Kamis, 17 Juli 2014

MUMMI DITEMUKAN WARGA MAREALI, SIAPA PEMILIKNYA?

Mummi yang ditemukan warga Mareali
Makale-TNO, Warga Dusun Mareali, Kelurahan Bungin, Kecamatan Makale Utara, Kabupaten Tana Toraja, digegerkan dengan penemuan sebuah mumi di pinggir jalan, hari ini pukul 06.00 WITA.

Informasi yang diperoleh, mumi tersebut ditemukan di pinggir jalan oleh warga yang hendak pergi ke sawah. Penemuan mumi tersebut langsung dilaporkan ke polisi. Setelah mendapat laporan, polisi kemudian datang ke lokasi dan langsung mengamankan mumi tersebut ke Mapolres Tana Toraja.

Dari hasil identifikasi Polres Tana Toraja, mumi tersebut berukuran panjang 37 centimeter. Saat ditemukan, mumi tersebut terbungkus kain dan anggota tubuhnya masih lengkap dan berambut panjang. Diperkirakan, mumi tersebut sudah berumur ratusan tahun.

"Iya benar, ada mumi yang ditemukan warga. Kami pun langsung mengamankan mumi itu ke Mapolres Tana Toraja," ujar Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tana Toraja AKP Mathius Tappi, di Mapolres Tana Toraja, Kamis (17/7/2014).

Dia menyatakan, mumi yang ditemukan warga di Dusun Mareali, merupakan hasil curian. Kemungkinaan, saat pelaku membawa mumi hasil curiannya, hari sudah keburu pagi. Lantaran takut ketahuan warga, mumi itu kemudian diletakkan begitu saja di pinggir jalan hingga ditemukan oleh warga.

Penyelidikan polisi terhadap penemuan mumi itu mengarah pada sindikat penjualan benda-benda purbakala. Sebab, sudah ada beberapa kasus pencurian benda-benda purbakala terjadi di Toraja. Saat ini polisi masih menelusuri lokasi tempat di mana mumi tersebut dicuri.

"Dugaan sementara, mumi itu dicuri oleh orang yang ingin menjualnya ke penadah di daerah lain. Saat ini, kami masih telusuri asal mumi itu diambil," kata perwira pertama Polri itu.

Camat Makale Utara Erick Crystal Rante Allo menyatakan, pemerintah dan masyarakat Makale Utara hingga kini belum memastikan apakah mumi yang ditemukan warga itu hasil curian atau muncul secara tiba-tiba. Sebab, menurut kepercayaan sebagian masyarakat Toraja, mumi bisa bergerak sendiri pada malam hari.

Dirinya pun menyayangkan jika ada oknum yang mencuri mumi tersebut, karena itu adalah aset budaya Toraja. Namun hingga kini belum ada laporan masyarakat Makale Utara yang merasa kehilangan mumi.

"Kemungkinan asal mumi itu dari luar Kecamatan Makale Utara, karena tidak ada masyarakat kami yang merasa kehilangan. Kami belum memastikan, apakah mumi yang ditemukan itu adalah hasil curian," ujar Erick Crystal yang juga tokoh adat di Kabupaten Tana Toraja.

(san)

posting : SINDONEWS
»»   Selengkapnya...

Senin, 15 April 2013

Cinta Abadi 5000 Tahun

TNO-Italy, Sepasang kerangka laki-laki dan perempuan zaman batu baru yang saling berpelukan erat tergali di Italia. Sepasang kerangka yang saling berpelukan hangat ini, menggoncang semua orang yang melihatnya. Arkeolog memperkirakan, bahwa sepasang kerangka ini telah terkubur kurang lebih 5.000-6.000 tahun lamanya di bawah tanah! pelukan selama 5.000 tahun ini bukan saja menggoncang arkeolog, bahkan masyarakat dunia.
Untuk mempertahankan gaya pelukan ini, ilmuwan belum memutuskan memisahkan potongan kerangka tersebut. “Kami akan tetap mempertahankan sikap mereka selama ini yaitu saling berpelukan.” Demikian ujar arkeolog Irena Mannorti yang menemukan sepasang kerangka ini sepekan lalu. Setelah kerangka itu dipindahkan, ilmuwan akan meneliti lebih lanjut terhadap sepasang kekasih yang saling berpelukan abadi ini. Selanjutnya, kerangka tersebut akan di simpan di museum nasional Italia.
Menurut ilmuwan, bahwa pengetahuan mereka terhadap pasangan kekasih zaman batu ini sangat sedikit. Kerangka tersebut ditemukan di sebuah daerah pinggiran Kota Valdaro, Mantova, karena itu dinamakan “kekasih Valdaro”. Arkeolog nampaknya sangat yakin bahwa mereka meninggal saat remaja, sebab gigi mereka masih utuh. Selain itu, karena seiring dengan ditemukannya sebuah panah dan beberapa perkakas di kerangka tersebut, dapat diketahui kalau mereka meninggal pada zaman batu. Dan di balik legenda yang dianggap paling agung dalam sejarah arkeologi Italia ini masih banyak teka-teki yang perlu diuraikan. Ada indikasi menunjukkan, bahwa kedua insan ini bukannya meninggal dalam kondisi saling berpelukan, melainkan dikubur demikian di tanah makam prasejarah
sumber : http://shendisucklertz.blogspot.com/2009/11/cinta-abadi-5000-tahun.html
»»   Selengkapnya...

Minggu, 17 Maret 2013

Sejarah perang Saudara, Bugis dan Toraja

TNO-Sulsel, Putusnya hubungan dengan pedagang asal Jawa sekitar awal abad ke-16 akibat adanya persaingan yang keras maka pedagang Bugis pun leluasa memasuki daerah Toraja terutama pedagang dari Bone, Sidenreng dan Luwu’. Para bangsawan Toraja yang banyak menyimpan bijih emas yang ditukar dengan porselen, tenunan halus dan bentuk perhiasan emas oleh pedagang asal Jawa menjadi daya tarik yang menggiurkan.
Masuknya pedagang asal Bugis berbarengan dengan berkembangnya Kerajaan Bone di bawah pimpinan Arung Palakka yang menaklukkan Kerajaan – Kerajaan kecil di daerah dataran Bugis, maka pada pertengahan abad ke-17 (1675) pasukan Arung Palakka juga menginvasi Tondok Lepongan Bulan dan terus menduduki daerah bagian selatan. Kedatangan invasi Bone ini dikenal dengan “Kasaeanna To Bone”.  Dengan masuknya tentara Arung Palakka dan pedagang Bugis, mereka pun menguasai sebagian besar Tondok Lepongan Bulan beberapa tahun lamanya.
Berkuasanya invasi BUgis ini mengakibatkan terjadi transformasi budaya yaitu beberapa sendi budaya Bugis yang diterapkan dalam masyarakat Toraja antara lain permainan judi dengan menggunakan Dadu dan Kartu (Buyang), karena yang telah dikenal masyarakat Toraja adalah Silondongan (Sabung Ayam) dan Sire’tekan (Loterei), maka judi dadu dan kartu kemudian mulai disukai oleh bangsawan di Toraja.  Disamping menanamkan permainan judi tersebut, pengaruh dari Arung Palakka makin kuat dan ditakuti sejak adanya perjanjian kerjasama serta persekutuan yang diadakan oleh seorang bangsawan Toraja yaitu Pakila’ Allo atau Pong Bu’tu Bulaan dari Randan Batu, yang bersekutu membuka tempat – tempat perjudian dan dijaga oleh pasukan Arung Palakka.
Meluasnya daerah yang dikuasai oleh pasukan Arung Palakka dan Pakila’ Allo yang terus mengadakan arena perjudian, mulai terjadi kekacauan, pencurian dan penekanan terhadap bangsawan yang tidak suka dengan judi. Hal ini berlangsung beberapa tahun sehingga menimbulkan keinginan untuk melawan pasukan Arung Palakka dengan terlebih dahulu mematahkan kekuatan Pakila’ Allo.  Ide perlawanan ini muncul dari seorang bangsawan dari Randan Batu yaitu Pong Kalua’. Setelah Pakila’ Allo meninggal dengan cara meracuni, maka para bangsawan kemudian menyusun kekuatan untuk melawan pasukan Arung Palakka yang tersebar di Toraja.  Persekutuan ini dikenal dengan nama Topada tindo, tomisa’ pangimpi (persatuan yang seia sekata, dan satu cita – cita) dengan semboyan “Misa’ Kada dipotuo, pantan kada dipomate” (Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh) dan perlawanan ini disebut “Untulak Buntunna Bone, Ullangda’ To Sendana Bonga” (menentang pengaruh dan kekuasaan Bone). Persekutuan ini dipelopori oleh 3 orang masing-masing :  1)    Siambe’ Pong Kalua’ dari Randan Batu  2)    Siambe’ Pong Songgo dari Limbu, Sarira  3)    Tominaa Ne’ Sanda Kada dari Limbu sebagai juru penerangan.  Berkat dukungan dan persatuan dari bangsawan Toraja maka mereka berhasil menaklukkan dan menghalau pasukan Arung Palakka pada tahun 1680, setelah mengadakan perlawanan beberapa lama sampai ke daerah Bambapuang.
Sejak berakhirnya peperangan antara Topadatindo dengan pasukan Arung Palakka, maka dalam beberapa tahun  tidak ada hubungan antara Tondok Lepongan Bulan dengan Bugis (Bone dan Sidenreng). Dengan putusnya hubungan itu maka muncullah seorang bangsawan dari perbatasan Tondok Lepongan Bulan di daerah selatan yang bernama Puang Kabere’. Ia mengadakan hubungan dengan kedua daerah tersebut untuk mempertemukan pendapat, dan membuat perdamaian hubungan antara Tondok Lepongan Bulan dengan Bugis. Adapun perjanjian ini berbunyi “  “Dilenten Tallo’ tama Bone tang rassak tang beluakan anna di sorong pindan tama Lepongan Bulan tang ramban tang unnapa”  Artinya :  “Hubungan kedua daerah tersebut baik dalam segala hal yaitu orang Bone bebas keluar masuk ke Toraja demikian pula sebaliknya orang Toraja tak akan diganggu jika masuk ke Bone”  Pertemuan untuk mengadakan perjanjian tersebut diadakan di perbatasa Toraja dengan Bugis yaitu daerah yang bernama Malua’ sehingga perjajian ini disebut “Basse Malua’” dimana Bugis diwakili oleh utusan raja Bone dan Arung – Arung dari Sidenreng, dan Tondok Lepongan Bulan diwakili oleh pemimpin Topadatindo.
Sejak hubungan kedua daerah pulih kembali pada awal abad ke-18, pedagang Bugis pun kembali masuk ke Toraja dan bangsawan Tondok Lepongan Bulan banyak belajar pada raja di Bugis tentang hukum pemerintahan dan ilmu perang. Mereka saling bertukar benda pusaka sebagai rasa persaudaraan antara mereka. Bangsawan dari Tondok Lepongan Bulan juga mengirimkan anak – anak mereka untuk belajar mempergunakan senjata – senjata api yang telah ada di Bugis dan ini berlangsung sampai pertengahan abad de-19. Pada saat senjata api banyak dimiliki oleh bangsawan Tondok Lepongan Bulan maka  mulailah terjadi perang saudara dan penjualan budak yang ditukar dengan senjata api.  Perang terjadi dimana – mana diantara para bangsawan, dan membuat beberapa bangsawan Tondok Lepongan Bulan bersekutu dengan pemimpin Bugis sekaligus mengadakan penyewaan tentara dan alat persenjataan untuk melawan sesama bangsawan di Tondok Lepongan Bulan. Datangnya para ahli perang Bugis ke Tondok Lepongan Bulan atas undangan bangsawan Toraja dikenal dengan datangnya Ande – Ande Guru di Toraja. Seorang panglima perang dari Bone yang sangat terkenal nernama Petta Punggawae, disamping seorang dari Sidenreng yang bernama Wa’ Situru’ yang sangat lama tinggal di Toraja dan oleh sekutunya diberi gelar “Andi Guru”. (sumber: http://www.blogger.com)
»»   Selengkapnya...

