Jumat, 03 Maret 2017

BUPATI TANA TORAJA : JANGAN BIARKAN RAKYATKU MISKIN,BODOH,DAN SAKIT !!!

Makale-TNO, Setelah memimpin Pemerintahan di Bumi Lakipadada satu tahun, Lelaki yang piawai memainkan rangkaian kata-kata indah bak puisi kembali memberikan pernyataan yang sangat strategis. Saat ditemui di kediamannya, Nico berucap " Jangan biarkan rakyatku Lapar, Jangan biarkan rakyatku bodoh, Jangan biarkan rakyatku Sakit".

Ir Nicodemus Biringkanae
Ungkapan ini penuh makna, diantaranya dia tidak ingin rakyatnya  miskin, dia tidak ingin rakyatnya tidak berpendidikan, dan dia tidak ingin rakyatnya tidak sehat. Ungkapan itu menjawab situasi yang selama ini terjadi sekian lama di daerah ini. Lanjut Nico, dia juga mengajak masyarakat untuk merubah pola pikir dalam pembangunan. Ditekankan Nico, dia ingin mengubah pola pikir masyarakat yang selama ini hanya berpikir tentang pembangunan fisik saja, tetapi dalam pelaksanaan pembangunan yang diinginkannya adalah investasi dalam pembangunan.

Lanjut dijelaskannya, investasi pembangunan yang diterapkannya adalah untuk menjawab kendala-kendala yang dihadapi masyarakatnya. Dicontohkan, seperti di daerah yang jauh, ada sejumlah produksi hasil bumi yang akan dipasarkan, jelas membutuhkan transportasi yang memadai sehingga dapat mengurangi biaya produksi. Penghematan inilah yang dikatannya sebagai investasi. Bupati yang dilantik februari tahun lalu, sangat memahami kondisi masyarakt sampai wilayah terluar yang berbatasan dengan kabupaten tetangga. "Tidak ada lagi kata terisolir" ucap Nicodemus Biringkanae.(excl)
»»   Selengkapnya...

Sabtu, 10 Desember 2016

Testimoni Ketua IKT Papua : Saya Puas Terbang Ke Toraja Bersama Trans Nusa

Makale, TNO, Sosok figur John Rende Mangontan sebagai salah seorang Pengusaha Toraja yang sukses berkiprah di luar Toraja, yang saat ini dipercayakan sebagai Ketua IKT Papua sangat menyukai penerbangan ke Toraja (Bandara Pongtiku-red). Dikatakannya, penerbangan dari dan ke Toraja menggunakan Transportasi Udara yang dilayani Trasnusa. Lanjut diungkapkannya, "Selama ini kami di Papua menggunakan pesawat yang lebih kecil, saya merasakan kenyamanan denan Trans Nusa, tidak kalah dengan penerbangan (maskapai-red) lainnya. Saat ini transportasi udara dari dan ke Toraja dilayani Trans Nusa Airline yang terselenggara atas Kerjasama Pemkab Tana Toraja dan Trans Nusa. Hal ini sebagai komitmen Pemkab Tana Toraja dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat Toraja di manapun berada akan Transportasi yang cepat dan murah. Mari kita dukung ! (tim)


»»   Selengkapnya...

Kamis, 17 Juli 2014

MUMMI DITEMUKAN WARGA MAREALI, SIAPA PEMILIKNYA?

Mummi yang ditemukan warga Mareali
Makale-TNO, Warga Dusun Mareali, Kelurahan Bungin, Kecamatan Makale Utara, Kabupaten Tana Toraja, digegerkan dengan penemuan sebuah mumi di pinggir jalan, hari ini pukul 06.00 WITA.

Informasi yang diperoleh, mumi tersebut ditemukan di pinggir jalan oleh warga yang hendak pergi ke sawah. Penemuan mumi tersebut langsung dilaporkan ke polisi. Setelah mendapat laporan, polisi kemudian datang ke lokasi dan langsung mengamankan mumi tersebut ke Mapolres Tana Toraja.

Dari hasil identifikasi Polres Tana Toraja, mumi tersebut berukuran panjang 37 centimeter. Saat ditemukan, mumi tersebut terbungkus kain dan anggota tubuhnya masih lengkap dan berambut panjang. Diperkirakan, mumi tersebut sudah berumur ratusan tahun.

"Iya benar, ada mumi yang ditemukan warga. Kami pun langsung mengamankan mumi itu ke Mapolres Tana Toraja," ujar Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tana Toraja AKP Mathius Tappi, di Mapolres Tana Toraja, Kamis (17/7/2014).

Dia menyatakan, mumi yang ditemukan warga di Dusun Mareali, merupakan hasil curian. Kemungkinaan, saat pelaku membawa mumi hasil curiannya, hari sudah keburu pagi. Lantaran takut ketahuan warga, mumi itu kemudian diletakkan begitu saja di pinggir jalan hingga ditemukan oleh warga.

Penyelidikan polisi terhadap penemuan mumi itu mengarah pada sindikat penjualan benda-benda purbakala. Sebab, sudah ada beberapa kasus pencurian benda-benda purbakala terjadi di Toraja. Saat ini polisi masih menelusuri lokasi tempat di mana mumi tersebut dicuri.

"Dugaan sementara, mumi itu dicuri oleh orang yang ingin menjualnya ke penadah di daerah lain. Saat ini, kami masih telusuri asal mumi itu diambil," kata perwira pertama Polri itu.

Camat Makale Utara Erick Crystal Rante Allo menyatakan, pemerintah dan masyarakat Makale Utara hingga kini belum memastikan apakah mumi yang ditemukan warga itu hasil curian atau muncul secara tiba-tiba. Sebab, menurut kepercayaan sebagian masyarakat Toraja, mumi bisa bergerak sendiri pada malam hari.

Dirinya pun menyayangkan jika ada oknum yang mencuri mumi tersebut, karena itu adalah aset budaya Toraja. Namun hingga kini belum ada laporan masyarakat Makale Utara yang merasa kehilangan mumi.

"Kemungkinan asal mumi itu dari luar Kecamatan Makale Utara, karena tidak ada masyarakat kami yang merasa kehilangan. Kami belum memastikan, apakah mumi yang ditemukan itu adalah hasil curian," ujar Erick Crystal yang juga tokoh adat di Kabupaten Tana Toraja.

(san)

posting : SINDONEWS
»»   Selengkapnya...

Rabu, 23 Oktober 2013

H. Bumbun Pakata : TORAJA, MODEL KERUKUNAN HIDUP BERAGAMA

Pdt.DR.Kabanga' beserta Jamaah
Makale,TNO, Tongkonan, bagi orang Toraja sebagai wadah berhimpun dan pemersatu bagi segenap rumpun keluarga. Peranan lainnya sebagaitempat melaksanakan ritual Agama dan prosesi Adat. Pembangunan tongkonan melibatkan semua rumpun keluarga dan menggunakan dana (Rupiah,red) yang tidak sedikit. Terkadang sampai Milyaran Rupiah.

