Upaya pemerintah nampaknya tak henti-hentinya dalam meningkatkan
kualitas pendidikan.Ebtanas/Unas yang sekarang diganti istilah UN
(ujian nasional) sebagai salah satu alat ukur keberhasilan pendidikan
nasional nampaknya perlu mendapatkan penjagaan sangat ketat mulai dari
pembuatan soal,pengetikan,penggandaan sampai dengan distribusi.
Belajar dari tahun ajaran terdahulu kalau mau jujur sebenarnya dari SMS
yang beredar malam hari sebelum pelaksanaan UN sangatlah mudah
menentukan bocor tidaknya naskah UN, tapi nampaknya banyak pihak tidak
berani resiko, karena jika benar-benar dibuktikan ada jawaban yang
kebenarannya mendekati 100% dan tanggal dan jam SMS terjadi sebelum
pelaksanaan Unas maka secara logika itu berarti soal UN bocor dan
resikonya harus mengulang dengan biaya tinggi.Rekaman data sirkulasi
pengiriman SMS tentunya masih bisa di buka ulang melalui provider
masing-masing operator telepun seluler.
Terus sampai kapan ketidak jujuran pendidikan ini di jalankan. Karena
sekolah menerima siswa atau mahasiswa hanya berdasar nilai UN maka
nilai UN harusnya akurat mencerminkan kompetensi seorang siswa,namun
faktanya tidak jarang di temukan sejumlah siswa adalah dari siswa yang
tidak layak, di temukan beberapa siswa yg pengetahuan dasar
berhitungnya sangat lemah tapi nilai UN matematikanya mendekati nilai
sempurna 10 bahkan ada yang sempurna 10. Ditunjang dengan sistem
penilaian di sekolah yang mengacu pada pemberian remidi secara terus
menerus sampai siswa mencapai nilai KKM (Kriteriaketuntasan minimal)
yang ditetapkan sekolah, maka biasanya guru praktis tidak memberi
remidi berlebihan karena sangat membebani tugas guru dan secara praktis
siapapun siswanya,seminim apapun niat dan kemampuanya menjadi tidak
pernah diperhitungkan selemah apapun kondisi siswa nilai minimalnya
tetap KKM. Bahkan beberapa sekolah supaya kelihatan punya kualitas yang
baik mematok nilai KKM 85, itulah sebuah kondisi sinergi yang
melemahkan pendidikan.Kalimat yang paling ekstrim adalah
Pendidik-pendidik yang tidak jujur tidak akan pernah melahirkan
generasi yang jujur.
Upaya pemerintah mengangkat kualitas UN dengan membuat 20 variasimodel
soal berbeda harusnya di sambut oleh kejujuran sekolah,tapi sayang
banyak sekolah dalam keseharian tidak menjalankan pembelajaran dengan
baik,maka ketika UN di kumandangkan maka kepanikan luar biasa akan
terjadi pada siswa, guru dan kepala sekolah. Hal ini sangatlah berbeda
dengan sekolah favorit yang terbiasa disiplin. Pembelajaran yang
optimal dalam keseharian mengakibatkan banyak terjadi tranfer ilmu dari
guru ke siswa. Keadaan pendisiplinan belajar inilah yang mengakibatkan
ketika UN di kumandangkan sekolah-sekolah tersebut tidak pernah panik.
Sungguh sangat berbeda dengan sekolah yang amburadul yang biasa
ditunjukan dengan tak terkontrolnya siswa bolos tak terkontrol ke
ajegan guru mengajar di kelas,tak terkontrol kompetensiguru. Sekolah
yang amburadul biasanya gurunya mati-matian berusaha membantu siswa
dengan segala cara curang. Guru pemalas memandang tindakan membantu
curang siswa dalam UN adalah tindakan mulia. Menjadi sangat mengerikan
jika jumlah sekolah yang amburadul jauh lebih banyak dibanding sekolah
yang ideal.
Kalau sistem UN yang baru ini berjalan sesuai program dan kecurangan
pelaksanaan UN bisa di limitkan dan grade nilai ditiadakan
secaraumummaka dapat di prediksi jika nanti harus ada ujian ulang
masal, karena sebagian besar hasil UN di bawah standar,dan ini bukan
salah pak Menteri Pendidikan karena ini adalah akumulasi dari kualitas
pendidikan beberapa tahun sebelumnya yang selalu bangga dengan lulus
100% walau harus menanggalkan kejujuran. Jika betul ada her masal
sebuah langkah cerdas adalah tetap membedakan anak yang lulus langsung
dan anak yang lulus dari ujian ulang, sebuah konsep yang sangat lemah
dan tidak bijak jika nilai hasil her (ujian ulang) melebihi nilai anak
yang lulus tanpa ujian ulang. Alternatif lain adalah menyerahkan
sepenuhnya kelulusan siswa pada menegemen sekolah
masing-masing,sedangkan nilai murni UN hanya dokumen pelengkap,
sehingga jika seorang anak nilainya UN redah maka masih bisa lulus
sekolah dengan langkah ini ujian ulang masal bisa di hindari.Hal ini
masih sangat mungkin karena masyarakat dunia usaha akan menyeleksi
kualitas seseorang minimalnya dari 3 unsur yakni: 1.Nilai dari sekolah
ijasah/raport 2.Nilai Unas/UN 3.Kecakapan/kompetensi individu yang bisa
diketahui melalui tes langsung.
