Minggu, 10 September 2017

Perhutanan Sosial, Kini Masyarakat Legal Mengelola Hutan



Perhutanan Sosial, Kini Masyarakat Legal Mengelola Hutan

Kategori Artikel GPR | marroli

Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rabu, 6 September 2017. Membangun Indonesia dari pinggiran, didefinisikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), salah satunya melalui program Perhutanan Sosial, sebuah program nasional yang bertujuan untuk melakukan pemerataan ekonomi dan mengurangi ketimpangan ekonomi melalui tiga pilar, yaitu: lahan, kesempatan usaha dan sumberdaya manusia. Perhutanan Sosial juga menjadi benda legal untuk masyarakat disekitar kawasan hutan untuk mengelola kawasan hutan negara seluas 12,7 juta hektar.

Akses legal pengelolaan kawasan hutan ini, dibuat dalam lima skema pengelolaan, yaitu Skema Hutan Desa (HD) hutan negara yang hak pengelolaannya diberikan kepada lembaga desa untuk kesejahteraan desa. Hutan Kemasyarakatan (HKm), yaitu hutan negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat setempat. Hutan Tanaman Rakyat (HTR/IPHPS), adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok masyarakat untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur dalm rangka menjamin kelestarian sumber daya hutan. Hutan Adat (HA), dimana hutan ini adalah hutan yang berada di dalam wilayah masyarakat hutan adat. Skema terakhir adalah Kemitraan Kehutanan, dimana adanya kerjasama antara masyarakat setempat dengan pengelola hutan, pemegang Izin Usaha Pemanfaatan hutan, jasa hutan, izin pinjam pakai kawasan hutan atau pemegang izin usaha industri primer hasil hutan.

Pelaku Perhutanan Sosial adalah kesatuan masyarakat secara sosial yang terdiri dari warga Negara Republik Indonesia, yang tinggal di kawasan hutan, atau di dalam kawasan hutan negara, yang keabsahannya dibuktikan lewat Kartu Tanda Penduduk, dan memiliki komunitas sosial berupa riwayat penggarapan kawasan hutan dan tergantung pada hutan, dan aktivitasnya dapat berpengaruh terhadap ekosistem hutan.

Perhutanan Sosial mulai di dengungkan sejak tahun 1999, keadaan Indonesia yang masih gamang pasca reformasi, menjadikan agenda besar ini kurang diperhatikan. Pada tahun 2007 program Perhutanan Sosial ini mulai dilaksanakan, namun selama lebih kurang tujuh tahun  hingga tahun 2014, program ini berjalan tersendat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat selama periode 2007-2014, hutan yang terjangkau akses kelola masyarakat hanya seluas 449.104,23 Ha. Untuk itu setelah periode tersebut dilakukan percepatan-percepatan, dan selama kurang lebih tiga tahun masa Kabinet Kerja, telah tercatat seluas 604.373,26 Ha kawasan hutan, legal membuka akses untuk dikelola oleh masyarakat.

Dalam pelaksanaannya hingga saat ini, sejumlah 239.341 Kepala Keluarga (KK), telah memiliki akses legal untuk mengelola kawasan hutan nusantara, dan sejauh ini sosialisasi dan fasilitasi juga telah dilakukan kepada 2.460 kelompok, dimana fasilitasi yang diberikan adalah dalam bidang Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki target untuk membentuk dan memfasilitasi lebih kurang 5000 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial di Indonesia hingga tahun 2019.

Niatan menyejahterakan masyarakat Indonesia ini, bukan tidak memiliiki tantangan. Jauhnya masyarakat dari akses infrastruktur menjadi salah satu kendala terlaksananya verifikasi kelompok masyarakat, dan sering kali menjadi hal yang membuat terlambatnya sosialisasi program ini. Dalam pendampingan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerjasama dengan multi pihak, termasuk LSM, dan program ini tentu saja membutuhkan banyak pendamping yang turun ke lapangan, yang memberikan pengetahuan dan pengidentifikasian potensi kawasan hutan, pengembangan usaha, serta pemasaran hasil usaha masyarakat, yang sering kita sebut sebagai akses ekonomi,hingga penguatan legal, sehingga masyarakat mampu mengadvokasi dirinya sendiri.

Akses legal mengelola kawasan hutan ini, diharapkan menjadi jembatan yang mampu memberikan bentuk nyata dari kehadiran negara dalam melindungi segenap bangsa Indonesia, dan memberi kesejahteraan bagi masyarkat daerah terdepan Indonesia. Perhutanan Sosial, ini saatnya hutan untuk rakyat.  Ini juga menggambarkan implementasi dari Nawacita ke enam, yang  ertujuan meningkatkan produktivitas masyarakat serta daya saing di tingkat internasional, sehingga bisa bersaing dengan negara-negara ditingkat ASEAN lainnya. Mewujudkan masyarakat yang mandiri secara ekonomi melalui sektor-sektor ekonomi strategis domestik, juga menjadi landasan dari program Perhutanan Sosial ini dilaksanakan.(***)


Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
Djati Witjaksono Hadi - 081375633330
Bersama Tim Komunikasi Pemerintah Kemkominfo 
»»   Selengkapnya...

Sabtu, 05 Agustus 2017

Malam Minggu "Si Jago Merah" Melahap Pasar Bolu Toraja Utara

Ranteapo-TNO, Kesibukan masyarakat kota rantepao di malam hari, mempersiapkan kebutuhannya di esok Hari Ahad tersandera oleh berita "Bolu Terbakar". Betapa tidak? Pasar Bolu yang selama ini jadi Pusat Perkonomian masyarakat, bukan di Toraja Utara, bahkan beberapa Kabupaten sekitarnya.