Penyelesaian Pembangunan Tongkonan menjadi suatu proses dari pembangunan tongkonan, seperti halnya yang dilakukan rumpun Keluarga Besar Tongkonan Gorang di Kecamatan Makale Utara Kabupaten Tana Toraja. Salah satu keunikan dari prosesi syukuran penyelesaian pembangunan Tongkonan adalah diberinya kesempatan kepada masing-masing unsur dalam keagamaan, seperti yang terjadi sore ini, ratusan jamaah mesjid di Rantelemo memadati halaman Tongkonan Gorang untuk melaksanakan ibadah menurut keyakinan Islam. Acara Tawsiah syukuran Pembangunan Tongkonan Gorang dibuka oleh salah seorang keluarga, Kaddas Baso' Allung, dan ceramah dibawakan H Bumbun Pakata, yang juga masih kerabat. Dalam Ceramahnya, Bumbun Pakata menekankan kebersamaan dan kasih, sebagai unsur kerikatan keluarga, baik itu yang menganut kepercayaan Islam,Kristen, dan yang masih dalam Aluk Todolo (agama leluhur).Lanjut dikatakannya " Toraja adalah Model Kerukunan Hidup beragama yang masih sangat kuat hubungan kekerabatannya".
H Bumbun Pakata dan Pdt.DR.Kabanga' beserta Keluarga

Dalam Tauwsiah syukuran ini, dihadiri belasan Jamaah dari berbagai wilayah, ada yang berangkat dari Gowa,Bugis,dan Luwu, keunikan kegiatan ini dikarenakan keluarga melalui panitia memberikan kesempatan kepada masing-masing keluarga sesuai keyakinan iman mereka untuk melaksanakan ibadahnya.

Mewakili Keluarga Besar Tongkonan Gorang, DR PDT. Kabanga' menyampaikan ungkapan hati keluarga dan juga memberikan pencerahan kepada keluarga bahwa H Bumbun Pakata adalah juga bagian dari rumpun keluarga tongkonan ini.
suasana keakraban keluarga (dok.LSM LEKAT)

pembacaan doa (dok.LSM LEKAT)

foto keluarga (dok.LSM LEKAT)

Untuk diketahui, Puncak syukuran Pembangunan Tongkonan Gorang akan dilaksanakan pada 25/10 mendatang, Salama'. (tim)
»»   Selengkapnya...

Selasa, 19 Maret 2013

Batu Hampar, Bukti Sejarah Raja-Raja Bugis Di Malaysia

Batu Hampar yang ada di Kuala Selangor, Malaysia adalah salah satu situs peninggalan para keturunan raja Luwu Bugis yang pernah memangku pemerintahan kerajaan. Menurut kisah sejarahnya, batu Hampar ini merupakan tempat orang-orang Bugis Luwu memenggal Kepala Musuh, tersangka kasus kejahatan ataupun penjahat. Situs ini Terletak di bukit pintu masuk kota Melawati, Selangor. Permukaan batunya berukuran 5 x 5 x 2 kaki. Batu tempat eksekusi ini sudah ada pada jaman Raja Lumu Sultan Salehuddin Syah Ibni Almarhum Daeng ChelaK 1705–1778 — di Pulau Sudong.
Kerajaan Selangor merupakan kerajaan terakhir yang muncul pada abad 18 dan diasaskan oleh Bugis di mana Raja Lumu yang menjadi Sultan Selangor yang pertama dengan gelaran Sultan Salehuddin Syah. Dalam silsilahnya disebutkan bahwa Raja Lumu ini adalah anak dari Daeng Celak (Opu Daeng Cella). Sampai saat ini, pemangku kerajaan Selangor masih merupakan keturunan dari kerajaan Luwu.
batu hampar 2Batu Hampar ini dahulunya berada dalam kawasan istana kota pertahanan kedua dimana terdapat tiga undakan tangga menuju halamannya seluas 30 x 30 kaki. Keunikan batu hampar itu adalah terletak diatas pasir namun posisinya tetap berdiri tegak tidak miring sedikit pun. Letaknya diatas bukit Melawati berjarak sekitar 100 meter dari kawasan Istana. Diketahui pula bahwa bukit ini merupakan tempat menyimpan harta kerajaan.
Kisah-kisah yang ada menceritakan bahwa batu Hampar ini digunakan sebagai tempat menghukum pezinah dengan memenggal lehernya. Darahnya ditampung kemudian disebarkan disekeliling areal batu Hampar itu. Namun seorang keturunan panglima perang kerajaan Selangor yakni Encik Nokik Bin Lakik yang senantiasa mencermati kisah sejarah di bukit Melawati itu menceritakan lain. Ia menegaskan bahwa batu Hampar itu dulunya merupakan tempat bersemayam Sultan Selangor terutama menyambut para tetamu yang akan membayar upeti kepada kerajaannya. Selain itu, batu Hampar itu juga difungsikan sebagai meja untuk bermain catur sang Sultan. Banyak pihak yang mengerti sejarah masa silam kerajaan Selangor membenarkan hal itu. (sumber: bluesriders / foto: Raja Luwu Bugis Sawerigading)
»»   Selengkapnya...