Beberapa catatan langkah-langkah yang berindikasi curang yang biasa
dilakukan beberapa sekolah menjelang ebtanas/unas tahun-tahun terdahulu
seperti dibawah ini:
a.Menghimpun no HP siswa untuk tujuan komunikasi dengan siswa,bisa
perwakilan di tiap ruang atau seluruhnya.sekolah yang demikian ini
biasanya siswa di biarkan membawa HP masuk ruang UN.
b.Mengkondisi tempat duduk lebih mampat dan sudah diatur anak yang
lebih pandai di kelilingi anak yang kurang untuk tujuan siswa bisa
saling contoh secara alami.
c.Untuk menulis jawaban yang didapat malam hari ketika dengan 5 model
soal siswa hanya butuh 3 cm x 5 cm kertas.dengan 20 model soal berarti
siswa hanya butuh kertas seluas 12x 5 cm.Jikabenar-benarkodesoal di
menggunakanbarkut maka distribusi bocoran jawab akan sulit jika dg sms,
diprediksi lebih banyak menggunakan Foto copy atau scaner dan didalam
ruang UN akan semarak banyak kertas-kertas repekan (kertas jawab untuk
curang).
d.Kepala sekolah dalam pertemuan sub rayon secara langsung atau tidak
biasanya mengarahkan atau mengharapkan guru mengawas seperti anaknya
sendiri, ini biasanya bergeser menjadi anjuran yang agak memaksa,
karena faktanya ada guru yang berseberangan dan nyatanya tahun ajaran
berikutnya tidak di beri jam mengajar.
e.Kecurangan dengan cara sengaja menetapkan pola pembagian soal
sehingga anak tertentu akan mendapat soal tertentu sesuai pola yang
direncanakan.
f.Petugas TIM Independen pengawasan UN sangat heterogen ,kurang
profesional dan kurang bisa diharapkan fungsinya,terkondilsi terlalu
dekat dengan managemen sekolah yang berimbas ewuh-pakewuh
berlebihansehingga dalam tugasnya memantau pelaksanaan UN kurang
optimal dan kurang objektif.
Upaya curang dari banyak pihak di tingkat manapun untuk lulus 100%
sebenarnya hanya karena tertanamnya paradigma lama, karena pucuk
pimpinan hanya melihat keberhasilan pengelolaan pendidikan dengan
indikator kelulusan 100% dan sebaliknya jarang melihat keberhasilan
dari proses pendidikan dan ini adalah bentuk paradigma yang salah
mutlak, oleh karena itu dilapangan, kepala sekolah mati-matian harus
mempertahankan siswanya lulus 100% dengan cara apapun karena
pertanggung jawabanya pada managemen Dinas Pendidikan kota dan karena
Dinas Penndidikan harus mempertanggung jawabkan keberhasilanya pada
bupati atau wali kota, dan seterusnya sampai pada tingkat Propinsi,
menteri, pemerintah,dan juga masyarakat punya kebiasaan harapan lulus
100%.Apa artinya lulus 100% jika faktanya kompetensi siswa masih lemah
dan kerusakan moral di masyarakat semakin nyata baik dari kuantitas
maupun kualitasnya.Paradigma baru mengharapkan pendidikan yang rasional
profesional dapat meluluskan siswa yang memiliki kompetensi optimal
nyata dengan mengedepankan kejujuran proses. Sudah saatnya semua
permasalahan pendidikan dan khususnya pro kontra tentang kebocoran soal
UN harus di selesaikan dengan hati yang jujur tanpa mengedepankan
kepentingan pribadi atau melindungi jabatan.
Konsep baru UN di kawal dengan peraturan-peraturan yang mengikat semua
pihak untuk takut curang karena adanya ancaman sampai di pidanakan,
InsyaAllah pelaksanaan UN tahun ajaran sekarang 2012-2013 ini tidak
sia-sia membuang dana tanpa bisa memilah kualitas generasi prestasi
.Kita semua harus siap malu jika dengan konsep pelaksanaan UN yang rapi
dan terkontrol di tahun ajaran 2012-2013 ini ternyata hasilnya banyak
siswa yang nilainya di bawah standar itulah kondisi nyata yang harus
kita terima salah satu penyebabnya adalah saking lamanya kita semua
terbuai dengan kepalsuan.ini awal untuk introspeksi diri untuk
kedepanya berbenah diri untuk kebaikan pendidikan yang menjadi tulang
punggung pembangunan negara dan bangsa.
Hadiah 1 Milliar untuk yang menemukan pelanggaran UN hanyalah sebuah
wacana dan angan-angan karena melihat betapa pentingnya pelaksanaan UN
dengan jujur karena dengan kejujuran dapat memilah mengklasifikasi
anak-anak yang berbakat untuk mengembangkan negeri ini. bukanlah
sesuatu harus diserahkan pada ahlinya ?,maka melindungi anak cerdas dan
mengarahkansesuaibakatnya adalah sangat mulia dibanding guru pemalas
yang dalam keseharian malas mengajar
danbiasanyalebihsenangmenjadipahlawankesiangan mermembantu kecurangan,
tindakan itu sebenarnya adalah kebaikan yang sia-sia bahkan berdosa
karena merampas hak anak yang lebih pandai .Tidak jarang siswa yang
lebih pandai dianjurkan memberitahu jawab pada siswa yang kurang dan
faktanya hasil UN jauh lebih tinggi nilai anak yang nyontoh dari pada
yang menycontohi. Disini peran siswa pandai adalahikut mengawasi,
melaporkan siapa saja yang curang/memberi jawab ,hal ini harus
benar-benar di jaga supaya semuanya adil sesuai upaya
&kemampuannya. Semoga pendidikan menjadi lebih baik. Amin. (08.00/
10april2013)
Surabaya,10 april 2013
Penulis Drs.Nuryanto
nuryantodrs at gmail.com
08819000123/03170884406