Sabtu (5/8) malam, ratusan masyarakat memadati sekitar areal yang terbakar, jerit tangis dan riuh rendah suara memekikkan telinga, orang-orang berseliweran berusaha menyelamatkan barang-barang dan lapaknya yang masih bisa diselamatkan. Apa daya, api sudah membakar ruko dan dagangan para pedagang. Seorang ibu separuh baa beserta anak kecilnya, hanya mampu meratapi dagangannya yang ludes dilahap si Jago Merah. Sampai berita dishare, TNO belum mendapatkan konfirmasi taksiran kerugiannya. (fb)




»»   Selengkapnya...

Minggu, 06 April 2014

BARU DIGUYUR HUJAN BEBERAPA JAM, KOTA MAKALE TERENDAM

Makale-TNO, Derasnya hujan dan yang mengguyur Bumi Lakipadada sejak siang tadi mengakibatkan sejumlah jalan tergenang air, diperparah selokan yang tersumbat dan tertutup beton pembangunan baru. Seprti yang terlihat dibeberapa tempat malam imi. Sebut saja, Areal Plaza Makale sekitar kolam, air yang menggenangi jalan menyulitkan para pengendara, penjual kaki lima yang biasanya menjual di areal panggung kota makale tidak ada yang berjualan. Air juga menggenangi jalan sekitar Kantor Pengadilan makale, luapan banjir bahkan terlihat jelas dari samping BRI di Pantan. Beberapa kantor tergenang, rumah-rumah penduduk juga ikut tergenang, dan beberapa keluarga sempat kluar dari rumah mereka menyelamatkan barang-barangnya berikut ternak babi yang juga terendam banjir.

Kondisi ini memang terkadang tidak diantisipasi Pemerintah dan utamanya masyarakat, ada yang membangun dan menutupi jalan, bahkan mempersempit sungai dan lainnya membangun menutup selokan utama, inilah akibatnya! Baru diguyur hujan siang tadi sudah banjir.

Tidak jauh berbeda yang dialami Rumah Sakit Umum Daerah Lakipadada, air menerobs dan membobol tanggul yang ada, bahkan air masuk menjenguk para pasien dan penjaga yang sempat kepanikan, beberapa orang berlarian menyelamatkan barang-barang elektronik, menguras air banjir dan terlihat para perawat dan staf rumah sakit dibuat panik dan " olahraga malam". Beruntung kesigapan pengelola RSUD Lakipadada dipimpin Dirutnya dr. Rudhyanto Andilolo dengan bekerja keras membersihkan luapan air yang datang. "Kami sudah menanganinya dan banjir ini karena bobolnya talud, kami juga sudah meredakan keluhan para pasien dan penjaga" diungkapkan dr. Rudy lewat media sosial. (r1an)

(semua foto: dok. dr.Rudhy AL)
»»   Selengkapnya...

Selasa, 04 Februari 2014

Sejumlah Rumpun Bambu Tumbang, Alur Menuju Bandara Rantetayo Sempat Tertutup

Mobil yg berbalik arah tertahan pepohonan yang tumbang
Makale-TNO, Sore ini hujan deras mengguyur kota Makale dan sekitarnya, seperti yang terjadi di sekitar Kelurahan Batupapan (To'salak) arah Bandara Rantetayo. Hujan deras yang disertai butiran es (buah uran) sempat jadi tontonan dan mengagetkan masyarakat yang melihatnya, pasalnya sementara hujan ada butiran es, ditambah angin kencang dan menumbangkan beberapa rumpun pepohonan dan empat mengenai jaringan kabel PLN. Beruntung kesigapan masyarakat sekitar dan petugas PLN ranting Makale yang langsung turun ke lokasi, membuka kembali jalur tersebut. (r1an)

»»   Selengkapnya...

Selasa, 19 November 2013

Pertambangan di Tana Toraja Jadi Rebutan

Pertambangan di Tana Toraja Jadi RebutanMakale-TNO, Selain pariwisata, sektor pertambangan juga potensial di Tana Toraja. Sejumlah perusahaan pun mulai memperebutkan lahan pertambangan untuk dieksplorasi.

Setidaknya kini, tiga perusahaan yang memperebutkan areal tambang di Toraja. Ketiga perusahaan itu adalah PT Christina Explo Mining (CEM), PT Makale Toraja Mining (MTM), dan PT Sumber Mineral Celebes.
“Areal tambang itu menjadi rebutan sehubungan dengan terbitnya Surat Keputusan Bupati Tana Toraja kepada PT Christina Explo Mining terhadap lokasi pertambangan yang terletak Kecamatan Bittuang, Lembang Sasak,” kata Resdianto Willem, kuasa hukum Makale Toraja Mining.
Ia mengatakan surat keputusan bupati itu mengakibatkan terjadinya tumpang tindih sebagian lahan yang telah diberikan sebelumnya kuasa atau izin eksplorasi kepada PT Makale Toraja Mining (MTM). Resdianto mengatakan pemberian izin tersebut telah mengakibatkan kerugian besar yang dialami PT MTM.
“Kami sudah klarifikasi ke Bupati Tana Toraja dalam hal ini Kepala Dinas Pertambangan dan Energi atas terbitnya SK tersebut melalui permohonan resmi yang disampaikan pada tanggal 10 Agustus 2012. Namun hingga kini pihak Dinas Pertambangan dan Energi belum mengklarifikasi,” kata dia.
Resdiyanto menambahkan Informasi yang diperoleh bahwa adanya izin eksplorasi yang dimiliki oleh PT CEM adalah dengan permohonan izin untuk pengalihan dari PT Sumber Mineral Celebes (SMC) yang telebih dahulu memiliki izin Eksplorasi seluas 1000 Ha kepada PT CEM. Akan tetapi pihak PT SMC membantah adanya pengalihan tersebut, dan sama sekali PT SMC tidak pernah mengenal apalagi untuk memindahtangankan penguasaan kepada PT CEM.