Sabtu, 16 Maret 2013

Kerajaan Besar Sulawesi Selatan Sebelum Gowa-Tallo

Sebuah sejarah kerajaan di Sulawesi Selatan yang pernah mencapai puncak kejayaannya sebelum besarnya kerajaan Gowa – Tallo adalah kerajaan Siang.  Siang diperkirakan mengalami “masa keemasan” sekitar abad XV – XVI — sedangkan masyarakat Bugis Makassar nanti mengenal tradisi tulis “lontarak” di abad XVII.  Kerajaan Siang hanya sedikit dikenal dan hanya sedikit yang baru bisa diungkap lewat penelitian arkeologi di bekas pusat wilayah pemerintahan dan pelabuhan Siang Situs Sengkae, Bori Appaka, Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep ( 70 km dari Kota Makassar)
Dari minimnya hasil penelitian, diperkirakan bahwa kerajaan Siang ini telah dikunjungi oleh Kapal – kapal Portugis antara tahun 1542 dan 1548 jauh sebelum kerajaan Gowa memproklamirkan kekuatan maritimnya.  Seorang peneliti sejarah dari Portugis yakni Pelras mengemukakan bahwa selama masa pengaruh Luwu di semenanjung timur Sulawesi Selatan, kemungkinan dari Abad X hingga Abad XVI, terdapat kerajaan besar lain di semenanjung barat, dikenal dengan nama Siang, yang pertama kali muncul pada sumber manuskrip Eropa dalam peta Portugis bertarikh 1540. Nama “Siang” berasal dari kata “ kasiwiang” , yang berarti persembahan kepada raja (homage rendu a’ un souverain).
Pada tahun 1540 atau jauh sebelumnya, pelabuhan Siang sudah banyak dikunjungi pedagang dari berbagai penjuru kepulauan nusantara, bahkan dari Eropa. Pengamat Portugis, Manuel Pinto, memperkirakan pada tahun 1545, kerajaan Siang memiliki jumlah penduduk sekitar 40.000 jiwa.
Menurut catatan Portugis dari dokumen abad 16, Gowa dan Tallo pernah jadi pengikut dari kerajaan Siang. Tradisi lisan setempat mempertahankan pandangan ini. Penemuan arkeolog berharga di bekas wilayah Siang kelihatannya lebih memperkuat asumsi bahwa kerajaan ini adalah bisa jadi merupakan kekuatan besar di pantai barat Sulawesi Selatan sebelum bangkitnya Gowa dan Tallo (Pelras, 1973 : 54).
Raja Siang yang pertama disebut Tu-manurunge Ri Bontang (A. Razak Dg Mile, PR : 1975). Sementara M. Taliu menyebut periode pertama Kerajaan Siang, digagas seorang tokoh perempuan, Manurunga ri Siang , bernama Nasauleng atau Nagauleng bergelar Puteri Kemala Mutu Manikkang. Garis keturunan Tomanurunga Ri Siang inilah yang berganti-ganti menjadi raja di Siang (asossorangi ma’gauka) sampai tiba masanya Karaengta Allu memerintah di Siang paska Kerajaan Siang dibawah dominasi Kerajaan Gowa. (Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2005).
Pelras dari penelitian awalnya terhadap sumber Eropa dan sumber lokal, menyatakan Siang, sebagai pusat perdagangan penting dan mungkin juga secara politik antara Abad XIV – XVI. Pengaruhnya menyebar hingga seluruh pantai barat dan daerah yang dulunya dikenal Kerajaan Limae Ajattapareng hingga ke selatan perbatasan Makassar, yakni Gowa-Tallo.
Pada pertengahan Abad XVI, Kerajaan Siang menurun pengaruhnya oleh naiknya kekuatan politik baru di pantai barat dengan pelabuhannya yang lebih strategis yaitu Pelabuhan Sombaopu . Kerajaan itu tak lain Kerajaan Gowa, yang mulai gencar melancarkan ekspansi pada masa pemerintahan Raja Gowa IX,Karaeng Tumapakrisika Kallonna. Persekutuan Kerajaan Gowa dan Tallo akhirnya membawa petaka bagi Siang, sampai akhirnya mati dan terlupakan, di penghujung Abad XVI. (Pelras 1977 : 252-5).
Pusat kerajaan Siang tumbuh berkat adanya sumber-sumber alam : kelautan, hasil hutan dan mungkin mineral serta padi ladang yang dieksploitasi oleh suatu populasi penduduk Makassar yang telah lama mengenal jaringan perdagangan laut yang luas dengan memanfaatkan muara sungai sebagai akses komunikasi utama (Makkulau, 2005, 2007).
Sejalan dengan semakin jauhnya garis pantai akibat pengendapan sungai Siang sebagai akses utama memasuki kota itu, dan kepindahan koloni pedagang Melayu ke Gowa di pesisir barat, bahkan sampai Suppa dan Sidenrengdi daratan tengah Sulawesi Selatan membuat kerajaan Siang kehilangan fungsi utamanya sebagai sebuah pelabuhan penting, pengaruh pusat politiknya meredup.  Nasib kerajaan Siang kemudian tidak berbeda dengan kerajaan Bantaeng, kendati eksis tetapi berada dibawah bayang-bayang kontrol kekuasaan Gowa-Tallo. (Fadhillah et, al, 2000 dalam Makkulau, 2005).
Hasil penelitian Balai Arkeologi Makassar dan Universitas Hasanuddin (UNHAS) menyebutkan bahwa ibukota Kerajaan Siang dulunya terletak pada sebuah lokasi yang dikelilingi oleh benteng kota (batanna kotayya). Bentengnya mengelilingi lahan yang sekarang menjadi kompleks kuburan yang dikeramatkan. Alur benteng Siang (batanna kotayya) diperkirakan berbentuk huruf U, kedua ujungnya bermuara di Sungai Siang yang telah mati. (Fadhillah, et.al, 2000 : 27).
Indikasi arkeologis pada lokasi situs berupa gejala perubahan rupa bumi dan proses pengendapan telah menjauhkan pusat Kerajaan Siang dari pesisir. Kemunduran Siang diperkirakan terjadi pada akhir abad 16 saat masuknya ekspansi politik kerajaan Gowa dan mempengaruhi otorisasi sistem pemerintahannya. 
(berbagai sumber )
»»   Selengkapnya...

Jumat, 15 Maret 2013

Adat Ritual Pemakaman Kedatuan Luwu

TNO-Luwu, Ritual adat yang sangat kental mewarnai sebuah prosesi pemakaman dalam rangkaian 40 hari wafatnya Andi Luwu Opu Daengna Patiware Datu Luwu ke-39 di Luwu Sulawesi Selatan. Batu nisan almarhum diarak sepanjang jalan menuju ke makam Datu atau makam raja-raja Luwu yang disebut LokkoE. Pengarakan batu nisan sang raja adalah salah satu prosesi adat utama dalam rangkaian kegiatan pemakaman yang disebut Mattampung (pemasangan batu nisan). Pada prosesi adat penutup ini, pihak Istana akan mengundang seluruh raja-raja se-Sulsel yang memiliki ikatan emosional dan kekeluargaan yang dekat dengan kerajaan Luwu. Mereka diharapkan mengikuti prosesi mattampung. acara inti dari prosesi adat mattampung dengan mappanonno batu atau menurunkan batu nisan untuk selanjutnya dipasang di pusara almarhumah yang terletak di dalam Lokkoe. Lokkoe adalah gua buatan berbentuk piramida sebagai moseleum dari keluarga raja dari Kedatuan Luwu.
Acara mappanonno batu diawali dengan mengumandangkan adzan di empat sudut istana Kedatuan Luwu secara bersamaan. Setelah itu, batu nisan diusung menuruni tangga ‘sapana’ yang terbuat dari serpihan batang pinang yang saling dianyam. Batang pinang lazim digunakan di dalama cara-acara ritual di kalangan masyarakat adat. Sebelum usungan batu nisan diusung menuruni tangga sapana, maka seekor kerbau disembelih lalu usungan batu nisan diusung melangkahi jasad kerbau tersebut dan disaksikan oleh Datu Luwu ke-40 dan para bupati se-Tana Luwu. Prosesi itu disebut ‘ripajulekkai camara lebbi’ atau melangkahi kerbau persembahan. Kerbau adalah hewan berkaki empat yang melambangkan empat penjuru mata angin yaitu, utara, selatan, timur dan barat, yang secara simbolis melambangkan bahwa kepergian almarhumah Datu Luwu ke-39 Andi We Addi Luwu diiringi oleh doa dan ratapan sedih dari seluruh masyarakat adat Luwu baik di barat, timur, selatan, dan utara. para pengusung batu nisan terdiri dari 4 orang yang memakai kostum adat berwarna putih dengan ikat kepala hitam. Batu nisan ditempatkan dalam sebuah keranda yang dihiasi dengan pernik khusus. Ketika para pengusung akan berjalan, mereka terlebih dahulu harus melangkahi kerbau yang telah dipotong yang disebut. Ritual inilah yang disebut “Ripajulekkei camara lebbi”.
Di bagian depan ‘parrulu gau’ atau atribut adat pengiring usungan batu nisan terdapat satu pasang suluh atau obor yang menyala yang disebut sulo langit atau suluh alam arwah kemudian diikuti dengan sepasang pabbalu-balu atau sepasang laki-laki yang menutup seluruh tubuhnya dengan sarung berwarna hitam yang melambangkan rasa duka yang mendalam dari seluruh lapisan masyarakat adat dalam Kedatuan Luwu. Sepasang ‘pattoduang’ yang masing-masing mengunakan topi caping dan pakaian petani yang juga berupa simbol bahwa seluruh strata sosial dalam wilayah adat Kedatuan Luwu berduka sedalam-dalamnya.
dokdok LuwuSeorang “dokdok” atau simbol kepala makhluk gaib yaitu seorang yang menggunakan topeng yang seram dimana seluruh tubuhnya ditutupi oleh jubah dari bulu-bulu yang kasar, berjalan bebas hilir mudik dari depan ke belakang. Jika ada seorang diluar iring-iringan prosesi adat tersebut yang sampai tertanggap tangan oleh dokdok, maka orang tersebut harus membayar denda sebelum dilepaskan. Dokdok ini bertugas menghalau semua anasir jahat, baik dari makhluk nyata maupun makhluk gaib yang akan menghalangi prosesi adat tersebut.
Sepasang tombak yang dihiasi dengan rambut manusia yang disebut ‘bessi bandranga’ yang menjadi sumber tanda bahwa iring-iringan tersebut adalah iring-iringan resmi dari Kedatuan Luwu, menyusul pembawa tombak yang disebut bessi menrawe yang disusul dengan pakkaliawo yaitu pembawa perisai dan tombak. Bessi menrawe dan pakkaliawo yang masing-masing berjumlah 12 orang adalah simbol peringkat tertinggi dari upacara adat di Kedatuan Luwu. Sesudah itu terdapat 12 perempuan berpakaian serba putih yang memegang atribut yang disebut passimpa dan masing-masing sejenis kipas yang dikipaskan perlahan-lahan sepanjang jalan. Aktifitas ini menyimbolkan bentuk upaya mengusir segala aral yang melintang. Rombongan passimpa itu terdiri dari ‘inanyompareng’ atau ibu susu dari almarhumah. (sumber: palopopos / foto: Ancha Maupe- Sempugi Grup)