Sabtu, 16 Maret 2013

Kerajaan Besar Sulawesi Selatan Sebelum Gowa-Tallo

Sebuah sejarah kerajaan di Sulawesi Selatan yang pernah mencapai puncak kejayaannya sebelum besarnya kerajaan Gowa – Tallo adalah kerajaan Siang.  Siang diperkirakan mengalami “masa keemasan” sekitar abad XV – XVI — sedangkan masyarakat Bugis Makassar nanti mengenal tradisi tulis “lontarak” di abad XVII.  Kerajaan Siang hanya sedikit dikenal dan hanya sedikit yang baru bisa diungkap lewat penelitian arkeologi di bekas pusat wilayah pemerintahan dan pelabuhan Siang Situs Sengkae, Bori Appaka, Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep ( 70 km dari Kota Makassar)
Dari minimnya hasil penelitian, diperkirakan bahwa kerajaan Siang ini telah dikunjungi oleh Kapal – kapal Portugis antara tahun 1542 dan 1548 jauh sebelum kerajaan Gowa memproklamirkan kekuatan maritimnya.  Seorang peneliti sejarah dari Portugis yakni Pelras mengemukakan bahwa selama masa pengaruh Luwu di semenanjung timur Sulawesi Selatan, kemungkinan dari Abad X hingga Abad XVI, terdapat kerajaan besar lain di semenanjung barat, dikenal dengan nama Siang, yang pertama kali muncul pada sumber manuskrip Eropa dalam peta Portugis bertarikh 1540. Nama “Siang” berasal dari kata “ kasiwiang” , yang berarti persembahan kepada raja (homage rendu a’ un souverain).
Pada tahun 1540 atau jauh sebelumnya, pelabuhan Siang sudah banyak dikunjungi pedagang dari berbagai penjuru kepulauan nusantara, bahkan dari Eropa. Pengamat Portugis, Manuel Pinto, memperkirakan pada tahun 1545, kerajaan Siang memiliki jumlah penduduk sekitar 40.000 jiwa.
Menurut catatan Portugis dari dokumen abad 16, Gowa dan Tallo pernah jadi pengikut dari kerajaan Siang. Tradisi lisan setempat mempertahankan pandangan ini. Penemuan arkeolog berharga di bekas wilayah Siang kelihatannya lebih memperkuat asumsi bahwa kerajaan ini adalah bisa jadi merupakan kekuatan besar di pantai barat Sulawesi Selatan sebelum bangkitnya Gowa dan Tallo (Pelras, 1973 : 54).
Raja Siang yang pertama disebut Tu-manurunge Ri Bontang (A. Razak Dg Mile, PR : 1975). Sementara M. Taliu menyebut periode pertama Kerajaan Siang, digagas seorang tokoh perempuan, Manurunga ri Siang , bernama Nasauleng atau Nagauleng bergelar Puteri Kemala Mutu Manikkang. Garis keturunan Tomanurunga Ri Siang inilah yang berganti-ganti menjadi raja di Siang (asossorangi ma’gauka) sampai tiba masanya Karaengta Allu memerintah di Siang paska Kerajaan Siang dibawah dominasi Kerajaan Gowa. (Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2005).
Pelras dari penelitian awalnya terhadap sumber Eropa dan sumber lokal, menyatakan Siang, sebagai pusat perdagangan penting dan mungkin juga secara politik antara Abad XIV – XVI. Pengaruhnya menyebar hingga seluruh pantai barat dan daerah yang dulunya dikenal Kerajaan Limae Ajattapareng hingga ke selatan perbatasan Makassar, yakni Gowa-Tallo.
Pada pertengahan Abad XVI, Kerajaan Siang menurun pengaruhnya oleh naiknya kekuatan politik baru di pantai barat dengan pelabuhannya yang lebih strategis yaitu Pelabuhan Sombaopu . Kerajaan itu tak lain Kerajaan Gowa, yang mulai gencar melancarkan ekspansi pada masa pemerintahan Raja Gowa IX,Karaeng Tumapakrisika Kallonna. Persekutuan Kerajaan Gowa dan Tallo akhirnya membawa petaka bagi Siang, sampai akhirnya mati dan terlupakan, di penghujung Abad XVI. (Pelras 1977 : 252-5).
Pusat kerajaan Siang tumbuh berkat adanya sumber-sumber alam : kelautan, hasil hutan dan mungkin mineral serta padi ladang yang dieksploitasi oleh suatu populasi penduduk Makassar yang telah lama mengenal jaringan perdagangan laut yang luas dengan memanfaatkan muara sungai sebagai akses komunikasi utama (Makkulau, 2005, 2007).
Sejalan dengan semakin jauhnya garis pantai akibat pengendapan sungai Siang sebagai akses utama memasuki kota itu, dan kepindahan koloni pedagang Melayu ke Gowa di pesisir barat, bahkan sampai Suppa dan Sidenrengdi daratan tengah Sulawesi Selatan membuat kerajaan Siang kehilangan fungsi utamanya sebagai sebuah pelabuhan penting, pengaruh pusat politiknya meredup.  Nasib kerajaan Siang kemudian tidak berbeda dengan kerajaan Bantaeng, kendati eksis tetapi berada dibawah bayang-bayang kontrol kekuasaan Gowa-Tallo. (Fadhillah et, al, 2000 dalam Makkulau, 2005).
Hasil penelitian Balai Arkeologi Makassar dan Universitas Hasanuddin (UNHAS) menyebutkan bahwa ibukota Kerajaan Siang dulunya terletak pada sebuah lokasi yang dikelilingi oleh benteng kota (batanna kotayya). Bentengnya mengelilingi lahan yang sekarang menjadi kompleks kuburan yang dikeramatkan. Alur benteng Siang (batanna kotayya) diperkirakan berbentuk huruf U, kedua ujungnya bermuara di Sungai Siang yang telah mati. (Fadhillah, et.al, 2000 : 27).
Indikasi arkeologis pada lokasi situs berupa gejala perubahan rupa bumi dan proses pengendapan telah menjauhkan pusat Kerajaan Siang dari pesisir. Kemunduran Siang diperkirakan terjadi pada akhir abad 16 saat masuknya ekspansi politik kerajaan Gowa dan mempengaruhi otorisasi sistem pemerintahannya. 
(berbagai sumber )
»»   Selengkapnya...

Jumat, 15 Maret 2013

Adat Ritual Pemakaman Kedatuan Luwu

TNO-Luwu, Ritual adat yang sangat kental mewarnai sebuah prosesi pemakaman dalam rangkaian 40 hari wafatnya Andi Luwu Opu Daengna Patiware Datu Luwu ke-39 di Luwu Sulawesi Selatan. Batu nisan almarhum diarak sepanjang jalan menuju ke makam Datu atau makam raja-raja Luwu yang disebut LokkoE. Pengarakan batu nisan sang raja adalah salah satu prosesi adat utama dalam rangkaian kegiatan pemakaman yang disebut Mattampung (pemasangan batu nisan). Pada prosesi adat penutup ini, pihak Istana akan mengundang seluruh raja-raja se-Sulsel yang memiliki ikatan emosional dan kekeluargaan yang dekat dengan kerajaan Luwu. Mereka diharapkan mengikuti prosesi mattampung. acara inti dari prosesi adat mattampung dengan mappanonno batu atau menurunkan batu nisan untuk selanjutnya dipasang di pusara almarhumah yang terletak di dalam Lokkoe. Lokkoe adalah gua buatan berbentuk piramida sebagai moseleum dari keluarga raja dari Kedatuan Luwu.
Acara mappanonno batu diawali dengan mengumandangkan adzan di empat sudut istana Kedatuan Luwu secara bersamaan. Setelah itu, batu nisan diusung menuruni tangga ‘sapana’ yang terbuat dari serpihan batang pinang yang saling dianyam. Batang pinang lazim digunakan di dalama cara-acara ritual di kalangan masyarakat adat. Sebelum usungan batu nisan diusung menuruni tangga sapana, maka seekor kerbau disembelih lalu usungan batu nisan diusung melangkahi jasad kerbau tersebut dan disaksikan oleh Datu Luwu ke-40 dan para bupati se-Tana Luwu. Prosesi itu disebut ‘ripajulekkai camara lebbi’ atau melangkahi kerbau persembahan. Kerbau adalah hewan berkaki empat yang melambangkan empat penjuru mata angin yaitu, utara, selatan, timur dan barat, yang secara simbolis melambangkan bahwa kepergian almarhumah Datu Luwu ke-39 Andi We Addi Luwu diiringi oleh doa dan ratapan sedih dari seluruh masyarakat adat Luwu baik di barat, timur, selatan, dan utara. para pengusung batu nisan terdiri dari 4 orang yang memakai kostum adat berwarna putih dengan ikat kepala hitam. Batu nisan ditempatkan dalam sebuah keranda yang dihiasi dengan pernik khusus. Ketika para pengusung akan berjalan, mereka terlebih dahulu harus melangkahi kerbau yang telah dipotong yang disebut. Ritual inilah yang disebut “Ripajulekkei camara lebbi”.
Di bagian depan ‘parrulu gau’ atau atribut adat pengiring usungan batu nisan terdapat satu pasang suluh atau obor yang menyala yang disebut sulo langit atau suluh alam arwah kemudian diikuti dengan sepasang pabbalu-balu atau sepasang laki-laki yang menutup seluruh tubuhnya dengan sarung berwarna hitam yang melambangkan rasa duka yang mendalam dari seluruh lapisan masyarakat adat dalam Kedatuan Luwu. Sepasang ‘pattoduang’ yang masing-masing mengunakan topi caping dan pakaian petani yang juga berupa simbol bahwa seluruh strata sosial dalam wilayah adat Kedatuan Luwu berduka sedalam-dalamnya.
dokdok LuwuSeorang “dokdok” atau simbol kepala makhluk gaib yaitu seorang yang menggunakan topeng yang seram dimana seluruh tubuhnya ditutupi oleh jubah dari bulu-bulu yang kasar, berjalan bebas hilir mudik dari depan ke belakang. Jika ada seorang diluar iring-iringan prosesi adat tersebut yang sampai tertanggap tangan oleh dokdok, maka orang tersebut harus membayar denda sebelum dilepaskan. Dokdok ini bertugas menghalau semua anasir jahat, baik dari makhluk nyata maupun makhluk gaib yang akan menghalangi prosesi adat tersebut.
Sepasang tombak yang dihiasi dengan rambut manusia yang disebut ‘bessi bandranga’ yang menjadi sumber tanda bahwa iring-iringan tersebut adalah iring-iringan resmi dari Kedatuan Luwu, menyusul pembawa tombak yang disebut bessi menrawe yang disusul dengan pakkaliawo yaitu pembawa perisai dan tombak. Bessi menrawe dan pakkaliawo yang masing-masing berjumlah 12 orang adalah simbol peringkat tertinggi dari upacara adat di Kedatuan Luwu. Sesudah itu terdapat 12 perempuan berpakaian serba putih yang memegang atribut yang disebut passimpa dan masing-masing sejenis kipas yang dikipaskan perlahan-lahan sepanjang jalan. Aktifitas ini menyimbolkan bentuk upaya mengusir segala aral yang melintang. Rombongan passimpa itu terdiri dari ‘inanyompareng’ atau ibu susu dari almarhumah. (sumber: palopopos / foto: Ancha Maupe- Sempugi Grup)