“Yang lebih ironi lahan yang sebelumnya dikuasai PT SMC seluas 1000 hektare, kini berkembang menjadi 5700 hektare atas izin yang dimiliki PT CEM atas dasar adanya pengalihan tersebut. Hal ini mengindikasikan adanya dugaan pemalsuan data yang dilakukan yang melibatkan oknum pemda setempat,” katanya lagi.
Bupati Tator, Theofilus Allorerung, yang dikonfirmasi tentang penerbitan izin tambang ini gagal diperoleh keterangannya, Beberapa kali dihubungi via telepon tetapi telepon genggamnya dalam kondisi tidak aktif.

posting : MediaMakassar.com
»»   Selengkapnya...

Senin, 18 November 2013

"Pengawet Mayat" Dikonsumsi Melalui Ikan



Makale-TNO, Sungguh memprihatinkan, yang selama ini hanya digunakan untuk mengawetkan mayat yang akan disimpan untuk prosesi pemakaman yang masih memakan waktu lama, juga dijadikan pengawet ikan yang dikonsumsi oleh masyarakat di Toraja. Ikan-ikan yang diberi pengawet biasanya memang tahan lama dan tidak disukai lalat. Karena banyaknya bahan makanan yang terindikasi diawetkan dengan Formalin (Formaldehide) ini akan merusak jaringan tubuh, walaupun tidak secara langsung.
Hal inilah yang mendorong Pemerintah Kabupaten Tana Toraja melakukan "SIDAK PASAR" hari ini, dibeberapa pasar yang didatangi, ditemukan bahan pengawet makanan yang berasal dari Formalin, dan ini sangat merugikan konsumen. Sebaiknya BPPOM dan  pihak terkait menindak para Penjual yang tidak bertanggungjawab tersebut, dengan mencabut izin operasional mereka. (tim)
»»   Selengkapnya...

Kamis, 19 September 2013

Rantepao Berbenah Diri, Semarakkan malam Bertaburan Cahaya

Tampak leadernya- Daud K Tangdilintin
Rantepao-TNO (19/9) Kala kita melintas di jalur utama Rantepao, utamanya di malam hari terkesan gelap, dan penataan yang tidak maksimal. Hal ini akan tergantikan oleh ornamen lampu sebagai penerangan jalan di jalur utama. Kota Rantepao seharusnya sudah menjadi sebuah Kota seperti Palopo, tapi bukan itu intinya. Intinya adalah nyatakan kecantikan Rantepao kota idola para wisatawan.(tim)
»»   Selengkapnya...

Sabtu, 20 Juli 2013

Longsor Kembali Menimbun Mobil dan Pengendaranya Di Tana Toraja

Tana Toraja (TNO), Jumat(19/7) terjadi bencana longsor di Kecamatan Rembon, dimana 2 mobil tertimbun tanah longsor. Korban Siten (58) masih dicari keberadaannya. Sementara Bahar yang bermaksud membantu menarik mobil yang tertimbun menggunakan mobil dinas Pemkab Tana Toraja ikut tertimbun, beruntung masih bisa diselamatkan cuma mengalami luka ringan di bagian tangannya, saat ini masih dirawat di RSUD Lakipadada Makale. Beberapa orang anggota Pasukan Siaga Bencana (PSB) juga ikut membantu pencarian korban.

ilustrasi
Dandim Tator,Letkol (Inf) Erwin Ferdinand yang baru menjawab langsung merespon dengan menurunkan pasukannya membantu di lokasi longsor. Bahkan terjadi pula bencana longsong di Kecamatan Sangalla' Selatan, dimana kurang lebih 7 rumah rusak akibat tanah longsor beruntung tidak menyebabkan korban jiwa.

Saat dikonfirmasi, Dandim Tator membenarkan adanya bencana Tana longsor di Kecamatan Rembon dan Sangalla' Selatan, dikatakannya " Aggota kita sudah di lokasi untuk membantu masyarakat dan korban akibat longsor ini".(fer)
»»   Selengkapnya...

Selasa, 19 Maret 2013

Batu Hampar, Bukti Sejarah Raja-Raja Bugis Di Malaysia

Batu Hampar yang ada di Kuala Selangor, Malaysia adalah salah satu situs peninggalan para keturunan raja Luwu Bugis yang pernah memangku pemerintahan kerajaan. Menurut kisah sejarahnya, batu Hampar ini merupakan tempat orang-orang Bugis Luwu memenggal Kepala Musuh, tersangka kasus kejahatan ataupun penjahat. Situs ini Terletak di bukit pintu masuk kota Melawati, Selangor. Permukaan batunya berukuran 5 x 5 x 2 kaki. Batu tempat eksekusi ini sudah ada pada jaman Raja Lumu Sultan Salehuddin Syah Ibni Almarhum Daeng ChelaK 1705–1778 — di Pulau Sudong.
Kerajaan Selangor merupakan kerajaan terakhir yang muncul pada abad 18 dan diasaskan oleh Bugis di mana Raja Lumu yang menjadi Sultan Selangor yang pertama dengan gelaran Sultan Salehuddin Syah. Dalam silsilahnya disebutkan bahwa Raja Lumu ini adalah anak dari Daeng Celak (Opu Daeng Cella). Sampai saat ini, pemangku kerajaan Selangor masih merupakan keturunan dari kerajaan Luwu.
batu hampar 2Batu Hampar ini dahulunya berada dalam kawasan istana kota pertahanan kedua dimana terdapat tiga undakan tangga menuju halamannya seluas 30 x 30 kaki. Keunikan batu hampar itu adalah terletak diatas pasir namun posisinya tetap berdiri tegak tidak miring sedikit pun. Letaknya diatas bukit Melawati berjarak sekitar 100 meter dari kawasan Istana. Diketahui pula bahwa bukit ini merupakan tempat menyimpan harta kerajaan.
Kisah-kisah yang ada menceritakan bahwa batu Hampar ini digunakan sebagai tempat menghukum pezinah dengan memenggal lehernya. Darahnya ditampung kemudian disebarkan disekeliling areal batu Hampar itu. Namun seorang keturunan panglima perang kerajaan Selangor yakni Encik Nokik Bin Lakik yang senantiasa mencermati kisah sejarah di bukit Melawati itu menceritakan lain. Ia menegaskan bahwa batu Hampar itu dulunya merupakan tempat bersemayam Sultan Selangor terutama menyambut para tetamu yang akan membayar upeti kepada kerajaannya. Selain itu, batu Hampar itu juga difungsikan sebagai meja untuk bermain catur sang Sultan. Banyak pihak yang mengerti sejarah masa silam kerajaan Selangor membenarkan hal itu. (sumber: bluesriders / foto: Raja Luwu Bugis Sawerigading)
»»   Selengkapnya...