posting : kabarkami.com
»»   Selengkapnya...

Mengenal Legenda Bugis, Nene' Mallomo

Nene’ Mallomo merupakan salah satu tokoh cendekiawan terkemuka di Sidenreng Rappang (Sidrap) Sulawesi Selatan dan telah menjadi simbol yang melegenda di daerah Bugis tersebut. Nene’ mallomo hidup di masa Kerajaan Sidenreng sekitar abad ke-16 M, pada masa pemerintahan La Patiroi, Addatuang Sidenreng. Beberapa referensi sejarah juga menyebutkan bahwa Nene’ Mallomo lahir sebelum masa pemerintahan Raja La Patiroi, yaitu pada masa Raja La Pateddungi. Nene’ Mallomo wafat pada tahun 1654 M di Allakuang, Sidrap dengan mewariskan salah satu slogannya yang terkenal dan menjadi pedoman hidup orang Bugis yakni “Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata”.
Pada zaman dahulu, setiap kerajaan memiliki cendekiawan yang merupakan pembimbing masyarakat dalam mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Ada 5 orang cendekiawan yang terkenal dalam perjalanan sejarah kerajaan Bugis, yaitu Kajao Laliddo (cendekiawan kerajaan Bone), Nene’ Mallomo (cendekiawan kerajaan Sidenreng), Arung Bila (cendekiawan kerajaan Soppeng), La Meggu’ (cendekiawan kerajaan Luwu) dan Puang ri Maggalatung (cendekiawan kerajaan Wajo).
Para cendekiawan tersebut sering melaksanakan pertemuan untuk mengadakan diskusi, sambil tukar menukar pengalaman yang nantinya menjadi pedoman wawasan setiap orang Bugis. Salah satu kegiatan pertemuan mereka yang terkenal digelar di Cenrana dimana pertemuan tersebut dihadiri oleh Kajao Laliddo dari Bone, Nene’ Mallomo dari Sidenreng, Puang ri Maggalatung dari Wajo, Topacaleppang dari Soppeng, Macca e dari Luwu dan Boto Lempangan dari Gowa. Dari pertemuan tersebut, Nene’ Mallomo kemudian melahirkan buah pikirannya yang disepakati oleh para cendekiawan yang hadir. Buah pikirannya berupa sebuah prinsip yang harus dijalankan oleh aparat kerajaan dalam mewujudkan masyarakat yang taat hukum. Prinsip tersebut dikenal dengan ungkapan “Naiya Ade’ Temmakkeana’ Temmakkeappo” (hukum tidak mengenal anak cucu).
“Pangadereng dapat diartikan sebagai keseluruhan norma-norma, meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesamanya manusia dan terhadap pranata sosialnya secara timbal balik dan yang menyebabkan adanya gerak (dinamis) masyarakat. Pangadereng dibangun oleh banyak unsur yang saling menguatkan. Pangadereng meliputi hal ihwal ade’ (adat), bicara, rapang (contoh), wari (tata cara) dan sara’. Semua diperteguh dalam satu rangkuman yang melatarbelakanginya, yaitu satu ikatan yang mendalam ialah siri”. (Mattulada, 1968)
Nene’ Mallomo hanyalah sebuah gelar bagi seseorang, dimana dalam bahasa Bugis Sidrap, kata Mallomo berarti mudah, yang maksudnya bahwa Nene’ Mallomo mudah memecahkan suatu permasalahan yang timbul. Nene’ Mallomomerupakan seorang laki-laki, walaupun kata Nene’ menunjuk pada istilah wanita yang telah lanjut usia (tua). Dalam budaya Bugis dahulu, kata Nene’ digunakan untuk pria/wanita yang telah lanjut usia. Nama asli Nene’ Mallomo adalah La Pagala, namun ada juga yang mengatakan bahwa nama asli Nene’ Mallomoadalah La Makkarau.
Nene’ Mallomo dikenal sebagai seorang intelektual yang mempunyai kapasitas dalam hukum dan pemerintahan serta berwatak jujur dan adil kepada seluruh masyarakatnya. Dalam konteks masalah hukum, Nene’ Mallomo mempunyai prinsip yaitu “Ade Temmakkeana Temmakkeappo”, yang berarti bahwa hukum tidak mengenal anak dan cucu. Hal ini menunjukkan sisi keadilan dan ketegasan dari seorang Nene’ Mallomo, yang juga merupakan salah seorang penyebar agama Islam di daerah Sidrap.
Salah satu petuah dari Nene’ Mallomo mengatakan bahwa orang Sidrap harus mempunyai sifat Macca (pintar), Malempu (jujur), Magetteng (konsisten), Warani (berani), Mapato (rajin), Temmapasilengeng (adil) serta Deceng Kapang (menghormati orang lain).
Nene’ Mallomo juga merupakan penggagas falsafah hidup masyarakat Bugis Sidrap, yang terkenal yaitu Massappa (mencari rezeki yang halal), Mabbola (membangun rumah dari rezeki yang halal), Mappabotting (mempererat silaturrahmi dengan ikatan pernikahan), Mappatarakka Hajji (menunaikan ibadah haji) dan Mattaro Sengareng (merendahkan diri dan keikhlasan).
Salah satu pappaseng (pesan) Nene’ Mallomo bagi aparat kerajaan adalah “Tellu tau kupaseng : Arung Mangkau’e, pabbicara e, suro e. Aja’ pura mucapa’i lempu e o arung mangkau’. Malempuko mumadeceng bicara, mumagetteng, apa’ riasengnge malempu, madeceng bicara e lamperi sunge’. Apa’ teammate lempu e, temmaruttung lappa e, teppettu malompennge, teppolo masselomo e”,  (Aku berpesan kepada tiga golongan: Maharaja, Juru Bicara dan Utusan. Jangan sekali-kali engkau meremehkan kejujuran itu, hai maharaja. Berlaku jujurlah serta peliharalah tutur katamu, engkau harus tegas. Sebab yang disebut kejujuran, tutur kata yang baik itu memanjangkan usia. Oleh karena takkan mati kejujuran itu, takkan runtuh yang datar, takkan putus yang kendur, takkan patah yang lentur).
Oleh karena kearifan serta kebijaksanaannya, Nene’ Mallomo sampai saat ini telah menjadi ikon dari Kabupaten Sidenreng Rappang, yaitu Bumi Nene’ Mallomo.  (sumber : I Lagaligo Passompe’E / pelajarpro.com)
»»   Selengkapnya...

