Tingkatkan Kualitas Penyelenggaraan Pemda, Peran Riset Sangat Strategis-

Editor:KTC02, OLeh: Ophir Sumule (Dewan Redaksi kabar-toraja.com)
Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulawesi Selatan.
KABAR-TORAJA.COM-
Makasssar-
Untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan Pemerintah Daerah, peran riset sangat strategis sebagai bagian terpenting dalam pengambilan kebijakan di berbagai sektor terutama dalam pemanfaatan sumber daya yang ada.
Hal ini diungkapkan oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, saat membuka Rapat Kordinasi Nasional Litbang Pemerintah dalam dalam Negeri, Selasa (03/07/2012) di Hotel Crarion Makassar.
Kegiatatn yang diikuti sekitar 200 lebih peserta dari berbagai unit kelitbangan tingkat provinsi dan kabupaten/kota se Indonesia yang dipilih secara khusus mengangkat tema “Pemantapan Kebijakan Dalam Penguatan Program Kelitbangan untuk Meningkatkan Kualitas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah”.
Menurut SYL, Rakornas ini pada hakekatnya bertujuan untuk memperbaiki kebijakan daerah sehingga melahirkan system pemerintahan yang berpihak untuk melayani kepentingan rakyat bukan kepentingan diri sendiri. Dan pemerintahan yang memberi ruang yang cukup dan kondusif bagi dunia usaha serta pemerintahan yang taat pada peraturan yang ada.
Untuk menghadirkan pemerintahan yang baik, lanjut SYL, perlu paradigma baru peran strategis kegiatan riset.
“Di Sulsel, misalnya, Balitbangda didukung 148 pakar dan memberi kontribusi terhadap berbagai prestasi spektakuler yang dicapai Sulsel selama 4 tahun terakhir” terang SYL seraya menyebut penghargaan nasional yang telah diterima termasuk WTP dari BPK 2 tahun berturut-turut dengan klasifikasi Clear dan Clean.
Menurutnya, melalui penlitian, maka kebijkan senilai 78 M akan menghasilkan 3,4 T untuk jagung, dan 100 M menjadi 1.081 T untuk rumput laut.
“Kami membutuhkan banyak riset, diantaranya riset agar bersat tidak mudah pecah dan dapat disimpan lama, dari biasanya 3 bulan menjadi lebih dari 6 bulan sehingga harga tidak turun” tambah Syahrul.
Rapat koordinasi ini akan berlangsung hingga 5 Juli 2012 dan diisi dengan berbagai pemaparan dari Kementrian Riset dan Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dan Internal Kemendagri serta diskusi.
Di hari terkahir, peserta akan melakukan kunjungan lapangang ke Malino dan akan berdialog dengan Menteri Riset dan Teknologi.
»»   Selengkapnya...

Sabtu, 30 Juni 2012

Menteri Kehutanan ajak masyarakat giat tanam pohon


Sabtu, 30 Juni 2012 20:23 WIB |
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan (FOTO ANTARA)
saat ini penebangan hutan di Indonesia mencapai 450.000 pohon per tahun sehingga membutuhkan penghijauan kembali atau reboisasi."
Sukadana (ANTARA News) - Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengajak masyarakat untuk terus menggiatkan diri dalam penanaman pohon guna meminimalisasi terjadinya bencana akibat kerusakan alam, sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka.

Saat menghadiri kegiatan penanaman satu juta pohon di Kawasan Danau Beringin Indah Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung, Sabtu, Menhut mengatakan, saat ini penebangan hutan di Indonesia mencapai 450.000 pohon per tahun sehingga membutuhkan penghijauan kembali atau reboisasi

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Timur itu, ia menerangkan, sebelum tahun 2008 penebangan hutan mencapai dua juta hektare pohon, kemudian pada tahun 2009 mencapai 3,5 juta hektare, sedangkan saat ini sudah turun menjadi 450.000 hektare per tahun.

Ia mengatakan akan terus melakukan gerakan menanam dan terus menanam bagi penduduk di seluruh Indonesia. Dengan menanam pohon, masyarakat juga akan merasakan hasil dan manfaatnya atau nilai ekonomis dari tanaman tersebut.

Ia mencontohkan, seperti halnya areal hutan di Lampung Timur, sebanyak 30 persen merupakan hutan Taman Nasional Way Kambas dan saat ini masih kerap menjadi sasaran penebangan liar sehingga habitat satwa liar terus terancam.

Dampaknya, kata dia banyak terjadi konflik antara satwa liar dengan manusia akibat habitatnya terusik dan terus berkurang akibat pengerusakan oleh masyarakat yang menggantinya menjadi pemukiman atau lahan pertanian.

Pria kelahiran Lampung itu kembali mengulas dan mengapresiasi atas keberhasilan seekor Badak Sumatera bercula dua yang melahirkan anak di Suaka Rhino Sumatera (SRS) TNWK Lampung Timur sepekan lalu yang diberi nama "Andatu".

"Kelahiran ini merupakan keberhasilan pertama sejak upaya konservasi pengembangan 124 tahun silam," ulas dia.

Selain menanam pohon secara simbolis, Menhut bersama sejumlah pejabat setempat juga menebar benih ikan nila di Danau Beringin Indah, Sukadana agar dapat menjadi tumpuan pendapat masyarakat setempat sekaligus sebagai upaya menjaga kelestarian alam.


posting : (antaranews.com)
Sabtu, 30 Juni 2012 20:23 WIB |
»»   Selengkapnya...

Selasa, 19 Juni 2012

Toraja Utara Perlu Sentuhan Teknologi Modern

»»   Selengkapnya...

Minggu, 02 Oktober 2011

Eksport Perdana Buncis Toraja ke Singapura

Jika tidak ada aral melintang, pada 19 Oktober mendatang, Kabupaten Tana Toraja akan melakukan ekspor perdana komoditas sayur mayur, berupa buncis ke negeri Singapura.

Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung, SE, mengatakan bahwa untuk ekspor perdana ini Pemkab Tana Toraja akan mengekspor sebanyak 2 ton sayur mayur berupa buncis.

"dari 24 kabupaten/kota di Sulsel, buncis asal Tana Toraja paling diminati Singapura." Kata Theofilus.

Kandungan Pestisida dari Buncis Tana Toraja sangat rendah, dan sudah memenuhi syarat ekspor ke Singapura. Oleh karenya Pemkab Tana Toraja akan terus mengptimalkan budi daya sayuran organik di tingkat petani agar peluang pasar ekspor ke Singapura tetap terjaga.

Theofilus menambahkan "Pemkab Tana Toraja berencana akan memberikan pelatihan kepada petani, bagaimana cara menjaga mutu yang harus dipenuhi agar budi daya sayuran bisa diekspor. Demikian juga dengan sosialisasi penggunaan pupuk organik, diharapkan agar petani tidak lagi menggunakan pestisida" (posting dr Toraja Update)
»»   Selengkapnya...