Jumat, 15 Maret 2013

Lahan Kritis Toraja Potensial Bencana

TNO-Toraja, Penyebaran Lahan Kritis di Kabupaten Tana Toraja hampir pada semua kawasan hutan baik hutan produksi maupun hutan lindung, Lahan Kritis terjadi pula pada lahan-lahan di luar kawasan hutan sehingga secara kumulatif akan berakibat pada semakin kritisnya kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS).

Luas lahan kritis (di dalam maupun di luar kawasan hutan) di Kabupaten Tana toraja sampai Tahun 2010 meliputi : kriteria sangat kritis 68.643 Ha, kritis mencapai 43.235 Ha, agak kritis seluas 16.707 Ha dan Tidak kritis seluas 79.919 Ha. lahan kritis tersebut sebagian besar tersebar di didalam kawasan hutan terutama pada Kawasan hutan Lindung yaitu seluas 43.885 Ha dengan tingkat kekritisan mulai dari Sangat Kritis (SK) sampai dengan Agak Kritis (AK), pada Kawasan hutan produksi terbatas lahan kritis seluas 13.115 Ha, sedangkan pada Areal penggunaan lain (APL) terdapat lahan kritis seluas 71.585 Ha dengan tingkat kekritisan Agak Kritis sampai Sangat Kritis. Sebagian besar lahan kritis yang ada di kabupaten Tana Toraja terdapat di Kecamatan Simbuang, Kecamatan Bonggakaradeng dan Kecamatan Masanda.

Berdasarkan Peta Penujukan Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan No.SK.434/KPTS-II/2009 Tanggal 23 Juli 2009. Alokasi penggunaan lahan dan kawasan hutan di Kabupaten Tana Toraja adalah sebagai berikut
,  Kawasan Hutan Lindung seluas 92.628 ha,  Kawasan Hutan Produksi Terbatas  seluas 20.175 ha, Kawasan Penggunaan Lainnya/APL (Perkebunan, Pertanian, Peternakan, Pertambangan, Pemukiman dan Industri, dll) seluas 95.447 ha.
Kawasan hutan tersebut terbagi dalam beberapa kelompok hutan antara lain : Kelompok Hutan  Buntu Massila/Buntu Karua (HL dan HPT), Kelompok Hutan Latimojong (HL), Kelompok Hutan Tumborera (HL), Kelompok Hutan Batualu (HPT), Kelompok Hutan Mapongka (HPT), Kelompok Hutan Ponean (HPT), Kelompok Hutan Buntu Gasing/Buntu Ambeso (HPT).(FMC)
»»   Selengkapnya...

Kamis, 14 Maret 2013

Dangke, Keju Khas Satu-satunya Di Indonesia

Humanity | Indra J Mae

TNO-Enrekang, Keju merupakan salah satu makanan bernutrisi tinggi yang paling terkenal didunia dan menjadi bahan pangan utama di Eropa. Keju merupakan hasil produksi dari pengentalan susu murni dan diduga pertama kali ditemukan di timur tengah. Di Indonesia, Keju menjadi salah satu makanan pelengkap bergengsi untuk masyarakat menengah keatas.
Tahukah anda bahwa di Indonesia, satu-satunya daerah penghasil makanan seperti keju ini ada di Enrekang Sulawesi Selatan. Keju lokal ini merupakan makanan tradisional yang populer di masyarakat Sulsel dengan nama Dangke.  Makanan khas masyarakat Enrekang ini dibuat dengan menggunakan susu kerbau atau sapi sebagai bahan bakunya dan diolah melalui proses penggumpalan susu dengan bantuan enzim protease dari daun dan buah pepaya.
Prosesnya sederhana yaitu air susu sapi/kerbau disaring untuk memisahkan kotoran dengan susu sebelum dilakukan fermentasi. Air susu kemudian dimasak dengan suhu minimal 70 derajat Celsius, kemudian dicampur getah pepaya. Getah ini untuk memisahkan lemak, protein, dan air. Selain itu, getah pepaya berfungsi untuk memadatkan bahan susu. Setelah lemak, protein, dan air dipisahkan, barulah dilakukan proses mencetak. Alat yang digunakan untuk mencetak dangke juga menggunakan alat tradisional, yakni tempurung kelapa. Usai proses tersebut, Dangke yang berwarna keputihan dengan bentuk kerucut itu pun dibungkus daun pisang agar tahan lama.
Sampai saat ini, Dangke masih diproduksi oleh industri-industri kecil masyarakat setempat dengan cara tradisional. Kendati Dangke menjadi produk komoditi unggulan Kabupaten Enrekang dan cukup digemari namun pola produksi dan strategi pemasarannya belum memadai sama sekali. Dinas Pariwisata Enrekang mengakui bahwa produk Dangke ini sudah menyeberang ke negara Malaysia dan Jepang namun pengembangan produksinya masih berjalan dilevel industri kecil. Belum ada investasi besar yang meliriknya karena minim promosi dan belum menjadi skala perioritas.
Masalah utama penyebab tidak populernya makanan tradisional dangke adalah karena kurangnya sentuhan teknologi produksi dan pengemasan tata saji. Produk dangke akan memiliki nilai jual dan selera yang tinggi jika disajikan dengan cara yang lebih kontemporer melalui sentuhan teknologi dan tangan-tangan pemasak-pemasak handal.Selain itu, ketersediaan bahan baku yang berasal dari ternak sapi dan kerbau harus menjamin stok kebutuhan produksi dengan jaminan kualitas yang tinggi.
Kebijakan dan program jangka pendek yang diperlukan dalam mengembangkan makanan tradisional adalah menciptakan kondisi agar para konsumen lokal pulih kembali untuk mengkonsumsi makanan tradisional. Hal ini dapat ditempuh dengan penyuluhan pangan dan gizi, sosialisasi di warung makan lokal, Hotel dan restoran, Supermarket melalui tata saji, tata makan dan strategi promosi yang profesional. Penanganan ini tentunya bukan hanya pemerintah daerah Enrekang saja yang harus berjibaku namun perlu perhatian khusus dari pemerintah propinsi untuk mendukung pelestarian nilai-nilai pencitraan pariwisata dan industri masyarakat.
Sumber : Hasil penelitian Muh. Ridwan – www.damandiri.or.id
Enrekang info
»»   Selengkapnya...