Riwayat Rumah Adat, Bola Soba

TNO-Sul-Sel, Rumah adat Bangsawan Bugis di Watampone, Sulawesi Selatan yang disebut Bola Soba’. Arsitekturnya hampir mirip dengan rumah Adat Gowa yakni Balla Lompoa. Bola soba atau dalam bahasa Indonesia yang diartikan “rumah persahabatan” merupakan salah satu peninggalan sejarah masa lampau.
Bangunan tradisional Bugis bermaterial kayu ini berdiri di atas lahan seluas hampir 1/2 hektar di ruas Jalan Latenritatta, Watampone. Kokohnya bangunan ini menandakan bahwa masyarakat Bone pada masa lampau telah menguasai pengetahuan teknik arsitektur dan sipil yang mumpuni.
Bola Soba dibangun pada masa pemerintahan Raja Bone ke-30, La Pawawoi Karaeng Sigeri sekitar tahun 1890. Awalnya, diperuntukkan sebagai kediaman raja. Selanjutnya, ditempati oleh putra La Pawawoi, Baso Pagilingi Abdul Hamid yang kemudian diangkat menjadi Petta Ponggawae (Panglima perang) Kerajaan Bone. Seiring dengan ekspansi Belanda yang bermaksud menguasai Sulawesi, termasuk Kerajaan Bone pada masa itu, maka Saoraja Petta Ponggawae ini pun jatuh ke tangan Belanda dan dijadikan sebagai markas tentara. Tahun 1912, difungsikan sebagai mes atau penginapan untuk menjamu tamu Belanda. Berawal dari sinilah penamaan Bola Soba’ yang berarti rumah persahabatan.
Bola Soba memiliki panjang 39,45 meter terdiri dari empat bagian utama, yakni lego-lego (teras) sepanjang 5,60 meter, rumah induk (21 meter), lari-larian/selasar penghubung rumah induk dengan bagian belakang (8,55 meter) serta bagian belakang yang diperuntukkan sebagai ruang dapur (4,30 meter). Dindingnya dilengkapi dengan ukiran pola daun dan kembang sebagai ciri khas kesenian Islam dan banji (model swastika) yang diperkenalkan oleh orang Tionghoa.
Bola Soba telah mengalami tiga kali pemindahan lokasi. Awalnya, terletak di Jalan Petta Ponggawae yang saat ini menjadi lokasi rumah jabatan bupati Bone. Selanjutnya, dipindahkan ke Jalan Veteran dan terakhir di Jalan Latenritatta sejak tahun 1978. Peresmiannya dilakukan pada 14 April 1982 oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) saat itu, Prof Dr Daoed Joesoef. Sebagai bangunan peninggalan sejarah, Bola Soba didesain untuk mendekati bangunan aslinya. Namun demikian, beberapa bagian juga mengalami perubahan, baik perbedaan bahan maupun ukurannya aslinya.
Memasuki bagian dalam bangunan, tak ada benda-benda monumental yang bisa menjelaskan historis bangunan tersebut dengan detail, sedangkan di bagian lain ruangan terdapat ‘bangkai’ meriam tua, potret lukisan Arung Palakka, silsilah raja-raja Bone, serta beberapa benda-benda tertentu yang sengaja disimpan pengunjung sebagai bentuk melepas nazar. Nampak yang jelas hanya beberapa perlengkapan kesenian, seperti kostum tari dan gong dimana setiap harinya bangunan Bola Soba telah ini menjadi tempat latihan salah satu sanggar kesenian yang ada di kota ini. (sumber: bolasoba.blogspot.com / foto: Hasbi Photographer)

posting : kabarkami.com
»»   Selengkapnya...

Lahan Kritis Toraja Potensial Bencana

TNO-Toraja, Penyebaran Lahan Kritis di Kabupaten Tana Toraja hampir pada semua kawasan hutan baik hutan produksi maupun hutan lindung, Lahan Kritis terjadi pula pada lahan-lahan di luar kawasan hutan sehingga secara kumulatif akan berakibat pada semakin kritisnya kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS).

Luas lahan kritis (di dalam maupun di luar kawasan hutan) di Kabupaten Tana toraja sampai Tahun 2010 meliputi : kriteria sangat kritis 68.643 Ha, kritis mencapai 43.235 Ha, agak kritis seluas 16.707 Ha dan Tidak kritis seluas 79.919 Ha. lahan kritis tersebut sebagian besar tersebar di didalam kawasan hutan terutama pada Kawasan hutan Lindung yaitu seluas 43.885 Ha dengan tingkat kekritisan mulai dari Sangat Kritis (SK) sampai dengan Agak Kritis (AK), pada Kawasan hutan produksi terbatas lahan kritis seluas 13.115 Ha, sedangkan pada Areal penggunaan lain (APL) terdapat lahan kritis seluas 71.585 Ha dengan tingkat kekritisan Agak Kritis sampai Sangat Kritis. Sebagian besar lahan kritis yang ada di kabupaten Tana Toraja terdapat di Kecamatan Simbuang, Kecamatan Bonggakaradeng dan Kecamatan Masanda.

Berdasarkan Peta Penujukan Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan No.SK.434/KPTS-II/2009 Tanggal 23 Juli 2009. Alokasi penggunaan lahan dan kawasan hutan di Kabupaten Tana Toraja adalah sebagai berikut
,  Kawasan Hutan Lindung seluas 92.628 ha,  Kawasan Hutan Produksi Terbatas  seluas 20.175 ha, Kawasan Penggunaan Lainnya/APL (Perkebunan, Pertanian, Peternakan, Pertambangan, Pemukiman dan Industri, dll) seluas 95.447 ha.
Kawasan hutan tersebut terbagi dalam beberapa kelompok hutan antara lain : Kelompok Hutan  Buntu Massila/Buntu Karua (HL dan HPT), Kelompok Hutan Latimojong (HL), Kelompok Hutan Tumborera (HL), Kelompok Hutan Batualu (HPT), Kelompok Hutan Mapongka (HPT), Kelompok Hutan Ponean (HPT), Kelompok Hutan Buntu Gasing/Buntu Ambeso (HPT).(FMC)
»»   Selengkapnya...

Kamis, 14 Maret 2013

Sutra Lokal sulawesi Selatan Punah?