posting : kabarkami.com
»»   Selengkapnya...

Mengenal Legenda Bugis, Nene' Mallomo

Nene’ Mallomo merupakan salah satu tokoh cendekiawan terkemuka di Sidenreng Rappang (Sidrap) Sulawesi Selatan dan telah menjadi simbol yang melegenda di daerah Bugis tersebut. Nene’ mallomo hidup di masa Kerajaan Sidenreng sekitar abad ke-16 M, pada masa pemerintahan La Patiroi, Addatuang Sidenreng. Beberapa referensi sejarah juga menyebutkan bahwa Nene’ Mallomo lahir sebelum masa pemerintahan Raja La Patiroi, yaitu pada masa Raja La Pateddungi. Nene’ Mallomo wafat pada tahun 1654 M di Allakuang, Sidrap dengan mewariskan salah satu slogannya yang terkenal dan menjadi pedoman hidup orang Bugis yakni “Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata”.
Pada zaman dahulu, setiap kerajaan memiliki cendekiawan yang merupakan pembimbing masyarakat dalam mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Ada 5 orang cendekiawan yang terkenal dalam perjalanan sejarah kerajaan Bugis, yaitu Kajao Laliddo (cendekiawan kerajaan Bone), Nene’ Mallomo (cendekiawan kerajaan Sidenreng), Arung Bila (cendekiawan kerajaan Soppeng), La Meggu’ (cendekiawan kerajaan Luwu) dan Puang ri Maggalatung (cendekiawan kerajaan Wajo).
Para cendekiawan tersebut sering melaksanakan pertemuan untuk mengadakan diskusi, sambil tukar menukar pengalaman yang nantinya menjadi pedoman wawasan setiap orang Bugis. Salah satu kegiatan pertemuan mereka yang terkenal digelar di Cenrana dimana pertemuan tersebut dihadiri oleh Kajao Laliddo dari Bone, Nene’ Mallomo dari Sidenreng, Puang ri Maggalatung dari Wajo, Topacaleppang dari Soppeng, Macca e dari Luwu dan Boto Lempangan dari Gowa. Dari pertemuan tersebut, Nene’ Mallomo kemudian melahirkan buah pikirannya yang disepakati oleh para cendekiawan yang hadir. Buah pikirannya berupa sebuah prinsip yang harus dijalankan oleh aparat kerajaan dalam mewujudkan masyarakat yang taat hukum. Prinsip tersebut dikenal dengan ungkapan “Naiya Ade’ Temmakkeana’ Temmakkeappo” (hukum tidak mengenal anak cucu).
“Pangadereng dapat diartikan sebagai keseluruhan norma-norma, meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesamanya manusia dan terhadap pranata sosialnya secara timbal balik dan yang menyebabkan adanya gerak (dinamis) masyarakat. Pangadereng dibangun oleh banyak unsur yang saling menguatkan. Pangadereng meliputi hal ihwal ade’ (adat), bicara, rapang (contoh), wari (tata cara) dan sara’. Semua diperteguh dalam satu rangkuman yang melatarbelakanginya, yaitu satu ikatan yang mendalam ialah siri”. (Mattulada, 1968)
Nene’ Mallomo hanyalah sebuah gelar bagi seseorang, dimana dalam bahasa Bugis Sidrap, kata Mallomo berarti mudah, yang maksudnya bahwa Nene’ Mallomo mudah memecahkan suatu permasalahan yang timbul. Nene’ Mallomomerupakan seorang laki-laki, walaupun kata Nene’ menunjuk pada istilah wanita yang telah lanjut usia (tua). Dalam budaya Bugis dahulu, kata Nene’ digunakan untuk pria/wanita yang telah lanjut usia. Nama asli Nene’ Mallomo adalah La Pagala, namun ada juga yang mengatakan bahwa nama asli Nene’ Mallomoadalah La Makkarau.
Nene’ Mallomo dikenal sebagai seorang intelektual yang mempunyai kapasitas dalam hukum dan pemerintahan serta berwatak jujur dan adil kepada seluruh masyarakatnya. Dalam konteks masalah hukum, Nene’ Mallomo mempunyai prinsip yaitu “Ade Temmakkeana Temmakkeappo”, yang berarti bahwa hukum tidak mengenal anak dan cucu. Hal ini menunjukkan sisi keadilan dan ketegasan dari seorang Nene’ Mallomo, yang juga merupakan salah seorang penyebar agama Islam di daerah Sidrap.
Salah satu petuah dari Nene’ Mallomo mengatakan bahwa orang Sidrap harus mempunyai sifat Macca (pintar), Malempu (jujur), Magetteng (konsisten), Warani (berani), Mapato (rajin), Temmapasilengeng (adil) serta Deceng Kapang (menghormati orang lain).
Nene’ Mallomo juga merupakan penggagas falsafah hidup masyarakat Bugis Sidrap, yang terkenal yaitu Massappa (mencari rezeki yang halal), Mabbola (membangun rumah dari rezeki yang halal), Mappabotting (mempererat silaturrahmi dengan ikatan pernikahan), Mappatarakka Hajji (menunaikan ibadah haji) dan Mattaro Sengareng (merendahkan diri dan keikhlasan).
Salah satu pappaseng (pesan) Nene’ Mallomo bagi aparat kerajaan adalah “Tellu tau kupaseng : Arung Mangkau’e, pabbicara e, suro e. Aja’ pura mucapa’i lempu e o arung mangkau’. Malempuko mumadeceng bicara, mumagetteng, apa’ riasengnge malempu, madeceng bicara e lamperi sunge’. Apa’ teammate lempu e, temmaruttung lappa e, teppettu malompennge, teppolo masselomo e”,  (Aku berpesan kepada tiga golongan: Maharaja, Juru Bicara dan Utusan. Jangan sekali-kali engkau meremehkan kejujuran itu, hai maharaja. Berlaku jujurlah serta peliharalah tutur katamu, engkau harus tegas. Sebab yang disebut kejujuran, tutur kata yang baik itu memanjangkan usia. Oleh karena takkan mati kejujuran itu, takkan runtuh yang datar, takkan putus yang kendur, takkan patah yang lentur).
Oleh karena kearifan serta kebijaksanaannya, Nene’ Mallomo sampai saat ini telah menjadi ikon dari Kabupaten Sidenreng Rappang, yaitu Bumi Nene’ Mallomo.  (sumber : I Lagaligo Passompe’E / pelajarpro.com)
»»   Selengkapnya...

Riwayat Rumah Adat, Bola Soba

TNO-Sul-Sel, Rumah adat Bangsawan Bugis di Watampone, Sulawesi Selatan yang disebut Bola Soba’. Arsitekturnya hampir mirip dengan rumah Adat Gowa yakni Balla Lompoa. Bola soba atau dalam bahasa Indonesia yang diartikan “rumah persahabatan” merupakan salah satu peninggalan sejarah masa lampau.
Bangunan tradisional Bugis bermaterial kayu ini berdiri di atas lahan seluas hampir 1/2 hektar di ruas Jalan Latenritatta, Watampone. Kokohnya bangunan ini menandakan bahwa masyarakat Bone pada masa lampau telah menguasai pengetahuan teknik arsitektur dan sipil yang mumpuni.
Bola Soba dibangun pada masa pemerintahan Raja Bone ke-30, La Pawawoi Karaeng Sigeri sekitar tahun 1890. Awalnya, diperuntukkan sebagai kediaman raja. Selanjutnya, ditempati oleh putra La Pawawoi, Baso Pagilingi Abdul Hamid yang kemudian diangkat menjadi Petta Ponggawae (Panglima perang) Kerajaan Bone. Seiring dengan ekspansi Belanda yang bermaksud menguasai Sulawesi, termasuk Kerajaan Bone pada masa itu, maka Saoraja Petta Ponggawae ini pun jatuh ke tangan Belanda dan dijadikan sebagai markas tentara. Tahun 1912, difungsikan sebagai mes atau penginapan untuk menjamu tamu Belanda. Berawal dari sinilah penamaan Bola Soba’ yang berarti rumah persahabatan.
Bola Soba memiliki panjang 39,45 meter terdiri dari empat bagian utama, yakni lego-lego (teras) sepanjang 5,60 meter, rumah induk (21 meter), lari-larian/selasar penghubung rumah induk dengan bagian belakang (8,55 meter) serta bagian belakang yang diperuntukkan sebagai ruang dapur (4,30 meter). Dindingnya dilengkapi dengan ukiran pola daun dan kembang sebagai ciri khas kesenian Islam dan banji (model swastika) yang diperkenalkan oleh orang Tionghoa.
Bola Soba telah mengalami tiga kali pemindahan lokasi. Awalnya, terletak di Jalan Petta Ponggawae yang saat ini menjadi lokasi rumah jabatan bupati Bone. Selanjutnya, dipindahkan ke Jalan Veteran dan terakhir di Jalan Latenritatta sejak tahun 1978. Peresmiannya dilakukan pada 14 April 1982 oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) saat itu, Prof Dr Daoed Joesoef. Sebagai bangunan peninggalan sejarah, Bola Soba didesain untuk mendekati bangunan aslinya. Namun demikian, beberapa bagian juga mengalami perubahan, baik perbedaan bahan maupun ukurannya aslinya.
Memasuki bagian dalam bangunan, tak ada benda-benda monumental yang bisa menjelaskan historis bangunan tersebut dengan detail, sedangkan di bagian lain ruangan terdapat ‘bangkai’ meriam tua, potret lukisan Arung Palakka, silsilah raja-raja Bone, serta beberapa benda-benda tertentu yang sengaja disimpan pengunjung sebagai bentuk melepas nazar. Nampak yang jelas hanya beberapa perlengkapan kesenian, seperti kostum tari dan gong dimana setiap harinya bangunan Bola Soba telah ini menjadi tempat latihan salah satu sanggar kesenian yang ada di kota ini. (sumber: bolasoba.blogspot.com / foto: Hasbi Photographer)

posting : kabarkami.com
»»   Selengkapnya...