Kopi Enrekang Lebih Mahal Dari Kopi Luwak?

TNO-Enrekang, Kopi kalosi Dp (Arabika tipika) merupakan salah satu jenis kopi terbaik yang dihasilkan dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Tak heran jika kopi ini sangat digemari masyarakat dunia, khususnya Benua Eropa dan Amerika. Harganyapun selangit, untuk satu kilogram kopi kalosi mencapai 180 dollar atau setara dengan Rp180 ribu per kilogram jika kurs dollar yang berlaku Rp10 ribu per dolar. Sedangkan harga kopi biasa hanya Rp9.300 per kilogram.
Kondisi Kabupaten Enrekang dengan ketinggian hingga 2.000 meter di atas permukaan laut (dpl) ini memang sangat memungkinkan tumbuhnya tanaman perkebunan dan sayuran yang subur. Salah satu tanaman perkebunan di daerah ini yang terkenal hingga Benua Eropa dan Amerika yaitu Kopi. Jenis tanaman ini, hanya bisa tumbuh di dataran tinggi, seperti halnya di Kabupaten Enrekang.
Pengembangan kalosi DP dilakukan sebagai ikon dan brand mark Kabupaten Enrekang. Sayangnya, menurut Bupati Enrekang, H La Tinro Latunrung, tanaman kopi ini hampir punah. Pohon kopi istimewa ini kini tersisa beberapa pohon saja. “Rata-rata setiap rumah tangga tersisa satu hingga dua pohon saja,” ungkap La Tinro. Semakin berkurangnya pohon kopi ini membuat bupati merasa prihatin. “Jika ini (kopi kalosi Dp,-red) tak diatasi, saya yakin kopi kalosi akan punah dan hanya menjadi kenangan masa lalu,” katanya di Pendopo rumah jabatan Bupati, beberapa waktu lalu.
Berawal dari keprihatinan itulah, diapun berupaya mengembalikan kejayaan kopi kalosi dp ini melalui kerja sama dengan lembaga pendidikan terkemuka di Sulsel, Universitas Hasanuddin (Unhas). Kerjasama ini dilakukan untuk pemurnian kopi arabika tipika atau lebih dikenal, kopi Kalosi Dp. Upaya ini terus dilakukan di tengah keprihatinan akan semakin punahnya pohon kopi jenis ini. Bahkan, tak tanggung-tanggung, Bupati Enrekang, H Latinro La Tunrung langsung menginstruksikan jajarannya menyiapkan lahan 30 hektare untuk pembibitan Kopi Kalosi.
Pemerintah Kabupaten Enrekang benar-benar serius ingin mengembalikan citra Kopi Kalosi, sebagai kopi terbaik yang ada di dunia. La Tinro mengungkapkan, semakin punahnya kopi kalosi dp akibat produksinya yang sangat rendah. Produksi kopi kalosi hanya mampu memproduksi 300-500 kg per hektre. Sementara kopi biasa mampu memproduksi 2 ton per hektare. Perbedaan jumlah proksi inilah yang membuat masyarakat lebih memilih membudidayakan kopi biasa.
Namun dia tidak berputus asa dan pesimis. Sebagai bupati dengan latar belakang pengusaha, justru membuatnya tertantang mengatasi masalah ini. Ayah empat anak ini yakin, nilai ekonomi yang tinggi dari jenis tanaman ini justru akan mengangkat perekonomian masyarakat sekaligus mengangkat citra Enrekang khususnya dan Indonesia di mata dunia.
Hal senada dikatakan Kepala bidang Perkebunan, Dinas Pertanian dan Perkebunan kabupaten Enrekang, UmarSappe.
“Harga di pasaran dunia, untuk kopi kalosi DP sebesar 180 dolar per kilogram, sementara kopi arabika biasa hanya Rp9.300,” ungkapnya. Untuk itu, lanjutnya, Dinas pertanian dan perkebunan Enrekang terus berupaya melakukan pembenahan dan pengembangan kopi kalosi Dp. “Beberapa daerah kita akan jadikan sebagai tempat pengembangan kopi arabika tipika (kalosi Dp-red), seperti di Nating, Bone-bone, Masalle, Buntumondong dan Bungin,” katanya. Dia menambahkan, sesuai instruksi bupati, pihaknya telah menyiapkan lahan seluas 30 hektare di Desa Sawitto Kecamatan Bungin untuk pemurnian dan membuat sumber benih. “Hasilnya nanti akan menjadi sumber benih kopi arabika tipika (kalosi) yang sudah hampir punah. ( Arizal Alamsyah, Sumber Foto : enrekang.com)
»»   Selengkapnya...