TNO-Sul-Sel, Budi daya sutera alam telah dikenal sejak tahun 1950-an di Sulawesi Selatan dan sampai sekarang masih digeluti oleh sebagian masyarakat pedesaan. Menurut Balai Persuteraan Alam,terdapat 3.214 kepala keluarga yang menggeluti usaha tani murbei dan kokon, dengan luas areal tanaman murbei 1.713 hektar yang tersebar di 11 kabupaten.
Sampai saat ini produksi benang sutera lokal Sulawesi Selatan masih merupakan yang terbesar di Indonesia dengan produksi 54,53 ton dari 64,02 ton produksi nasional atau 86% (Departemen Kehutanan, 2008) namun ironis dengan kondisi yang terjadi di lapangan ketika produksi bahan lokal mulai mengalami penurunan akibat gencarnya impor bahan dari negara lain.
Selembar kain sutera menggunakan dua jenis benang yaitu benang lungsi dan benang pakan. Umumnya, pengrajin sutera Sengkang mengimpor benang lungsi dari Hongkong. Benang sutera lokal sekarang sudah jarang dijumpai, harganya sangat mahal dengan keuntungan tidak sebanding.
Untuk benang pakan, para pengrajin sutera sudah menggunakan benang lokal yang berasal dari Soppeng atau Enrekang. Di peternakan kokon, bayi ulat sutera dipelihara di atas bale-bale beralas daun murbei yang merupakan makanan ulat. Setelah kenyang, ulat akan diam dan siap mengeluarkan liur hingga ulat menjadi kepompong. Bentuknya seperti telur puyuh, berwarna putih dan lembut yang disebut kokon. Kokon inilah yang dipintal menjadi benang sutera dan selanjutnya akan menjadi kain sutera.
dalam perjalanannya sejak 1950-an, perkembangan industri persuteraan alam beberapa tahun belakangan ini mengalami kemorosotan akibat kelangkaan bahan baku sutera lokal (sutera asli). Akibatnya, para pengrajin harus beralih menggunakan benang sutera India. Selain harganya yang cukup murah juga proses pengelolaan sampai menghasilkan kain juga relatif singkat. Sekilas tidak ada perbedaan, namun produk sutera lokal lebih lembut kainnya.
Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Wajo, Andi Ampa Passamula mengakui kondisi tersebut. Menurut dia mahalnya benang sutera lokal, karena daerah asal bahan baku seperti Enrekang dan Soppeng sudah tidak mampu menyuplai lagi. Sehingga, terjadi kelangkaan. Bahan baku sutera lokal ini menggunakan ulat peru. Ada juga ulat China.
Pengolahan bahan baku mulai dari bibit atau telur ulat sehingga bisa menghasilkan sutera yang sudah dipintal hanya bisa dijumpai di Kecamatan Sabbangparu, misalnya lingkungan Salojampu Kelurahan Sompe, Desa Mellusesalo Kelurahan Salotengnga Wajo Sulawesi Selatan.
Namun kondisi saat ini yaitu para pegusaha ulat tersebut sudah banyak yang gulung tikar. Lahan murbei yang luasnya puluhan hektar sudah dibabat habis dan mereka ramai-ramai beralih jadi petani kakao.
“Dulu hampir semua masyarakat di sini memelihara ulat, tapi banyak yang tidak berhasil, sebab bibit ulat peru yang dibeli dari Balai Persuteraan Alam (BPA) kualitasnya tidak bagus bahkan banyak yang rusak, sehingga masyarakat lebih memilih mencari pekerjaan lain, karena ongkosnya tidak sebanding dengan hasilnya. Kami berharap Pemkab menyuplai ulat China yang jauh lebih bagus kualitasnya, kendati harganya mahal” Ujar salah seorang petani di Wajo.
Saat ini, Dinas Kehutanan dan Perkebunan mulai mensubsidi telur ulat (bibit) kepada petani secara cuma-cuma, juga mensosialisasikan pembersihan ruang pemeliharaan telur. Malah sebelumnya Dishutbun hanya mampu menyuplai 6o box bibit, namun saat ini sudah mampu menyediakan 70 box bibit. Dalam 1 box, biasa menghasilkan sampai 5 kilogram benang.


»»   Selengkapnya...

Rabu, 13 Maret 2013

Pelaku Pembakaran Bus Terlihat di CCTV

TNO-MAKASSAR -- Penyebab terbakarnya satu unit bus Perusahaan Otobus (PO) Bintang Prima, Rabu, 13 Maret, mulai terkuak. Dari rekaman Closed Circuit Television (CCTV) yang diperoleh polisi, bus diduga sengaja dibakar.

Kanit Reskrim Polsekta Tamalanrea, AKP Salim yang datang di lokasi kejadian menjelaskan, terbakarnya bus Bintang Prima sangat besar indikasinya aksi pembakaran. Dari pengamatan pada CCTV, pelakunya dua orang menggunakan helm.

Menurut Salim, kemungkinan besar aksi ini dilakukan setelah melakukan pelemparan pada kantor perwakilan Bus Bintang Prima yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan 18.

Aksi ini dilakukan dengan mudah dan sulit dideteksi karena saat kejadian tidak ada penjagaan dan pintu pagar juga tidak tertutup. "Tiba-tiba bus yang terparkir terbakar hingga hangus," katanya.

Salim mengatakan, untuk kepentingan penyelidikan, pihaknya sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Selain itu, juga telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi.

"Kami sudah melakukan pemeriksaan saksi-saksi dan melakukan olah TKP. Namun tidak ditemukan tanda-tanda adanya pelemparan bom molotov sehingga diduga sengaja dibakar, " jelas Salim.

Informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, beberapa waktu lalu sempat terjadi kesalapahaman antara warga sekitar PO itu dengan karyawan. Namun, hingga saat ini motif dan penyebab terjadinya kebakaran, kepolisian masih melakukan penyelidikan dan pendalaman. (arm/rif)


»»   Selengkapnya...

LSM LEKAT : PEMKAB TATOR "JANGAN MALU" MENCONTOH TORUT, REFORMASI BIROKRASI

TNO-Makale, Salah satu tonggak keberhasilan suatu pemerintahan adalah birokrasinya, dan modal utamanya adalah komitmen pemimpinnya terhadap kompetensi dan akuntabilitas yang dimiliki aparatnya. Terkait hal tersebut, di Tana Toraja dari hasil pantauan TNO dan beberapa tanggapan masyarakat terkait pelayanan publik dan birokrasi sangat tidak maksimal, bahkan terkesan AMBURADUL. Seperti halnya, Penerapan Rangkap Jabatan, sampai ada oknum yang sudah mengendalikan 3 SKPD sekaligus, ini sungguh sebuah kegagalan yang mungkin saja terkondisi karena peranan pihak-pihak diluar birokrasi.

Sementara di Kabupaten pemekarannya, Toraja Utara, walaupun masih berusia sangat muda, tetapi disentuh secara profesional, menghasilkan pemerintahan yang kuat. Pada suatu kesempatan, FB Sorring mengungkapkan "Bukan zamannya lagi pendelegasian tugas yang tidak sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, seperti tugas si anu dilimpahkan ke si anu", dan lebih ditekankan pada pelayanan di kecamatan-kecamatan dibawah kendali para Camat-nya.

Menanggapi kondisi di Tana Toraja, Ferryanto Belopadang, selaku Ketua LSM LEKAT mengungkapkan seharusnya Pemkab Tana Toraja mencontoh kepemimpinan Di Kabupaten Toraja Utara, dimana Bupati dan Wakilnya Seiring sejalan dan pelaksanaan birokrasi yang baik akan menghasilkan standar pelayanan prima "excellent service". Lanjut dikatakannya " Kalau di Tana Toraja sepertinya tanpa konsep dan tidak harmonisnya Bupati dan Wakilnya semakin menambah kesemrawutan birokrasinya. Saat ditanya tentang dominasi oknum non struktural dalam pengambilan keputusan, dengan guyon dijawabnya "Yang cuma punya posisi di dapur, jangan urus-urus pemerintahan, apalagi urus proyek, nanti menyesal" dan pada akhirnya yang korban jelas masyarakatnya, dan tagline kampanye Reformasi Birokrasi oleh Theopilus Allorerung pada saat pilbup, cuma hisapan jempol belaka".(tim)
»»   Selengkapnya...

Nycta Gina Pernah Lihat Bangsawan Toraja Dihidupkan Lagi

Nycta Gina
Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Ferro Maulana
TNO -Jakarta, 
Pernah menjadi presenter progam travelling di sebuah stasiun televisi swasta adalah berkah bagi Nycta Gina. Berkat program itu, ia sudah pernah berkeliling ke sejumlah tempat wisata di seluruh Indonesia.

