Kamis, 20 Maret 2014

Gubernur Sulsel Naik Busway

MAKASSAR,TRIBUN-TIMUR.COM -Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo uji pelayanan Bus Rapit Transit (BRT). Syahrul bersama sejumlah pejabat lingkup pemprov dan Dishub Sulsel memantau pelayanan dan keinginan masyarakat terhadap penggunaan busway, Kamis (20/3/2014).

Gubernur Sulsel Naik Busway
TRIBUN TIMUR/MAHYUDDIN
Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo uji pelayanan Bus Rapit Transit (BRT). Syahrul bersama sejumlah pejabat lingkup pemprov dan Dishub Sulsel memantau pelayanan dan keinginan masyarakat terhadap penggunaan busway, Kamis (20/3/2014). 

Syahrul meminta agar pihak Damri intens mensosialisasikan jadwal bus sehingga masyarakat tahu penggunaannya. Selain itu, Syahrul juga memantau penggunaan busa urai kemacetan dan tidak jad penyebab macet.

"Ini masih uji coba. Ke depan semuanya akan dilengkapi," ungkap Syahrul

Sementara itu, General Manager Damri, Adrian menjelaskan, pihaknya akan melaporkan kekurangan dan melengkapi kebutuhan BRT sehingga pelayanan bisa maksimal. (*)
»»   Selengkapnya...

Jumat, 31 Januari 2014

Rombongan Pangdam VII/Wirabuana Mengecek Lokasi Rencana Kunjungan Presiden

Wabup FB Rombelayuk bersama Pangdam VII/Wrb
Rantepao, (31/1) Hari ini, masyarakat Tana Toraja dan Toraja Utara sementara berbenah diri dan lingkungan sekitar menghadapi rencana kunjungan orang nomor satu di Republik ini. Rencana kunjungan Prsiden RI dalam waktu dekat semakin menguat dengan datangnya Pangdam VII/Wrb dan rombongan di daerah ini. salah satu yang dikunjungi tadi siang, Tongkonan Batu di Randan Batu Toraja Utara, dimana sedang disemayamkan Jasad Kassa' Ranteallo (almarhum) yang juga Tokoh Masyarakat Toraja dan Prosesi Pemakamannya akan dihadiri Presiden RI.

Foto Bersama Keluarga Alm. Kassa' Ranteallo
Mendampingi rombongan Pangdam, tampak Kapolres Tator, AKBP. Yuliar Kus Nugroho, Dandim 1414/Tator, Letkol Inf. Erwin Ferdinand B, Bupati dan Wakil Bupati Toraja Utara. Saat ditemui TNO, Kapolres Tator mengungkapkan harapannya kepada seluruh elemen masyarakat untuk dapat mencipatakan kondisi yang aman,tenang dan damai dalam rangka kunjungan RI 1. Dikatakannya,"Saya harap semua dapat menciptakan kondisi yang baik, karena Kunjungan Presiden nantinya akan menjadi kebanggan kita semua".

Salah seorang kerabat almarhum yang dikunjungi Pangdam, mengungkapkan rasa syukur dan penghormatan yang mendalam atas rencana kunjungan Presiden di Daerah ini dan khususnya di Tongkonan Batu dalam rangka Prosesi Pemakaman Alm. Kassa Ranteallo, seorang Tokoh Masyarakat Toraja yang sangat kental hubungan sosial kemasyarakatannya dan pernah menduduki beberapa jabtan, baik dalam kemasyarakatan dan Pemerintahan.(r1an)

»»   Selengkapnya...