Rabu, 13 Maret 2013

Nycta Gina Pernah Lihat Bangsawan Toraja Dihidupkan Lagi

Nycta Gina
Laporan Wartawan Tribun Jakarta, Ferro Maulana
TNO -Jakarta, 
Pernah menjadi presenter progam travelling di sebuah stasiun televisi swasta adalah berkah bagi Nycta Gina. Berkat program itu, ia sudah pernah berkeliling ke sejumlah tempat wisata di seluruh Indonesia.

Gadis kelahiran Jakarta, 3 November 1984, mengaku pernah ke Toraja (Sulsel), Ujung Genteng (Jawa Barat), Pantai Batu Puteh (Aceh), Pantai Bunaken (Sulut), Danau Ranau (Lampung), dan beberapa tempat lainnya.

Namun, dari sekian banyak lokasi wisata yang pernah dikunjunginya, Tana Toraja yang paling unik di mata pemeran karakter Jeng Kelin ini.

"Di Toraja ada tradisi di mana mayat dimasukkan ke dalam gua di Londa (sebuah daerah pemakaman)," jelasnya.

Bintang Sinetron Terlanjur Cinta ini melihat seorang bangsawan dihidupkan kembali oleh seorang dukun melalui sebuah boneka.

"Bangsawannya dibikinkan boneka dan dengan bantuan orang pintar, boneka itu hidup bisa naik ke bukit sendirian. Keren banget," ujar pemilik nama lengkap Rizna Nyctagina yang bercita-cita ingin ke Paris dan Milan.

Editor : suhendri
Sumber : Tribunnews
posting : BANGKAPOS.COM
»»   Selengkapnya...

Minggu, 10 Maret 2013

Ekspedisi NKRI di Mengkendek


TNO-Mengkendek, Dandim 1414 Tana Toraja Letkol Kav. Buang Adri Aprianus, mengatakan strategi pemerintah memperbaiki ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, melalui keterlibatan tim ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013, melakukan pendataan dan meneliti segala potensi kekayaan alam di hutan, sungai, gunung dan pegunungan, menjadi entry point bagi Toraja mengakselerasikan pembangunan di semua sektor.
Buang Adri Aprianus menjelaskan kegiatan sosial tim ekspedisi selain merehabilitasi rumah penduduk, juga pembangunan jembatan gantung di lembang Maro`son kecamatan Rembon, serta reboisasi dan pelestarian alam utamanya dilahan kritis.
Menurutnya ekspedis NKRI merupakan hasil kerjasama Mabes TNI-Polri dan Meskokesra selama 4 bulan di Tana Toraja dan Toraja Utara, melibatkan 130 personil yang terdiri dari TNI-Polri Pusat 50 orang dan 15 sipil, TNI-Polri lokal 30 orang, serta Instansi terkait tidak termasuk tim media peliput sebanyak 35 orang.
Buang Adri menjelaskan kegiatan ekspedisi NKRI di Tana Toraja dan Toraja Utara, didasari surat Panglima TNI Nomor.B/1677-07/12/07/Ops tanggal 15 Mei 2012 tentang ekspedisi TNI dalam program Kemenkokesra, Surat Kemenkokesra RI Nomor. 647/UND/KMK/SES/VI/2012 tanggal 4 Juni 2012 tentang penyelenggaraan ekspedisi tahun 2013, dan hasil seminar ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013 tanggal 5 Nopember 2012.
Selama berlangsung ekspedisi NKRI di Toraja, imbuh dia, kegiatan tim ekspedisi selain melakukan jelajah hutan, gunung dan sungai, juga penelitian kerusakan hutan, geologi dan potensi bencana, pendataan flora dan fauna, serta sosial budaya, wawasan kebangsaan dan kepramukaan.
Ditambahkan Fasi Teritorial Dandim Toraja Kapten Joni Rante, tema ekspedisi di Toraja tahun ini “Peduli dan Lestarikan Alam Indonesia”, dimaksudkan untuk mendata dan meneliti segala potensi kekayaan alam di hutan, gunung dan pegunungan dengan sasaran peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Demikian pula bangkitkan kesadaran keunggulan teritorial daerah utamanya memberikan keteladanan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan melalui program green, clean dan healthy.
posting :kabartoraja.com
»»   Selengkapnya...

Selasa, 26 Juni 2012

Kebakaran di Rantepao, Hanguskan Todi’ Art Shop

RANTEPAO, TCN.com — Kebakaran kembali terjadi di kota Rantepao, Toraja Utara, Minggu (24/6) pagi tadi pukul 07.30 Wita. Kebakaran menghanguskan Todi’ Art Shop, yang terletak di Jalan Pembangunan No. 19, tak jauh dari lapangan Bakti, Rantepao. Tidak ada korban jiwa namun kerugian material diperkirakan cukup besar.
Todi’ Art Shop-Foto HTP

Citizen Reporter TCN, Herson T. Pasuang melaporkan, api yang menghanguskan toko ini terjadi begitu cepat.Belum ada rilis resmi dari pihak berwajib mengenai sebab-sebab kebakaran. Namun, diduga karena di dalamnya terdapat benda-benda dan bahan yg mudah terbakar. Misalnya kain tenun, pakaian khas Toraja, benda2 seni ukiran lainnya serta bahan-bahan tenun.
Pemadam kebakaran yang datan ditempat sekitar 15 menit kemudian tak mampu mengatasi kobaran api yang sangat tinggi dan besar ditambah lagi dgn adanya kendaraan pemadam yg hanya 1 serta lokasi pengisian air yang cukup jauh di Singki’.
Api bari bisa dipadamkan setelah semuanya ludes terbakar.
Kobaran api nyaris saja merembet ke Wisma TEBASS yang berada persis di belakang Toko ini, namun untung masyarakat yang ikut membantu berhasil menghambat rembesan api sehingga tidak meluas.
Sebab-sebab kebakaran belum diketahui pasti. Namun, ada sumber yang mengatakan bahwa api kemungkinan berasal dari ledakan tabung gas 3 kg yang meledak.
Todi’ adalah toko ternama dan terlengkap di Toraja, dan menjadi vaforite para wisatawan karena menyediakan kain tenun dan benda seni khas Toraja yang cukup lengkap. Todi’ juga dikenal sebagai salah satu art shop yang masih eksis mempertahankan seni tenun tradisional Toraja. Todik’ Art Shop memiliki situs internet yang menyediakan layanan belanja online. Bisa diakses di alamat: http://todi.co.id/id/

Kebakaran yang menghanguskan Galeri terbesar di Toraja ini, sudah pasti berdampak bagi perekonomian di Toraja Utara. Turut prihatin.
Laporan: Herson T. Pasuang – Rantepao
»»   Selengkapnya...