Selasa, 12 Maret 2013

Menjelang Peringatan 100 tahun Injil Masuk Toraja, Hari ini Mobil dan Motor Masuk Sungai


TNO-Makale, Setelah sebelumnya mobil dari Sororako menuju Makale masuk sungai Sa'dan, sore ini, kembali sebuah motor tercebur ke sungai, pengendara meninggal dunia, TNO melintas saat korban diaevaluasi dalam kantong mayat. Ini adalah bentuk kelalaian sang pengendara yang selalu jadi penyebab kecelakaan.


Saat ini, sudah begitu banyak payung yang ditancapkan di pinggir jalan, simbol lokasi kecelakaan, dan selalu saja terulang, seharusnya itu mnejadi motivasi terhadap pengendara lebih berhati-hati, diperparah lagi kondisi jalan yang relatif rusak dan tidak memadai. (tim)
»»   Selengkapnya...

Minggu, 10 Maret 2013

Ekspedisi NKRI di Mengkendek


TNO-Mengkendek, Dandim 1414 Tana Toraja Letkol Kav. Buang Adri Aprianus, mengatakan strategi pemerintah memperbaiki ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, melalui keterlibatan tim ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013, melakukan pendataan dan meneliti segala potensi kekayaan alam di hutan, sungai, gunung dan pegunungan, menjadi entry point bagi Toraja mengakselerasikan pembangunan di semua sektor.
Buang Adri Aprianus menjelaskan kegiatan sosial tim ekspedisi selain merehabilitasi rumah penduduk, juga pembangunan jembatan gantung di lembang Maro`son kecamatan Rembon, serta reboisasi dan pelestarian alam utamanya dilahan kritis.
Menurutnya ekspedis NKRI merupakan hasil kerjasama Mabes TNI-Polri dan Meskokesra selama 4 bulan di Tana Toraja dan Toraja Utara, melibatkan 130 personil yang terdiri dari TNI-Polri Pusat 50 orang dan 15 sipil, TNI-Polri lokal 30 orang, serta Instansi terkait tidak termasuk tim media peliput sebanyak 35 orang.
Buang Adri menjelaskan kegiatan ekspedisi NKRI di Tana Toraja dan Toraja Utara, didasari surat Panglima TNI Nomor.B/1677-07/12/07/Ops tanggal 15 Mei 2012 tentang ekspedisi TNI dalam program Kemenkokesra, Surat Kemenkokesra RI Nomor. 647/UND/KMK/SES/VI/2012 tanggal 4 Juni 2012 tentang penyelenggaraan ekspedisi tahun 2013, dan hasil seminar ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013 tanggal 5 Nopember 2012.
Selama berlangsung ekspedisi NKRI di Toraja, imbuh dia, kegiatan tim ekspedisi selain melakukan jelajah hutan, gunung dan sungai, juga penelitian kerusakan hutan, geologi dan potensi bencana, pendataan flora dan fauna, serta sosial budaya, wawasan kebangsaan dan kepramukaan.
Ditambahkan Fasi Teritorial Dandim Toraja Kapten Joni Rante, tema ekspedisi di Toraja tahun ini “Peduli dan Lestarikan Alam Indonesia”, dimaksudkan untuk mendata dan meneliti segala potensi kekayaan alam di hutan, gunung dan pegunungan dengan sasaran peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Demikian pula bangkitkan kesadaran keunggulan teritorial daerah utamanya memberikan keteladanan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan melalui program green, clean dan healthy.
posting :kabartoraja.com
»»   Selengkapnya...

Sabtu, 09 Maret 2013

Tanpa Perda, tambang ilegal marak di Tana Toraja


Sindonews.com - Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) mengakui kesulitan menertibkan kegiatan penambangan galian C liar di wilayah kabupaten Tana Toraja. 
Tanpa Perda, tambang ilegal marak di Tana Toraja
Pasalnya, pemerintah kabupaten (Pemkab) Tana Toraja belum memiliki peraturan daerah (Perda) yang mengatur tentang pengelolaan pertambangan di daerahnya.

Pelaksana Tugas Harian (PLH) Kepala Distamben Tana Toraja, Pakiding Karaeng Baan menyatakan dari catatan Distamben Tana Toraja, terdapat puluhan lokasi penambangan galian C yang ada di wilayah Tana Toraja. 

Penambangan galian C itu berupa tambang pasir dan tambang batu gunung. Akan tetapi, hampir semua penambangan tersebut liar atau tidak memiliki ijin usaha penambangan. 

Hanya satu usaha penambangan miliki PT Malea yang memiliki izin penambangan, namun untuk keperluan perusahaan  saja.  

Menurutnya, pihaknya sulit melakukan penertiban usaha penambangan pasir dan batu gunung ilegal karena belum memiliki perda pertambangan. Padahal, sejak awal Januari 2012 lalu, Distamben sudah mengajukan rancangan peraturan daerah (Raperda) ke DPRD. 

Hingga Maret 2013, raperda yang akan mengatur tentang pertambangan di wilayah Tana Toraja tersebut belum ditetapkan menjadi perda.

“Kami tidak tahu alasan DPRD hingga kini belum menuntaskan pembahasan raperda pertambangan mineral dan batu bara untuk ditetapkan menjadi perda,” jelas Pakiding di Makale, Selasa(5/3/2013).

Usaha pertambangan ilegal yang kian marak juga  berpotensi mengakibatkan rusaknya lingkungan sekitar. Apalagi, sebagian besar pengusaha tambang pasir mengunakan alat berat dan pompanisasi mengangkut pasir dari sungai.

“Harus ada tindakan tegas guna mengantisipasi maraknya usaha penambangan ilegal. Lagi-lagi, diperlukan perda agar pengusaha tidak seenaknya melakukan penambangan secara liar,” kata Pakiding.