Gadis kelahiran Jakarta, 3 November 1984, mengaku pernah ke Toraja (Sulsel), Ujung Genteng (Jawa Barat), Pantai Batu Puteh (Aceh), Pantai Bunaken (Sulut), Danau Ranau (Lampung), dan beberapa tempat lainnya.

Namun, dari sekian banyak lokasi wisata yang pernah dikunjunginya, Tana Toraja yang paling unik di mata pemeran karakter Jeng Kelin ini.

"Di Toraja ada tradisi di mana mayat dimasukkan ke dalam gua di Londa (sebuah daerah pemakaman)," jelasnya.

Bintang Sinetron Terlanjur Cinta ini melihat seorang bangsawan dihidupkan kembali oleh seorang dukun melalui sebuah boneka.

"Bangsawannya dibikinkan boneka dan dengan bantuan orang pintar, boneka itu hidup bisa naik ke bukit sendirian. Keren banget," ujar pemilik nama lengkap Rizna Nyctagina yang bercita-cita ingin ke Paris dan Milan.

Editor : suhendri
Sumber : Tribunnews
posting : BANGKAPOS.COM
»»   Selengkapnya...

Minggu, 10 Maret 2013

Ekspedisi NKRI di Mengkendek


TNO-Mengkendek, Dandim 1414 Tana Toraja Letkol Kav. Buang Adri Aprianus, mengatakan strategi pemerintah memperbaiki ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, melalui keterlibatan tim ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013, melakukan pendataan dan meneliti segala potensi kekayaan alam di hutan, sungai, gunung dan pegunungan, menjadi entry point bagi Toraja mengakselerasikan pembangunan di semua sektor.
Buang Adri Aprianus menjelaskan kegiatan sosial tim ekspedisi selain merehabilitasi rumah penduduk, juga pembangunan jembatan gantung di lembang Maro`son kecamatan Rembon, serta reboisasi dan pelestarian alam utamanya dilahan kritis.
Menurutnya ekspedis NKRI merupakan hasil kerjasama Mabes TNI-Polri dan Meskokesra selama 4 bulan di Tana Toraja dan Toraja Utara, melibatkan 130 personil yang terdiri dari TNI-Polri Pusat 50 orang dan 15 sipil, TNI-Polri lokal 30 orang, serta Instansi terkait tidak termasuk tim media peliput sebanyak 35 orang.
Buang Adri menjelaskan kegiatan ekspedisi NKRI di Tana Toraja dan Toraja Utara, didasari surat Panglima TNI Nomor.B/1677-07/12/07/Ops tanggal 15 Mei 2012 tentang ekspedisi TNI dalam program Kemenkokesra, Surat Kemenkokesra RI Nomor. 647/UND/KMK/SES/VI/2012 tanggal 4 Juni 2012 tentang penyelenggaraan ekspedisi tahun 2013, dan hasil seminar ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013 tanggal 5 Nopember 2012.
Selama berlangsung ekspedisi NKRI di Toraja, imbuh dia, kegiatan tim ekspedisi selain melakukan jelajah hutan, gunung dan sungai, juga penelitian kerusakan hutan, geologi dan potensi bencana, pendataan flora dan fauna, serta sosial budaya, wawasan kebangsaan dan kepramukaan.
Ditambahkan Fasi Teritorial Dandim Toraja Kapten Joni Rante, tema ekspedisi di Toraja tahun ini “Peduli dan Lestarikan Alam Indonesia”, dimaksudkan untuk mendata dan meneliti segala potensi kekayaan alam di hutan, gunung dan pegunungan dengan sasaran peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Demikian pula bangkitkan kesadaran keunggulan teritorial daerah utamanya memberikan keteladanan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan melalui program green, clean dan healthy.
posting :kabartoraja.com
»»   Selengkapnya...

Minggu, 03 Maret 2013

TORAJA, WISATA MISTIS TERNAMA DI DUNIA


TNO-Tana Toraja, Destinasi mistis yang satu ini pasti sudah banyak yang tahu. Lokasinya berada di Indonesia, tepatnya di Tana Toraja, sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan, 300 km dari Kota Makassar. Pemandangan alamnya memang indah, tapi di balik itu ada aura mistis yang sangat kental menyelimuti kawasan ini.
Di sini terdapat pemakaman yang terbilang agak aneh. Jika biasanya jasad dikubur di dalam tanah, tapi hal tersebut tidak berlaku di Tana Toraja. Di sini, jenazah di simpan di dalam peti yang kemudian diletakkan pada sebuah gunung batu granit.
Jika memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Tana Toraja, datanglah saat prosesi upacara kematian sedang berlangsung.
Ada yang aneh saat kegiatan tersebut berlangsung, mayat yang akan dibawa ke tempat pemakaman tidak diusung, tapi berjalan sendiri. Ya, itulah kenapa Tana Toraja juga mendapatkan sebutan sebagai ‘Negeri Orang Mati yang Hidup’.
»»   Selengkapnya...

Minggu, 04 November 2012

Lapor Jika Ada Orang Asing yang Mencurigakan

Bupati Torut : Waspadai Teroris
RANTEPAO--- Bupati Toraja Utara, Frederik Batti Sorring menyerukan kepada semua masyarakat Toraja Utara agar menjaga keamanan, ketertiban, dan kedamaian serta selalu mewaspadai ancaman terorisme. Apalagi, Toraja Utara sebagai salah satu daerah tujuan wisata, perlu dijaga dan menjamin kondisi keamanan.
''Kita perlu menjaga ini, demi kenyamanan dan keamanan wisatawan yang datang ke Toraja, khususnya di Toraja Utara,'' kata Sorring dalam pertemuan antara pengusaha angkutan bus dengan pemerintah daerah, Polsek Rantepao serta Kodim 1414 Tana Toraja di Rantepao, belum lama ini di ruang pola bupati.
Dikatakan Sorring, bila ada orang asing ditemukan dan mencurigakan, agar segera menghubungi pihak kepolisian.
Hal itu kata dia, sebagai salah satu cara efektif mendukung dan mengantisipasi adanya ancaman terorisme yang ingin masuk di wilayah Toraja Utara.
Salah satu kesepakatan dalam rapat pertemuan itu, disepakati semua pengusaha angkutan bus diwajibkan memasang semacam papan informasi di atas kendaraan masing-masing yang intinya penyampaian informasi kepada para penumpang untuk lebih waspada dan berhati-hati terhadap keselamatan, keamanan, dan kenyaman penumpang.
''Dalam papan informasi teresebut, salah satu yang terpenting untuk diinformasikan adalah nomor-nomor telepon penting yang mudah dihubungi bila ada hal-hal yang mencurigakan dan mengancam keselamatan penumpang,'' kata Sorring.
Dalam hal penulisan papan informasi, agar seragam tulisannya dan mudah dimengerti oleh para penumpang.
Makanya, perlu ada kerjasama antara Dinas Perhubungan, para pengusaha angkutan bus dan kepolisian.
''Mengenai model dan bentuk penulisan, supaya seragam,'' harap Kapolsek Rantepao, Kompol. Y. Lute Lantang. (cr6/uce/t)





posting : Dat Palebangan
»»   Selengkapnya...