Senin, 26 Desember 2011

Sejarah Tanah Luwu

Sejarah Tanah Luwu


Makam Datu Luwu (1900-1940)
Sejarah Tanah Luwu sudah berawal jauh sebelum masa pemerintahan Hindia Belanda bermula. Sebelumnya Luwu telah menjadi sebuah kerajaan yang mewilayahi Tana Toraja (Makale, Rantepao) Sulawesi Selatan, Kolaka (Sulawesi Tenggara) dan Poso (Sulawesi Tengah). Hal sejarah Luwu ini dikenal pula dengan nama Tanah Luwu yang dihubungkan dengan nama La Galigo dan Sawerigading.
Setelah Belanda menundukkan Luwu, mematahkan perlawanan Luwu pada pendaratan tentara Belanda yang ditantang oleh hulubalang Kerajaan Luwu Andi Tadda bersama dengan laskarnya di Ponjalae pantai Palopo pada tahun 1905. Belanda selanjutnya mebangun sarana dan prasarana untuk memenuhi keperluan pemerintah penjajah diseluruh wilayah kerajaan Luwu mulai dari Selatan, Pitumpanua ke utara Poso, dan dari Tenggara Kolaka (Mengkongga) ke Barat Tana Toraja. Pada Pemerintahan Hindia Belanda, sistem pemerintahan di Luwu dibagi atas dua tingkatan pemerintahan, yaitu:
  • Pemerintahan tingkat tinggi dipegang langsung oleh Pihak Belanda.
  • Pemerintahan tingkat rendah dipegang oleh Pihak Swapraja.
Dengan terjadinya sistem pemerintahan dualisme dalam tata pemerintahan di Luwu pada masa itu, pemerintahan tingkat tinggi dipegang oleh Hindia Belanda, dan yang tingkat rendah dipegang oleh Swapraja tetapi tetap masih diatur oleh Belanda, namun secara de jure Pemerintahan Swapraja tetap ada. Menyusul setelah Belanda berkuasa penuh di Luwu, maka wilayah Kerajaan Luwu mulai diperkecil, dan dipecah sesuai dengan kehendak dan kepentingan Belanda, yaitu:
  • Poso (yang masuk Sulawesi Tengah sekarang) yang semula termasuk daerah Kerajaan Luwu dipisahkan, dan dibentuk satu Afdeling.
  • Distrik Pitumpanua (sekarang Kecamatan Pitumpanua dan Keera) dipisah dan dimasukkan kedalam wilayah kekuasaan Wajo.
  • Kemudian dibentuk satu afdeling di Luwu yang dikepalai oleh seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Palopo.
Selanjutnya Afdeling Luwu dibagi menjadi 5 (lima) Onder Afdeling, yaitu:
  • Onder Afdeling Palopo, dengan ibukotanya Palopo.
  • Onder Afdeling Makale, dengan ibukotanya Makale.
  • Onder Afdeling Masamba, dengan ibukotanya Masamba.
  • Onder Afdeling Malili, dengan ibukotanya Malili.
  • Onder Afdeling Mekongga, dengan ibukotanya Kolaka.
Selanjutnya pada masa pendudukan tentara Dai Nippon, Pemerintah Jepang tidak mengubah sistem pemerintahan, yang diterapkan tentara Dai Noppon pada masa berkuasa di Luwu (Tahun 1942), pada prinsipnya hanya meneruskan sistem pemerintahan yang telah diterapkan oleh Belanda, hanya digantikan oleh pembesar-pembesar Jepang. Kedudukan Datu Luwu dalam sistem pemerintahan Sipil, sedangkan pemerintahan Militer dipegang oleh Pihak Jepang. Dalam menjalankan Pemerintahan Sipil, Datu Luwu diberi kebebasan, namun tetap diawasi secara ketat oleh pemerintahan Militer Jepang yang sewaktu-waktu siap menghukum pejabat sipil yang tidak menjalankan kehendak Jepang, dan yang menjadi pemerintahan sipil atau Datu Luwu pada masa itu ialah " Andi Kambo Opu Tenrisompa" kemudian diganti oleh putranya "Andi Patiware" yang kemuadian bergelar "Andi Jemma".
Pada bulan April 1950 Andi Jemma dikukuhkan kembali kedudukannya sebagai Datu/Pajung Luwu dengan wilayah seperti sediakala. Afdeling Luwu meliputi lima onder Afdeling Palopo, Masamba, Malili, Tana Toraja atau Makale, Rantepao dan Kolaka. Tahun 1953 Andi Jemma Datu Luwu diangkat menjadi Penasehat Gubernur Sulawesi, waktu itu Sudiro. Ketika Luwu dijadikan Pemerintahan Swapraja, Andi Jemma diangkat sebagai Kepala Swapraja Luwu, pada tahun 1957 hingga 1960.
Atas jasa-jasa beliau terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia, Andi Jemma telah dianugerahi Bintang Gerilya tertanggal 10 November 1958, Nomor 36.822 yang ditandatangani Presiden Soekarno. Pada masa periode kepemimpinan Andi Jemma sebagai Raja atau Datu Luwu terakhir, sekaligus menandai berakhirnya sistem pemerintahan Swatantra (Desentralisasi). Belasan tanda jasa kenegaraan Tingkat Nasional telah diberikan kepada Andi Jemma sebelum beliau wafat tanggal 23 Februari 1965 di Kota Makassar. Presiden Soekarno memerintahkan agar Datu Luwu dimakamkan secara kenegaraan di ‘Taman Makam Pahlawan’ Panaikang Makassar, yang dipimpin langsung oleh Panglima Kodam Hasanuddin.
Selanjutnya pada masa setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, secara otomatis Kerajaan Luwu berintegrasi masuk kedalam Negara Republik Indonesia. Hal itu ditandai dengan adanya pernyataan Raja Luwu pada masa itu Andi Jemma yang antara lain menyatakan "Kerajaan Luwu adalah bagian dari Wilayah Kesatuan Republik Indonesia".
Pemerintah Pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.34/1952 tentang Pembubaran Daerah Sulawesi Selatan bentukan Belanda/Jepang termasuk Daerah yang berstatus Kerajaan. Peraturan Pemerintah No.56/1951 tentang Pembentukan Gabungan Sulawesi Selatan. Dengan demikian daerah gabungan tersebut dibubarkan dan wilayahnya dibagi menjadi 7 tujuh daerah swatantra. Satu di antaranya adalah daerah Swatantra Luwu yang mewilayahi seluruh daerah Luwu dan Tana Toraja dengan pusat Pemerintahan berada di Kota Palopo.
Berselang beberapa tahun kemudian, Pemerintah Pusat menetapkan beberapa Undang-Undang Darurat, antara lain:
  • Undang-Undang Darurat No.2/1957 tentang Pembubaran Daerah Makassar, Jeneponto dan Takalar.
  • Undang-Undang Darurat No. 3/1957 tentang Pembubaran Daerah Luwu dan Pembentukan Bone, Wajo dan Soppeng. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Darurat No. 4/1957, maka Daerah Luwu menjadi daerah Swatantra dan terpisah dengan Tana Toraja.
Daerah Swatantra Luwu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Darurat No.3/1957 adalah meliputi:
  • Kewedanaan Palopo
  • Kewedanaan Masamba dan
  • Kewedanaan Malili
Kemudian pada tanggal 1 Maret 1960 ditetapkan PP Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pembentukan Propinsi Administratif Sulawesi Selatan mempunyai 23 Daerah Tingkat II, salah satu diantaranya adalah Daerah Tingkat II Luwu.
Untuk menciptakan keseragaman dan efisiensi struktur Pemerintahan Daerah, maka berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara No.1100/1961, dibentuk 16 Distrik di Daerah Tingkat II Luwu, yaitu:
  • Wara
  • Larompong
  • Suli
  • Bajo
  • Bupon
  • Bastem
  • Walenrang(Batusitanduk)
  • Limbong
  • Sabbang
  • Malangke
  • Masamba
  • Bone-Bone
  • Wotu
  • Mangkutana
  • Malili
  • Nuha
Dengan 143 Desa gaya baru. Empat bulan kemudian, terbit SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara No.2067/1961 tanggal 18 Desember 1961 tentang Perubahan Status Distrik di Sulawesi Selatan termasuk di Daerah Tingkat II Luwu menjadi Kecamatan. Dengan berpedoman pula pada SK tersebut, maka status Distrik di Daerah Tingkat II Luwu berubah menjadi kecamatan dan nama-nama kecamatannya tetap berpedoman pada SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara No. 1100/1961 tertanggal 16 Agustus 1961, dengan luas wilayah 25.149 km2.
Perkembangan dari segi Administratif Pemerintahan di Dati II Luwu, selain pemekaran kecamatan, desa dan kelurahan juga ditetapkannya Dati II Luwu sebagai salah satu Kota Administratif (KOTIP) berdasarkan SK Mendagri No.42/1986 tanggal 17 September 1986.
Dengan demikian secara Administratif Dati II Luwu terdiri dari satu Kota Administratip, tiga Pembantu Bupati, 21 Kecamatan Definitif, 13 Kecamatan Perwakilan, 408 Desa Definitif, 52 Desa Persiapan dan Kelurahan dengan luas wilayah berdasarkan data dari Subdit Tata Guna Tanah Direktorat Agraria Propinsi Sulawesi Selatan adalah 17.791,43 km2 dan dikuatkan dengan Surat Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 124/III/1983 tanggal 9 Maret 1983 tentang penetapan luas propinsi, kabupaten/kotamadya dan kecamatan dalam wilayah propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.
Luas Wilayah Propinsi Kabupaten/Kotamadya dan Kecamatan yang ada sekarang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan nyata dilapangan oleh karena telah terjadi penyempurnaan batas wilayah antar propinsi di Sulawesi Selatan, maka melalui kerjasama Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Propinsi Sul-Sel dan Topografi Kodam VII Wirabuana, Pemerintah Propinsi Tingkat I Sulawesi Selatan telah berhasil menyusun data tentang luas wilayah propinsi, kabupaten/ kotamadya dan kecamatan di daerah Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan dengan Surat Keputusan Gubernur KDH Tk.I Sul-Sel Nomor : SK.164/IV/1994 tanggal 4 April 1994. Total luas wilayah Kabupaten Luwu adalah 17.695,23 km2 dengan 21 kecamatan definitif dan 13 Kecamatan Pembantu.
Pada tahun 1999, saat awal bergulirnya Reformasi di seluruh wilayah Republik Indonesia, dimana telah dikeluarkannya UU No.22 Tahun 1999, tentang Pemerintahan di Daerah, dan mengubah mekanisme pemerintahan yang mengarah pada Otonomi Daerah.
Tepatnya pada tanggal 10 Februari 1999, oleh DPRD Kabupaten Luwu mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 03/Kpts/DPRD/II/1999, tentang Usul dan Persetujuan Pemekaran Wilayah Kabupaten Dati II Luwu yang dibagi menjadi dua Wilayah Kabupaten dan selanjutnya Gubernur KDH Tk.I Sul-Sel menindaklanjuti dengan Surat Keputusan No.136/776/OTODA tanggal 12 Februari 1999. Akhirnya pada tanggal 20 April 1999, terbentuklah Kabupaten Luwu Utara ditetapkan dengan UU Republik Indonesia No.13 Tahun 1999.
Pemekaran Wilayah Kabupaten Dati II Luwu terbagi atas:
  1. Kabupaten Dati II Luwu dengan batas Saluampak Kec. Lamasi dengan batas Kabupaten Wajo dan Kabupaten Tana Toraja, dari 16 kecamatan, yaitu:
    • Kecamatan Lamasi
    • Kecamatan Walenrang
    • Kecamatan Pembantu Telluwanua
    • Kecamatan Warautara
    • Kecamatan Wara
    • Kecamatan Pembantu Wara Selatan
    • Kecamatan Bua
    • Kecamatan Pembantu Ponrang
    • Kecamatan Bupon
    • Kecamatan Bastem
    • Kecamatan Pembantu Latimojong
    • Kecamatan Bajo
    • Kecamatan Belopa
    • Kecamatan Suli
    • Kecamatan Larompong
    • Kecamatan Pembantu Larompong Selatan
  2. Kabupaten Luwu Utara dengan batas Saluampak Kec. Sabbang sampai dengan batas Propinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, terdiri dari 19 Kecamatan, yaitu:
    • Kecamatan Sabbang
    • Kecamatan Pembantu Baebunta
    • Kecamatan Limbong
    • Kecamatan Pembantu Seko
    • Kecamatan Malangke
    • Kecamatan Malangke Barat
    • Kecamatan Masamba
    • Kecamatan Pembantu Mappedeceng
    • Kecamatan Pembantu Rampi
    • Kecamatan Sukamaju
    • Kecamatan Bone-Bone
    • Kecamatan Pembantu Burau
    • Kecamatan Wotu
    • Kecamatan Pembantu Tomoni
    • Kecamatan Mangkutana
    • Kecamatan Pembantu Angkona
    • Kecamatan Malili
    • Kecamatan Nuha
    • Kecamatan Pembantu Towuti
  3. Kota Palopo adalah salah saatu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kota Palopo sebelumnya berstatus kota administratif yang berlaku sejak 1986 berubah menjadi kota otonom sesuai dengan UU Nomor 11 tahun 2002 tanggal 10 April 2002. Kota ini memiliki luass wilayah 155,19 Km2 dan berpenduduk sejumlah 120.748 jiwa dan dengan jumlah Kecamatan:
    • Kecamatan Wara
    • Kecamatan Wara Utara
    • Kecamatan Wara Selatan
    • Kecamatan Telluwanua
    • Kecamatan Wara Timur
    • Kecamatan Wara Barat
    • Kecamatan Mungkajang
    • Kecamatan Bara
    • Kecamatan Sendana
  4. Kabupaten Luwu Timur adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kabupaten ini berasal dari pemekaran Kabupaten Luwu Utara yang disahkan dengan UU Nomor 7 Tahun 2003 pada tanggal 25 Februari 2003. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 6.944,98 km2, dengan Kecamatan masing-masing:
    • Kecamatan Angkona
    • Kecamatan Burau
    • Kecamatan Malili
    • Kecamatan Mangkutana
    • Kecamatan Nuha
    • Kecamatan Sorowako
    • Kecamatan Tomoni
    • Kecamatan Tomoni Utara
    • Kecamatan Towuti
    • Kecamatan Wotu
Setelah pembagian Wilayah Kabupaten Luwu dari dua Kabupaten menjadi tiga Kabupaten dan satu Kota, maka secara otomatis luas Wilayah Kabupaten ini berkurang dengan Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu Timur dan Kota Palopo berdasarkan batas yang telah ditetapkan, yaitu:
  • Luas Wilayah Kabupaten Luwu adalah 3.092,58 km2
  • Luas Wilayah Kabupaten Luwu Utara adalah 7.502,48 km2
  • Luas Wilayah Kota Palopo menjadi 155.19 km2.
  • Luas Wilayah Kabupaten Luwu Timur menjadi 6.944,98 km2.
Sumber : wikipedia
»»   Selengkapnya...