(ysw)
»»   Selengkapnya...

Minggu, 03 Maret 2013

Inilah Foto Foto Kutu Yang Membuat Gatal Alat Kelamin


Gambar Inilah Foto Foto Kutu Yang Membuat Gatal Alat Kelamin rambut kemaluan pubic lice Pubic Pthirus pediculus humanus capitis parasit kutu jembut alat kelamin  crabs
Gambar Inilah Foto Foto Kutu Yang Membuat Gatal Alat Kelamin rambut kemaluan pubic lice Pubic Pthirus pediculus humanus capitis parasit kutu jembut alat kelamin  022
Gambar Inilah Foto Foto Kutu Yang Membuat Gatal Alat Kelamin rambut kemaluan pubic lice Pubic Pthirus pediculus humanus capitis parasit kutu jembut alat kelamin  pubiclice cdcar
TNO-int, Pthirus atau Phthirus pubis (disebut juga Pubic lice atau kutu Pubic) adalah serangga parasit penghisap darah yang hidup di kulit sekitar kelamin manusia. Manusia adalah satu-satunya tuan rumah parasit ini. Manusia dapat juga penuh dengan kutu tubuh (Pediculus humanus corporis) dan kutu kepala (Pediculus humanus capitis).
Kutu kelamin biasanya menular melalui hubungan seksual. Penularan dari orang tua kepada anak lebih mungkin terjadi melalui rute pemakaian handuk, pakaian, tempat tidur atau closets yang sama secara bergantian. Orang dewasa lebih sering terkena daripada anak-anak.
Gejala
Gejala utamanya adalah gatal, biasanya di daerah jembut. Itu hasil dari sentuhan liur kutu dengan kulit kita, dan (rasa gatal) menjadi semakin kuat pada dua minggu atau lebih. Kutu Pubic menyebar melalui keringat saat kontak tubuh atau seksual. Oleh karena itu, siapa pasangan seks si pasien dalam waktu 30 hari sebelumnya harus dievaluasi dan diobati, dan kontak seksual harus dihindari sampai perawatan berakhir dangan kesembuhan.
Gigitan kutu dapat menimbulkan luka pada kulit yang menjadi jalan masuk bagi organisme lainnya sehingga terdapat hubungan yang kuat antara keberadaan kutu pubic dengan IMS. Dalam hal ini adalah keharusan bagi pasien untuk mau diperiksa apakah terjangkit jenis IMS lainnya.
Walaupun salah satu bagian tubuh menjadi koloni kutu ini, mereka tetap lebih menyukai daerah rambut kemaluan dan anal. Pada pasien laki-laki, kutu dan telur juga dapat ditemukan pada rambut di daerah perut, kumis dan janggut. Sementara pada anak-anak mereka biasanya ditemukan di bulu mata.
Pthirus atau Phthirus pubis (disebut juga Pubic lice atau kutu Pubic) adalah serangga parasit penghisap darah yang hidup di kulit sekitar kelamin manusia. Manusia adalah satu-satunya tuan rumah parasit ini. Manusia dapat juga penuh dengan kutu tubuh (Pediculus humanus corporis) dan kutu kepala (Pediculus humanus capitis).
Kutu Pubic biasanya menular melalui hubungan seksual. Penularan dari orang tua kepada anak lebih mungkin terjadi melalui rute pemakaian handuk, pakaian, tempat tidur atau closets yang sama secara bergantian. Orang dewasa lebih sering terkena daripada anak-anak.
Kutu Pubic biasanya didiagnosis seksama dengan memeriksa di rambut kemaluan (jembut) apakah terdapat kutu Pubic dalam bentuk telur, anak (nymph), dan kutu dewasa. Kutu dan telur dapat dihilangkan baik dengan memotong seluruh rambut (dengan pengecualian pada daerah mata). Sebuah kaca pembesar atau stereo-mikroskop dapat digunakan untuk identifikasi yang tepat. Jika kutu telah terdeteksi dalam satu anggota keluarga, maka seluruh anggota keluarga harus diperiksa dan perawatan dilakukan untuk orang-orang yang mengidap kutu tersebut.
»»   Selengkapnya...

TORAJA, WISATA MISTIS TERNAMA DI DUNIA


TNO-Tana Toraja, Destinasi mistis yang satu ini pasti sudah banyak yang tahu. Lokasinya berada di Indonesia, tepatnya di Tana Toraja, sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan, 300 km dari Kota Makassar. Pemandangan alamnya memang indah, tapi di balik itu ada aura mistis yang sangat kental menyelimuti kawasan ini.
Di sini terdapat pemakaman yang terbilang agak aneh. Jika biasanya jasad dikubur di dalam tanah, tapi hal tersebut tidak berlaku di Tana Toraja. Di sini, jenazah di simpan di dalam peti yang kemudian diletakkan pada sebuah gunung batu granit.
Jika memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Tana Toraja, datanglah saat prosesi upacara kematian sedang berlangsung.
Ada yang aneh saat kegiatan tersebut berlangsung, mayat yang akan dibawa ke tempat pemakaman tidak diusung, tapi berjalan sendiri. Ya, itulah kenapa Tana Toraja juga mendapatkan sebutan sebagai ‘Negeri Orang Mati yang Hidup’.
»»   Selengkapnya...