Sabtu, 20 Juli 2013

Longsor Kembali Menimbun Mobil dan Pengendaranya Di Tana Toraja

Tana Toraja (TNO), Jumat(19/7) terjadi bencana longsor di Kecamatan Rembon, dimana 2 mobil tertimbun tanah longsor. Korban Siten (58) masih dicari keberadaannya. Sementara Bahar yang bermaksud membantu menarik mobil yang tertimbun menggunakan mobil dinas Pemkab Tana Toraja ikut tertimbun, beruntung masih bisa diselamatkan cuma mengalami luka ringan di bagian tangannya, saat ini masih dirawat di RSUD Lakipadada Makale. Beberapa orang anggota Pasukan Siaga Bencana (PSB) juga ikut membantu pencarian korban.

ilustrasi
Dandim Tator,Letkol (Inf) Erwin Ferdinand yang baru menjawab langsung merespon dengan menurunkan pasukannya membantu di lokasi longsor. Bahkan terjadi pula bencana longsong di Kecamatan Sangalla' Selatan, dimana kurang lebih 7 rumah rusak akibat tanah longsor beruntung tidak menyebabkan korban jiwa.

Saat dikonfirmasi, Dandim Tator membenarkan adanya bencana Tana longsor di Kecamatan Rembon dan Sangalla' Selatan, dikatakannya " Aggota kita sudah di lokasi untuk membantu masyarakat dan korban akibat longsor ini".(fer)
»»   Selengkapnya...

Minggu, 17 Maret 2013

Alat pengolah Makanan Dalam Pelayaran Tradisional Pelaut Sulsel

TNO-Sulsel, Gelar pelaut ulung yang melekat di leluhur masyarakat Bugis Makassar sampai saat ini masih terbukti melihat dari rekam jejak sejarah para pelaut masa lampau di Pulau Bonerate, sebuah gugusan pulau kecil paling terluar di semenanjung Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan. Masyarakat pelaut yang berada di pulau ini terkenal dengan kepiawaian dan kemahirannya mendesain rancang bangun beraneka ragam perahu berukuran variatif berdasarkan selera asal pemesannya. Salah satu perahu ternama asal Pulau Bonerate yang pernah dikenal mengarungi bahtera nusantara negeri ini adalah,  “Perahu Lambo”. Perahu tradisional yang penamaannya pun, kini nyaris tak lagi pernah disebut-sebut. Beberapa literatur menyebutkan, Pada masa lampau, nelayan Pulau Bonerate tercatat sebagai kelompok pelaut yang tergolong tangguh di dalam membelah samudera laut luas dengan hanya mengandalkan perahu kayu dengan fasilitas layar seadanya ini.
Penggilingan jagung Pulau BonerateKota Surabaya menjadi salah satu daerah yang paling banyak dijejali oleh para pelaut asal pulau terluar di Kabupaten Kepulauan Selayar ini terutama, disaat mereka akan berbelanja barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari. Harga kebutuhan pokok di Kota Surabaya, jauh lebih terjangkau ketimbang harga kebutuhan pokok di Ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar sendiri. Tak heran, bila warga masyarakat Pulau Bonerate lebih memilih untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari mereka di ibukota Jawa Timur itu. Untuk sampai kesana, mereka harus menghabiskan waktu selama kurang lebih dua puluh satu hari menempuh samudera. Dalam pelayaran panjang itu, mereka memenuhi kebutuhan konsumsi mereka dengan membawa perbekalan makanan berupa jagung bersama alat pengolah makanan tradisional yaitu Penggiling jagung.
Gilingan jagung itu dipasang secara permanen di atas kapal untuk memudahkan proses pembuatan nasi jagung dan menghemat biaya selama dalam perjalanan laut sampai mereka tiba dengan selamat di kota tujuan. Setidaknya terdapat ratusan unit kapal dan perahu tradisional Pulau Bonerate yang dilengkapi dengan alat giling jagung berbahan baku batu dan seng. Uniknya, penggilingan itu diikatkan pada salah satu tiang kapal untuk menghindari alat terlempar saat badai gelombang memukul lambung kapal atau perahu yang hanya mengandalkan layar tanpa bantuan mesin sama sekali. Sampai saat ini, penggunaan alat giling jagung tradisional masih digunakan sebagian warga masyarakat setempat ketika melakukan pelayaran panjang. (reporta: Fadly Syarif / editor: Indra J mae)

»»   Selengkapnya...