Situs Makam Leppangeng Kabupaten Pinrang

Situs Makam Leppangeng Kabupaten Pinrang
Oleh : Dra. Hj. Muhaeminah dan Tim

Makam Makkaraka  di Leppangeng jalan poros dari Mandar ke Pare-pare dengan koordinat LS 03⁰ 42' 50,6", BT 119⁰ 37' 49,7". Makam kuna ini terletak di atas areal bekas masjid kuna kini masih Nampak pondasi bekas masjidnya. Arung Leppangeng  diungkapkan oleh penduduk setempat, berdasarkan lontara kuna Lamakkaraka menjelaskan bahwa :  Arung Leppangeng adalah sebagai berikut ; 1.     MatinroE Ri Masigina
2.     Datu Burru'
3.     Makkaraka
4.     Pammassangi
5.     Tanri Lewang
6.     Senrangeng
7.     Petta Cambo
8.     Puang Milu
9.     Andi Baso Ibrahim Bau Massepe
Masih banyak makam di sekitar makam kuna namun tidak diketahui nama almarhum serta asal keberadaannya. Makam arung Lamakkaraka telah dibangun dan dipasangi keramik dan diberi nama sangat jelas, bangunan makan kuna tersebut tidak sesuai bentuk aslinya.
»»   Selengkapnya...

Situs Istana Raja Kedatuan Sawitto Kabupaten Pinrang

Situs Istana Raja Kedatuan Sawitto Kabupaten Pinrang
Oleh : Dra. Hj. Muhaeminah dan Tim

Istana Raja Kerajaan Sawitto terletak di poros jalan Pinrang -Rappang atau terletak kurang lebih 2 km ke arah timur dari pusat ibukota Pinrang dengan koordinat LS 03⁰ 47' 28'3", BT 119⁰ 39' 16,2". Penanda masa lalu yang masih tersisa di situs ini berupa sebuah rumah batu permanen yang bergaya arsitektur kuno (lihat foto). Menurut keterangan salah seorang kerabat raja Sawitto (A. Sawerigading) bahwa sebelum istana dari bahan batuan ini dibangun, sebelumnya adalah istana dari bahan kayu. Khusus untuk istana dari batu tersebut katanya dibangun pada masa pemerintahan Kolonial. Selanjutnya menurut penuturan bapak A. Sawerigading bahwa seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pemerintahan, politik, social, ekonomi dan keagaan dikendalikan dari pusat istana tersebut. Datu terakhir Sawitto Andi Rukiah atau dikenal Addituang atau datu yang dikirim dari pusat kerajaan besar (Bone), beliau adalah istri dari Andi Makkulau (Bupati pertama Kabupaten Pinrang). Situs Istana terletak di kota Pinrang, jl.Bau Massepe poros  arah ke Rappang Kabupaten Sidrap.
Silsila Addatuang Sidenreng dan Addatuang terakhir Sawitto  , sumber dari Mess Daerah Kabupaten Sidrap. 
Addatuang Sidenreng  Towappo, kawin dengan  tungke Arung Barani, melahirkan anak Addatuang Sidenreng Lawawo, kemudian kawin dengan Ibubeng Karaeng Pabineang, melahirkan anak nama, Inomba Datu Pammana. Kawin dengan Muhammad Petta Cambange melahirka 5 anak, pertama Addatuang Sidenreng Panguriseng dengan Ibangki Arung Rappang, melahirkan 6 anak yaitu Addatuang Sidenreng Lasadang Potto dengan Andi Baeda (tertera fotonya di atas), ia melahirkan 6 anak adalah Andi Besse Bulo kawin dengan Andi Mappanyuki ia melahirkan anak 2 orang adalah Andi Abdullah Datu Massepe dan Andi Rukiah Addatuang terakhir Sawitto (Fotonya tertera di atas) kawin dengan Andi Makkulau Bupati pertama Kabupaten Pinrang.

Sumber: Balai Arkeologi Makassar
»»   Selengkapnya...
Situs Liang Datu Kabupaten Enrekang Sul-Sel
Oleh : Drs. Hasanuddin, M.Hum dan Tim

Situs Leang Datu secara administratif berada di Desa Palakka Kecamatan Maiwa. Desa ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua dan empat dengan melewati sebagian kecil  jalan aspal dan sebagian besar jalan pengerasan. Namun kondisi jalan yang masih rusak sehingga masih agak sulit untuk dijangkau. Secara astronomis situs ini terletak pada titik  S 03º338'04,6" dan E 119º 49'24,6" dengan ketinggian 442 m dpl. Jarak situs dari jalan pengerasan sekitar ±1 km. Untuk menuju ke situs berjalan kaki melewati perkebunan, sungai, hutan, lereng-lereng dan jurang yang terjal yang banyak ditumbuhi pohon coklat, pohon durian, pohon langsat, semak belukar dan pohon-pohon liar lainnya. Leang Datu merupakan gua  yang berfungsi sebagai tempat penguburan. Di depan gua merupakan jurang yang terjal yang ditumbuhi pohon-pohon liar dan semak belukar.  
Mulut gua menghadap tenggara dengan orientasi 130º yang ukuran lebarnya 132,2 m,  tinggi 340 cm dan kedalaman 23 m. Di langit-langit gua terlihat masih ada tetesan air dengan kondisi gua agak lembab. Di lantai gua terlihat banyak kotoran kalelawar.Terdapat 27 Duniyang ditemukan dalam gua. Sebagian besar Duni tersebut masih terisi tulang belulang manusia. Kayu Duni berasal dari kayu bitti dan cendana.
Berdasarkan tabel di atas, terdapat tiga bentuk Duniyang ditemukan di Leang Datu, yakni atap rumah, perahu, dan perahu ujung melingkar.Bentuk atap rumah terlihat menyerupai bentuk atap rumah adat suku toraja secara umum.Sedangkan bentuk perahu menyerupai perahu yang dasarnya berbentuk setengah oval, namun di bagian ujungnya masing-masing terlihat rata. Perahu ujung melingkar, hampir sama bentuknya dengan perahu. Namun di bagian ujung masing-masing berbentuk lingkaran.Menurut informasi salah satu masyarakat setempat, bahwa bentuk perahu ujung melingkar diperuntukkan untuk wadah penguburan perempuan.
Berdasarkan data tersebut di atas, terlihat bahwa persentase bentuk atap rumah 26%, dibandingkan dengan perahu hanya 7% dan perahu ujung melingkar hanya 4%. Sedangkan 63 % di antaranya tidak diketahui, yakni tanpa penutup 26% dan tidak teridentifikasi karena rusak 37 %.Pada bagian wadah, 63% di antaranya berbentuk balok, sedangkan yang tidak teridentifikasi karena rusak 37 %.Kondisi penutup duni48% yang telah rusak, sedangkan yang utuh hanya 19 %.Pada bagian wadah yang utuh hanya 33 %, sedangkan yang rusak 67 %.

Sumber : Balai  Arkeologi Makassar
»»   Selengkapnya...
Situs Lo'ko' Liang Kabupaten Enrekang Sul-Sel
Oleh : Drs. Hasanuddin, M.Hum dan Tim