Sabtu, 03 November 2012

Makula' Minim Fasilitas, Pengunjung Membludak

TNO-Sangalla', Beberapa objek wisata di Tana Toraja sudah diminati oleh masyarakat Tana Toraja dan Toraja Utara, juga di sekitar Kabupaten ini. Sebut saja, Objek wisata Permandian Air Panas MAKULA' yang berada di Kecamatan Sangalla' Selatan setiap harinya ramai dikunjungi. Apalagi saat hari libur dan hari raya lainnya.

Objek wisata ini sudah beroperasi sejak tahun 80-an, bahkan sudah dilakukan perbaikan disana-sini, pengelola yang sekarang sudah menginvestasikan biaya untuk objek wisata ini. Tetapi masih kurang fasilitas yang memadai, termasuk kolam yang sudah tidak representatif lagi dengan melonjakkan pengunjung. Semoga Pemkab Tana Toraja bisa memikirkan peningkatan pelayanan objek wisataini. (alex)
»»   Selengkapnya...

Sabtu, 25 Agustus 2012

Proyek Wisata Rohani Mulai Digarap

MAKALE– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tana Toraja mulai menggarap proyek pembangunan kawasan objek wisata religi di Buntu (bukit) Burake, Kecamatan Makale.

“Pembangunan jalan wisata menuju Buntu Burake sepanjang 400 meter sudah selesai dilakukan. Begitu juga areal parkir kendaraan di puncak Buntu Burake dengan ketinggian sekitar 1.000 meter dari permukaan laut sudah dirampungkan,” ujar anggota DPRD Tana Toraja,Yohanis Lintin Paembongan saat meninjau pengerjaan jalan ke lokasi wisata, kemarin. Dia mengatakan, meski jalan wisata dari Paku Pangleon menuju Buntu Burake belum diaspal,namun sudah bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat.

Sebab, badan jalan sepanjang 400 meter itu merupakan batu cadas yang dipahat,sehingga mobil yang akan menuju atau dari puncak Buntu Burake tidak mengalami kesulitan saat melalui jalur tersebut. Dia mengungkapkan, pembukaan jalan wisata serta tempat parkir kendaraan di kawasan objek wisata tersebut menghabiskan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) 2012 sebesar Rp814 juta.

Rencananya, pemerintah akan terus mengembangkan objek wisata Buntu Burake melalui proyek multiyear (berkelanjutan) hingga layak dijadikan objek wisata rohani. “Pembangunan kawasan wisata religi ini sudah dibuat Perda (peraturan daerah), sehingga kewajiban kami sebagai anggota DPRD menyetujui alokasi anggaran setiap tahunnya,” katanya.

Sebelumnya, Bupati Tana Toraja Theofilus Allorerung mengatakan,daerahnya memiliki potensi pariwisata yang cukup banyak,tetapi belum digarap maksimal. Salah satunya yakni Buntu Burake yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata. Rencananya, pemerintah akan memanfaatkan kawasan Buntu Burake sebagai kawasan wisata religius serta didukung pemandangan alam di sekitarnya. “Pembangunan kawasan Buntu Burake diperkirakan berlangsung selama tiga tahun,” ujarnya.

Sesuai perencanaan awal, kata dia, di sekitar kawasan Buntu Burake akan dibangun anak tangga sebanyak 7.777 buah hingga ke bagian puncak. Jumlah anak tangga itu sesuai dengan keyakinan awal suku Toraja yakni ajaran Aluk Sanda Pitunna. _ joni lembang

posting : sindo
»»   Selengkapnya...

Rabu, 11 Juli 2012

SEAN Dipanggil Konser Di Toraja

SEAN di Toraja (dok. family)
TNO-Rantepao, Runner up Indonesian Idol Kamasean Y Matthews alias SEAN dipanggil menggelar konser perdana di luar panggung spektakuler di kampung halamannya, Toraja Utara.
Jika tidak bisa di Toraja,pihak keluarga meminta konser perdananya digelar di Makassar. Keluarga serumpun Sean, Surya Bobi Lande,mengakui bahwa manajemen Idonesian Idol tengah dilobi agar mengizinkan Sean tampil di Rantepao, ibukota Toraja Utara. “Bapaknya sudah meminta Sean menggelar konser perdana di Toraja atau Makassar. Tapi dilobi dulu ke manajemen Indonesian Idol karena Sean terikat kontrak,” kata Surya Bobi Lande,kemarin.
Menurut Surya, ayah Sean, Yoce D Mattheus,mengemukakan bahwa kemungkinan Sean konser perdana di Makassar cukup besar karena sudah diundang oleh manajemen Balezza Cafe & Resto untuk konser di Makassar pada 13 Juli. Yoce adalah seorang pendeta yang lahir di Kecamatan Tikala,Toraja Utara. Surya menyebut Sean sudah beberapa kali menyambangi Tikala. Selama Indonesian Idol digelar, masyarakat Toraja juga memberikan dukungan luar biasa kepada Sean. Meski pencapaian Sean di Indonesia Idol hanya di posisi kedua dan juara pertama diraih Regina, hal itu tidak membuat mereka kecewa.
“ Tidak kurang dari 20 ribu warga Toraja telah mendukung Sean di jejaring sosial Facebook dengan grup 1 Juta Dukungan untuk Sean,”ucapnya. Nontong bareng Indonesian Idol di Kampoeng Popsa dihadiri sekitar 500 orang yang dikoordinir tim pendukung calon gubernur dan calon wakil gubernur Sulsel Ilham Arief Sirajuddin- Azis Qahhar Mudzakkar (IA). Mereka mendukung Sean menjadi The Next Indonesia Idol. Tim IA dalam nonton bareng ini membombardir SMS dukungan kepada Sean.Selain itu,panitia juga menjual souvenir dan kaos putih tertulis IA Dukung Sean.
Kaos seharga Rp50.000 ini ludes dibeli pendukung Sean sebelum konser Idol dimulai. Surya Bobi yang juga tim pemenangan IA mengatakan, pada malam grand final,mereka menyiapkan dana Rp40 juta untuk SMS dukungan kepada Sean. Dia mengklaim sejak mendapat dukungan tim IA, suara Sean selalu pada posisi teratas.“Minggu lalu kami memasukkan Rp20 juta. Malam ini kami target dua kali lipat untuk bombardir SMS.IA mendukung Sean tidak lebih karena Pak Ilham punya darah Toraja,” ujarnya.
Panitia Nonton Bareng bertema IA Dukung Sean, Ancu Mappa, menggatakan, pihaknya menyebar 300 undangan, belum termasuk relawan IA untuk nonton bareng mendukung Sean. Hampir seluruh kepala Dinas Pemerintah Kota Makassar hadir dalam nonton bareng ini. Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin bersama istri Aliyah Mustika juga hadir di Kampoeng Popsa sekitar pukul 23.20 Wita. Salah satu tokoh Toraja yang juga calon Wali Kota Makassar Annar Sampetoding serta pengusaha Ilhamsyah Mattalatta juga hadir dalam acara tersebut.
Sebelum acara Indonesian Idol dimulai, penonton antusias menyaksikan pemutaran film pertama yang diperankan oleh anak-anak di Makassar berjudul Jejak-Jejak Kecil. Film yang diproduksi Tetta Production bekerja sama Dinas Pariwisata Makassar ini menceritakan tentang persahabatan lima anak SMP yang mewakili semua suku di Sulsel. Kelima anak penuh semangat dan pantang menyerah itu sukses membangun sebuah rumah baca sederhana di sebuah kelurahan. [supyan um]
Sumber: Sindo
»»   Selengkapnya...