Ikan Tidak Merasakan Sakit Saat Dipancing


Ikan Tidak Merasakan Sakit Saat DipancingTNO- AS, Saat melihat ikan terpancing lantas menggeliat, kadang kita berpikir betapa sakitnya ikan tersebut. Namun, opini itu ternyata salah. Ikan tidak merasakan sakit meski tubuhnya terpancing maupun mulutnya terkoyak. Sebuah studi yang dilakukan oleh tim yang terdiri dari tujuh ilmuwan dari University of Wyoming di Amerika Serikat, telah menyimpulkan bahwa ikan tahan terhadap rasa sakit. Kenapa? Karena hewan air ini tidak memiliki kemampuan otak yang merespons rasa sakit.
Menurut studi tersebut, reaksi ikan yang menggeliat dan nampak seperti kesakitan, hanyalah reaksi bawah sadar ikan, bukan respons terhadap rasa sakit.
Setelah diteliti, ternyata ikan tidak memiliki reseptor sensor seperti halnya manusia. Reseptor ini berfungsi menanggapi sensor yang merusak dan mengirimkan sinyal ke otak. Pada manusia, reseptor inilah yang menciptakan rasa sakit.
Bantah Studi Sebelumnya

Temuan terbaru ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya, yang menunjukkan bahwanociceptor memungkinkan makhluk hidup lebih refleksif dan dapat merasakan sakit.
Dalam penelitian sebelumnya, yang dilakukan oleh University of Edinburgh, pada bibir ikan Rainbow trout (spesies dari ikan Salmon) disuntikkan larutan asam. Kemudian terjadi perubahan perilaku ikan seperti menggosok mulut pada kerikil dan bergerak dengan gerakan goyang mirip mamalia yang stres. Lalu, reaksi itu disimpulkan sebagai bukti rasa sakit.
Namun, penelitian teranyar menemukan bahwa hanya ada sedikit ‘serat C’, yang ditemukan dalam ikan jenis trout dan ikan lainnya. Serat C ini merupakan jenis nociceptor yang menyebabkan rasa sakit.
Sementara itu, pemimpin penelitian terbaru, Profesor James Rose dari University of Wyoming di Amerika Serikat, juga menemukan bahwa otak ikan tidak mengandung neokorteks yang cukup untuk merespons rasa sakit. Neokorteks adalah bagian dari otak yang berfungsi sebagai sensor persepsi, menghasilkan perintah gerak, serta kemampuan mengenali objek di luar.
Rose menuturkan, ikan bisa mengalami pingsan atau respon naluriah dasar, tapi itu tidak menimbulkan perasaaan sadar atau sakit. Reaksi pada ikan trout, lebih karena ikan ini merasa tidak nyaman.
“Ada banyak konflik seputar isu ikan merasakan sakit dan apakah ikan bisa merasakannya. Para pemancing sering mendapatkan stigma sadis dan kejam. Ini adalah konflik sosial yang tidak perlu,” kata Profesor Robert Arlinghaus, salah satu peneliti tim pada Telegraph.(int)
»»   Selengkapnya...

Sering 'Ditampar' Senapan, Payudara Tentara Jerman Membesar


Jakarta, Ukuran payudara semakin besar tentu akan membahagiakan bagi kaum hawa, karena organ tersebut dianggap paling seksi di tubuhnya. Tapi apa jadinya jika payudara yang membesar adalah milik pria dan seorang tentara yang harusnya terlihat jantan?

Sebuah laporan militer baru telah diterbitkan dalam jurnal German Medical Science dan ditemukan bahwa puluhan tentara pria di unit Wachbataillon mengalami pembesaran payudara.

Direktur bedah plastik di rumah sakit militer di Berlin, Profesor Bjorn Krapohl, mengatakan kondisi tersebut kemungkinan terjadi karena latihan yang mereka lakukan.

Seperti diketahui dalam sebuah rekaman latihan, tentara Jerman memang tampak sangat sering menghentakkan senapan dengan cukup keras di sisi kiri payudaranya.

"'Menamparkan' senapan berulang kali ke dada sisi kiri selama latihan dapat merangsang kelenjar untuk memproduksi hormon, yang menciptakan efek (pembesaran) pada salah satu sisi payudara," jelas Profesor Bjorn Krapohl, seperti dilansir Huffingtonpost, Jumat (25/1/2013).

Setidaknya 35 tentara telah mengalami pembesaran payudara, yang disebut dengan one-sided gynecomastia. Kondisi ini mendorong para pejabat militer Jerman untuk mempertimbangkan mengubah cara latihan batalion.

Gynecomastia adalah pertumbuhan abnormal pada payudara pria. Hal ini berhubungan dengan pertumbuhan jaringan payudara. Kondisi ini mungkin terjadi pada salah satu atau kedua payudara.

Fenomena ini umum terjadi pada masa puber. Setengah dari laki-laki mengalami pembesaran pada salah satu atau kedua payudara di masa ini. Pembesaran payudara ini cenderung bersifat sementara.

Prinsip pengobatan tergantung dari penyebab gangguan ini. Jika pembesaran karena pubertas mungkin tidak perlu perawatan khusus. Namun jika penyebab pembesaran karena penyakit atau kondisi tertentu, maka perlu perawatan medis.





(mer/vit)
»»   Selengkapnya...

Selasa, 19 Februari 2013

WASPADA..!!! DEMAM BERDARA MENGINTAI ANDA

TNO-Makale, Saat ini cuaca tak menentu, terkadang curah huan tinggi, terkadang panas, memicu timbulnya kembali bibit penyakit berbahaya, semisal DBD singkatan dari Demam Berdarah Dengue. Di Tana Toraja saat ini sudah beberapa pasien yang ditangani serius di RSUD Lakipadada, bahkan Kadis Kesehatan Tana Toraja ikut terserang dan saat ini masih dalam perawatan.

Melihat kondisi tersebut, Ketua LSM LEKAT, Ferryanto Belopadang berkomentar seharusnya Pemkab Tator dan Toraja Utara lebih proaktif dalam rangka pencegahan. Diungkapkannya " Kalau sudah begini seharusnya sudah dijadikan KLB, Kondisi Luar Biasa dibutuhkan utnuk berbagai kemudahan termasuk biaya tangkal dini dan lain sebagainya, jangan sampai terlambat! "
»»   Selengkapnya...