Loko Liang secara administratif berada di Desa Lembang, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang.Untuk menuju ke Desa Lembang dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua dan empat, dengan kondisi jalan yang terjal melewati sebagian kecil jalan aspal dan sebagian besar jalan pengerasan.Namun kondisi jalan pengerasan masih rusak sehingga masih sulit untuk dijangkau.Jarak desa tersebut dari jalan poros Makassar Enrekang sekitar ± 9 km. Secara astronomis terletak pada titik S 03º33'55,5" dan E 119º 51'2,1" dengan ketinggian 471 m dpl. Jarak situs dari jalan pengerasan yakni ±100 m. Untuk menuju ke situs ini, melewati pemukiman dan perkebunan yang banyak ditumbuhi pohon jambu mente, coklat, jati dan bambu.SitusLo'ko Liang merupakan gua penguburan yang ditandai dengan terdapatnya rongga pada tebing batu.Kondisi daratan di pelataran gua agak bergelombang yang ditumbuhi banyak pohon jati dan semak belukar. Mulut gua tersebut menghadap selatan  yangorientasinya 180º.
Di depan mulut gua yang terlihat adalah perkebunan, lereng  dan pegunungan. Di sebelah timur yang terlihat adalah perkebunan, lereng dan pegunungan, sedangkan di sebelah barat gua yang terlihat adalah perkebunan dan pemukiman.Di langit-langit gua tidak terlihat adanya tetesan air.
Terdapat 2 ruang yang dipisahkan oleh dinding gua.Ruang pertama terlihat berbentuk huruf "Y" yang memiliki tembusan hingga ke sebelah utara gua. Kedalamannya hingga 17 m, lebar130 cm dan tinggi 2 m. Di ruang gua ini terdapat 1 duni dari bahan kayu bitti. Wadah duni tersebut telah rusak sehingga bentuknya sulit diidentifikasi. Panjang duni tersebut adalah 2 m dengan lebar 30 cm. Penutup duni pertama berbentuk menyerupai atap rumah yang memiliki panjang 260 cm, lebar 30 cm dan tinggi 28 cm. Tengkorak manusia yang tampak tidak utuh ditemukan berada di dekat mulut gua. 
Ruang kedua berada di sebelah timur ruang pertama yang tinggi lantainya dari pelataran gua adalah 1 m. Ruang ini memiliki ukuran lebar 150 cm, tinggi 2 m dan kedalaman 18 m.Di ujung ruang kedua terdapat tembusan yang menghubungkannya dengan ruang pertama, ditemukan 2 duni.Duni kedua berada di dekat mulut gua dengan kondisi mulai rapuh dan rusak.Wadahnyaberbentuk balok dengan ukuran panjang 190 cm, tinggi 15 cm dan lebar 30 cm. Di dalam duni tersebut terlihat sebaran fragmen tulang manusia. Wadahnya berbentuk menyerupai atap rumah dengan ukuran panjang 260 cm, tinggi 35 cm dan lebar 30 cm.
Duni ketiga berada di bagian dalam ruang gua dengan kondisi mulai rapuh dan rusak. Wadah duni ini berbentuk lesung dengan ukuran panjang 250 cm, lebar 28 cm dan tinggi 32 cm. Di dalamnya terlihat beberapa fragmen tulang manusia. Penutupnya berbentuk menyerupai atap rumah dengan ukuran panjang 280 cm, lebar 42 cm dan tinggi 32 cm.

Sumber : Balai Arkeologi Makassar
»»   Selengkapnya...

Situs Lo'ko' Mandu Kabupaten Enrekang Sul-Sel

Situs Lo'ko' Mandu Kabupaten Enrekang Sul-Sel
Oleh : Drs. Hasanuddin, M.Hum dan Tim

Lo'ko Mandu terletak sekitar 500 meter ke arah utara dari Lo'ko Liang yang secara administratif berada di Desa Lembang, Kecamatan Enrekang. Secara astronomis, terletak pada titik S 03º33'41,8" dan E 119º 51'55,8" dengan ketinggian 334 m dpl. Jarak situs ke jalan pengerasan sekitar 50 m dengan melewati pemukiman dan perkebunan yang banyak ditumbuhi pohon jati, jambu mente, bambu, dan semak belukar.Mulut gua menghadap selatan dengan orientasi 180º. Kondisi daratan di pelataran gua agak bergelombang yang banyak ditumbuhi pohon jati, pohon coklat dan semak blukar. Di depan gua yang terlihat adalah perkebunan dan pegunungan. Mulut gua memiliki panjang 740 cm, tinggi 210 cm dengan kedalaman 16 m. Langit-langit gua terlihat agak rata, namun tidak terlihat adanya tetesan air.
Di bagian dalam gua terdapat lantai dari ornamen gua yang jaraknya dari lantai dasar 150 cm. Jarak lantai ini dari panel gua adalah 1 m. Di lantai tersebut terdapat 2 duni dengan kondisi mulai rusak. Duni yang pertama ditemukan berupa wadah tanpa penutup.Duni pertama berbentuk balok dengan ukuran panjang 160 cm, lebar 25 cm dan tinggi 25 cm. Duni yang kedua ditemukan berupa wadah tanpa penutup. Duni tersebut berbentuk balok dengan ukuran panjang 183 cm, lebar 30 cm dan tinggi 30 cm. Di lantai gua tidak ditemukan adanya tulang manusia. Namun di lantai dasar yang terlihat adalah sebaran fragmen tulang ayam dan cangkang kerang.

Sumber : Balai Arkeologi Makassar
»»   Selengkapnya...

Situs Tondon Kabupaten Enrekang Sul-Sel

Situs Tondon Kabupaten Enrekang Sul-Sel
Oleh : Drs. Hasanuddin, M.Hum dan Tim

Selain situs penguburan gua dengan wadah duni, juga ditemukan situs megalitik di Tondon[1]. Situs Tondon[2]secara administatif, berada di Dusun Tondon, Desa Tokkonan, Kecamatan Enrekang pada posisi koordinat 03º 31' 27,5" Lintang Selatan dan 119º 48' 4,9" Bujur Timur dengan ketinggian 599 m di atas permukaan air laut. Jarak Dusun Tondon dari jalan poros Makassar-Toraja sekitar ±5 km. Kondisi jalan yang rusak sehingga sangat sulit untuk dijangkau.Untuk menuju ke situs, dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun empat melalui lereng gunung dengan kondisi jalan rintisan yang sebagian besar berupa pengerasan, berkelok di antara gugusan gunung dan lembah yang ada di sekitarnya. Situs Tondon berada di puncak Bukit Buttu yang diapit oleh dua sungai.Di sebelah barat laut, terdapat Sungai Mata Alloyang jaraknya sekitar 1 km dari situs.Di sebelah tenggara terdapat Sungai Datte yang juga jaraknya sekitar 1 km dari situs.Kedua sungai tersebut bertemu di sebelah barat daya yang merupakan cabang aliran sungai Saddang. Jarak pertemuan kedua sungai tersebut dari situs sekitar 2,2 km.
Situs Tondon merupakan situs gunung berupa hamparan batuan andesit dengan berbagai bentuk goresan pada permukaannya. Sesuai nama Tondon sebagai tempat ketinggian, sehingga ketika berada di puncak (situs) akan terlihat beberapa perkampungan seperti Kaluppini (sebelah timur), Ranga (sebelah tenggara), Bambapuang (barat laut), Pappi (sebelah barat), Kota Enrekang (selatan), dan Kampung Sarong (utara).
Jarak situs dari jalan pengerasan sekitar ±300 m dengan kondisi jalan yang menanjak.Untuk menuju ke situs berjalan kaki melewati pemukiman dan perkebunan yang banyak ditumbuhi pohon coklat, pohon jati, pohon mangga, pohon bambu dan pohon nira.Topografi situs terdiri atas permukaan tanah yang bergelombang dengan gunung dan lembah di sekelilingnya.Pada lereng-lereng gunung berterap yang dilalui ketika akan menuju puncak, ditemukan sebaran fragmen gerabah yang cukup padat. Sejumlah temuan fragmen gerabah (pecahan wadah dari tanah liat) mengindikasikan adanya proses transformasi dari sisa okupasi manusia pada masa lalu.
Pada saat akan mencapai puncak, terdapat terap-terap batu yang sengaja disusun sebagai tangga. Ketika berada pada tangga tersebut, para pengunjung diharuskan melepas alas kaki[3].Pintu menuju puncak terletak pada sisi barat daya.Panjang hamparan batuan tersebut adalah 264 m dengan lebar 80 m, namun sebagian telah tertutup rimbunan semak belukar. Tinggi batu tersebut dari permukaan tanah 6 sampai 10 m.Di permukaan batuan indikasi arkeologis yang terlihat yakni goresan batudengan variasi bentuk, batu berlubang, lumpang batu, dan batu dakon. 
A.    Goresan batu
Goresan di hamparan batuan tersebut memiliki beragam bentuk. Bentuk goresan batu yang sering terlihat yakni garis sejajar, garis dua romawi, garis silang, garis pagar, garis kotak menyilang, garis bintang  dan garis kotak. Selain goresan yang memiliki bentuk, terdapat pula banyak goresan yang bentuknya tidak beraturan.
Goresan pertama adalah bentuk garis sejajar.Goresan garis sejajar adalah goresan garis lurus yang berjejer dan tersusun sejajar. Panjang garis yang paling pendek  8 cm  dan yang paling panjang  40 cm. Jumlah goresan yang terlihat di garis sejajar ada 3 garis saja dan ada pula hingga 27 garis. Kedua adalah bentuk garis dua romawi.Goresan garis dua romawi berbentuk angka 2 romawi.Bentuknya berupa 2 garis horisontal yang sejajar dan di silang oleh dua garis vertikal di bagian sudut atas dan di bagian sudut bawah.Ketiga adalah bentuk garis silang.Goresan garis silang adalah garis diagonal yang saling menyilang. Ukuran garis yang paling kecil 10 cm dan yang paling besar 50 cm. Keempat adalah bentuk garis pagar. Goresan garis pagar adalah goresan garis vertikal yang tersusun berjejer dan di bagian tengah di silang oleh satu garis horisontal.
Goresan kelima adalah bentuk kotak menyilang.Goresan garis kotak menyilang adalah goresan yang berbentuk kotak, namun di bagian dalamnya terdapat garis diagonal yang saling menyilang. Ukuran garis sisi kotak panjangnya yang paling kecil adalah 7 cm dan paling besar 30 cm. Jumlah kotak ada yang 25 kotak, 5 kotak dan adapula hanya 1 kotak saja. Garis kotak yang jumlahnya 25, tersusun 5 secara horisontal dan 5 secara vertikal.Goresan keenam adalah bentuk garis bintang.Goresan garis bintang adalah goresan garis vertikal dan horisontal yang saling menyilang, namun di potong pula oleh dua garis diagonal yang saling menyilang.Di ujung garis terlihat agak runcing.Goresan ketujuh adalah bentuk garis kotak.Goresan garis ini berupa garis vertikal yang berjejer dan dipotong oleh garis horisontal yang berjejer pula.
 
