merdeka.com/arie basuki
Perjuangan
pasukan loreng yang terdiri dari Pasukan Khas TNI AU dan Komando
Pasukan Khusus (Kopassus) dalam mencari korban pesawat Sukhoi Superjet
100 bukan cerita sumir. Kisah mereka membelah Gunung Salak, melintas
tebing yang curam, patut diacungi jempol.
Sejak pesawat buatan
Rusia itu dikabarkan hilang sekitar Gunung Salak, Bogor, pada hari Rabu
(9/5), Tim SAR dibantu TNI, Polri langsung bergerak ke lokasi untuk
melakukan pencarian.
Kamis pagi, saat Presiden SBY mengumumkan
pesawat buatan Rusia itu jatuh, tim pun semakin mengintensifkan
pencarian mereka di sekitar jurang di Batu Tapak, Cidahu, Bogor.
Dipimpin
Mayor S Tambunan, tim Paskhas TNI AU bergerak ke puncak Gunung Salak
melintasi jalur pendakian dari arah pos Kandang Sapi, Cipelang. Jumat
pagi sekitar pukul 05.00 WIB, tim pun tiba di puncak Gunung Salak I.
Di
luar dugaan, tim ini langsung melihat bangkai dan korban pesawat nahas
itu. Karena titik pesawat berada di Puncak Gunung Salak II, tim
akhirnya memecah pasukan menjadi dua.
Di puncak Gunung Salak II
mereka bertemu dengan tim SAR gabungan lainnya. Medan yang berat tentu
tidak menyurutkan semangat mereka untuk segera sampai ke lokasi
serpihan pesawat di bawah tebing yang curam. Dengan menggunakan tali
yang panjangnya hanya 50 meter, mereka coba mencapai titik di mana para
korban dan puing-puing berserakan.
Pasukan kedua yang dipimpin
Kopral Musidi pun turut semangat. Walau tali yang dibawa hanya 50
meter, mereka tak kehabisan akal. Tim coba menggunakan pohon rotan yang
melintang untuk menuju dan mengevakuasi korban yang berada di badan
pesawat.
"Kami pecah kekuatannya, saya dengan Kopral Musidi,
kemudian turun merapat ke sungai," kisah Mayor S Tambunan kepada
wartawan di Posko Pongkor, Bogor, Minggu (13/5).
Usaha mereka
membuahkan hasil. Sekitar pukul 10.20 WIB di hari yang sama, tim
berhasil menemukan tiga korban pesawat Sukhoi. Satu korban ditemukan di
sungai dan dua korban ditemukan tersangkut di pohon. Mereka menduga
satu orang yang ditemukan di atas pohon tersebut adalah awak kapal
karena korban tersebut masih mengenakan seragam.
"Satu korban yang kita temukan menggantung di atas pohon adalah awak pesawat, karena masih mengenakan seragam," terangnya.
Dia
tak memungkiri, saat ditemukan kondisi jasad korban memang sangat
mengenaskan. Tubuh mereka terbakar dan tidak lagi utuh. Bahkan tubuh
yang diduga jasad awak maskapai itu sudah mengecil karena cairan
tubuhnya sudah menetes.
"Yang diduga sebagai awak pesawat bagian badannya sudah mengecil, karena cairan tubuhnya sudah menetes," tambahnya.
Hari
ini, S Tambunan dan seluruh pasukannya sudah kembali ke posko Kandang
Sapi, Cipelang, Cijeruk, Bogor. Hari ini pula pencarian akan
dilanjutkan kembali. Walau seragamnya lusuh dan kondisi tubuhnya juga
terlihat menurun, namun mereka tetap semangat menjalani misi sosial ini.(ren)
Posting : merdeka.com
»» Selengkapnya...