B.     Lumpang dan Batu Berlubang
Penamaan antara lumpang dan lubang batu, secara formal memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Lumpang[4] dan batu berlubang[5] ditemukan secara terpisah.   Di sebelah barat daya ditemukan 3 bolder batu yang masing-masing memiliki 1 lumpang. Demikian pula di sisi barat (sebelah kiri) jalan masuk situs, ditemukan bolder batu yang memiliki 4 lumpang. Di sebelah utara, lumpang batu berada di dekat dolmen. Lumpang yang ditemukan memilikiPermukaan lubang yang halus dan ukuran yang agak dalam. Bentuk lubangnya terlihat mengerucutdengan kedalaman 35 sampai 48 cm dan diameter lubang pada bagian dasar 23 sampai 30 cm. Ukuran lubang yang terlihat dalam sebagai gambaran tingginya intensitas penggunaan terhadap lumpang batu. Batu berlubang ditemukan tersebar dipermukaan hamparan batuan. Jumlah batu berlubang secara keseluruhan yakni 187. Ukuran diameter lubang 15-20 cm dengan kedalaman7 sampai 10 cm. Bentuk lubangnya menyerupai tabung yang badan lubangnya terlihat rata.
Lubang batu bergores merupakan lubang batu yang telihat berbeda dengan lubang batu lainnya. Lubang batu bergores adalah lubangbatu yang memiliki goresan pada bagian dasarnya. Terdapat 4 lubang batu bergores yang ditemukan di hamparan batuan. Lubang batu bergores pertama terletak di sebelah barat daya situs.Dasar lubang terlihat berbentuk oval dengan ukuran panjang 80 cm dan lebar 62 cm. Kedalaman lubangnya berbentuk setengah oval dengan ukuran kedalaman22 cm. Di bagian kiri, terlihat garis sejajar yang menempel di dasar lubang. Ukuran panjang rata-rata garis yang menempel tersebut 10 cm. Sedangkan di bagian kanan, tidak terihat adanya goresan yang menempel di dasar lubang. Lubang ini dikelilingi pula oleh goresan garis yang tidak beraturan. Lubang kedua berada dekat di sisi timur mesjid. Di dasar lubang sebagian batuan terlihat retak. Lubangnya berbentuk melingkar dengan ukuran diameter 22 cm. Badan lubang terlihat rata. Goresan yang terlihat berada di sebelah atas namun tidak menempel pada dasar lubang. Bentuk goresan berupa garis sejajar dan sebagian tidak beraturan. Panjang rata-rata goresan 10 cm.
Lubang goresan ketiga berada di sebelah selatan situs. Lubangnya terlihat berbentuk oval dengan ukuran panjang 25 cm, lebar 11 cm dan kedalaman lubang 5  cm. Terdapat goresan yang melingkari dasar lubang. Di sebelah kanan dan kiri lubang terlihat goresan garis sejajar yang menempel pada goresan yang melingkari lubang. Panjang rata-rata garis tersebut 15 cm.  Di sekeliling lubang sangat banyak goresan garis yang tidak beraturan.
Lubang goresan keempat juga berada di sisi selatan situs. Bentuk dasar lubangnya terlihat melingkar dengan diameter 30 cm dan kedalaman 11 cm. Goresan tidak menempel pada bagian dasar lubang. Bentuk goresan hanya berupa garis yang jumlahnya 4 yang ukurannya hanya 10 cm.
C.    Dakon Batu
Terdapat 5 Dakon batu yang ditemukan di situsTondon. Dakon batu pertama berada di sebelah barat daya situs.  Dakon batu pertama terdiri dari 14 lubang dengan diameter rata-rata lubang 3 cm. Lubang dakon tersebut berada dalam goresan garis yang berbentuk prisma.  8 lubang di antaranya terlihat tersusun 2jejer serta diapit 2 lubang disisi kiri dan kanan. 1 lubang di antaranya berada di tengah.4 lubang berada di sebelah kiri, tidak berada dalam garis berbentuk prisma. Di bagian atas dan bawah 4 lubang tersebut, terdapat goresan garis yang bersambung dengan garis berbentuk prisma.
Dakon batu kedua berada di sebelah tenggara situs. Dakon kedua memiliki 11 lubang dengan ukuran rata-rata diameter 3 cm. 10 lubang bersusun 2dan saling berjejer, sedangkan 1 lubang berada di sebelah kanan. Dakon batu ketiga berada di sebelah utara situs. Dakon ketiga memiliki 10 lubang yang ukuran lubang rata-rata 5 cm. Lubang dakon tersebut berjejer dan bersusun 2. 1 lubang yang di kanan atas memiliki ukuran diamater 7 cm. Dakon keempat berdekatan dengan dakon batu ketiga. Dakon batu keempat memiliki 11 lubang dengan ukuran diameter lubang 5 cm. 10 lubang berjejer dan bersusun 2, sedangkan 1 lubang yang mulai retak berada di sebelah kanan. Dakon batu kelima berada di sebelah selatan situs.  Dakon batu kelima memliki 20 lubang dengan ukuran rata-rata diameter lubang 3 cm. Lubang daku batu ini berjejer dan bersusun 5 ke samping dan 4 ke bawah.
 
D.    Batu Dolmen dan Fragmen Gerabah
            Batu Dolmen berada di ujung sebelah utara situs. Batu dolmen tersebut berbentuk trapesium  yang bagian dasarnya terlihat rata. Ukuran batu tersebut panjang 470 cm, lebar 190 cm dan tinggi 180 cm. Terdapat tiga batu yang menopang batu dolmen. Di sekeliling Batu Dolmen terlihat banyak bongkahan-bongkahan batu dan pohon-pohon liar. Kegiatan upacara adat mappeong dilaksanakan di sekitar dolmen batu tersebut.
            Fragmen tembikar hanya ditemukan tersebar di sebelah barat situs. Sebaran fragmen tembikarditemukan di bawah hamparan batuan dengan kondisi daratan yang agak terjal. Jumlah sampel tembikar yang diambil dalam penelitian ini yakni 19 fragmen. Bagian sampel tembikar yang didapatkan yakni 16 tepian, 1 dasar, 1 karinasi dan 1 badan.
 
E.     Budidaya Tanaman Jewawut dan Upacara Adat Mappeong
Tanaman jewawut[6] adalah salah satu tanaman padi-padian yang masih dibudidayakan oleh masyarakat[7] di Dusun Tondon. Masyarakat setempat menyebut tanaman jewawut  dengan nama ba'tan
Penanaman ba'tanbisanyadilakukan oleh masyarakat dua kali dalam setahun.Penanamannya dilakukan dengan caramenghambur benih ba'tan secara merata dipermukaan tanah saat kemarau tiba.Setelah daunnya tumbuh minimal 3 lembar, tanamannya kemudian diambil dan diatur kembali.Sebagian besar masyarakat menanam jewawut bersama dengan tanaman jagung.Hal tersebut dilakukan untuk menghemat lahan mereka yang sempit karena dikelilingi jurang.
Tanaman ba'tanperlu diperhatikan dan dibersihkan dari tumbuhan liar, pada saat batangnya tumbuh hingga 15 cm.Tanamannya mulai matang pada pada hari ke 70, dengan tinggi maksimal batang hingga 1 m.Buah tanaman ba'tanyang terlihat berwarna hijau belum matang, namun apabila sudah terlihat berwarna kecoklatan  dan hitam maka buahnya telah matang. Setelah buahnya matang maka panen dilakukan dengan memotong buah dari tanaman tersebut.Alat panen digunakan yakni rakkapang[8].  Cara penggunaannya dilakukandengan mengaitkan alat tersebut di antara jari tengah dan jari telunjuk, sedangkan ibu jari memegang batang tanaman dan memotongnya hingga buah tanaman ba'tan terlepas.
Setelah di panen, buah ba'tan kemudian ditumbuk memakai lesung. Buah ba'tan  yang telah ditumbuk menghasilkan biji-bijian yang berukuran seperti pasir.Ba'tan merupakan salah satu makanan pokok yang dijadikan pengganti beras[9] oleh masyarakat setempat.
Sebelum penaburan benih ba'tan, mereka melaksanakan upacara adat dengan tujuan  memohon agar hasil panennya diberkahi oleh sang pencipta. Upacara adat yang dilaksanakan secara komunal tersebut dikenal dengan upacara Mappeong.Dalam upacara adat mappeong, biji-biji Ba'tandimasukkan ke dalam bambu dan dibakar sebagai bentuk persembahan  kepada sang pencipta.  Setelah dimasak, maka hasilnya(Peong) kemudian diupacarakan di sebelah selatan dolmen batu yang dipimpin oleh paso(imam adat). Selain peong, perangkat upacara lainnya yang digunakan yakni ayam, daun sirih, kapur dan pinang. Persembahan kemudian dibacakan mantra oleh Pasodengan menghadap ke timur.Sebagian masyarakat tidak memberi alasan akan hal ini, namun menurut kepercayaan mereka bahwa arah hadap timur merupakan asal usul leluhur mereka yang berasal dari timur. Mungkinkah hal itu dimaksudkan untuk menghormati asal-usul kehadiran nenek moyang mereka, ataukah arah timur diyakini sebagai sumber kehidupan, karena arah terbitnya matahari. Namun yang jelas bahwa segala bentuk aktivitas ritual yang dilaksanakan di atas puncak (situs), merupakan refleksi dari kepercayaan yang dianut oleh sebagian masyarakat.


[1]Penelitian Situs Tondon merupakan realisasi dari rekomendasi hasil peninjauan Balai Arkeologi Makassar 2010.
[2]Sebagian masyarakat di Tondon menyebut sebagai situs ButtuBatu.Tondon dalam bahasa Enrekang berarti tempat ketinggian.
[3]Masyarakat masih sangat mensakralkan lokasi atau situs tersebut, salah satu bentuk pensakralan itu adalah tidak boleh menggunakan alas kaki, tidak boleh merokok, dan tidak diperkenankan menggunakan pakaian yang berwarna cerah (seperti warna merah dan kuning).
[4]Pada umumnya lumpang batu merupakan bolder-bolder yang memiliki 1 atau lebih jumlah lubang.Bentuk lubangnya mengerucut semakin ke dalam (ke bawah) semakin mengecil, dan permukaan lubang yang halus sebagai akibat tingginya intensitas penggunaan untuk melumatkan biji-bijian.
[5]Lubang-lubang batu yang banyak ditemukan pada hamparan batuan andesit, memiliki lubang yang bulat dan rata ke bawah, permukaan lubang yang masih kasar, menunjukkan tidak digunakan untuk melumatkan biji-bijian.
[6]Jewawut adalah salah satu tanaman yang dibudidayakan dan dibawa oleh penutur bahasa Austronesia.Jewawut dalam kajian bahasa proto Austronesia adalah salah satu kata yang diperuntukkan bagi spesies tanaman daerah yang beriklim dingin (Baca Bellwood, Hal 314-357). Dalam penelitian ini data tentang tanaman jewawut perlu diuraikan sebagai data penunjang dalam proses migrasi penutur Bahasa Austronesia.
[7]Tanaman Jewawut pernah dibudidayakan oleh sebagian besar masyarakat Enrekang.Namun di saat sekarang, hanya sebagian kecil masyarakat di Enrekang yang masihmembudidayaanJewawut.
[8]Rakkapang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama ani-ani. Ani-ani merupakan salah satu alat  pertanian yang digunakan untuk memanen padi. Namun di saat sekarang, ani-ani sudah sangat jarang dipakai pada masyarakat pertanian di Sulawesi Selatan
[9]Beras atau padi tetap dikonsumsi oleh masyarakat setempat, namun tidak dibudidayakan.Masyarakat setempat hanya membeli beras di pasar.

Sumber : Balai Arkeologi Makassar
»»   Selengkapnya...