Kamis, 14 Juli 2011

Pong Tiku Dulu dan Nasib Sahabatnya Kini

Pong Tiku Dulu dan Nasib Sahabatnya Kini


PONG Tiku dikenang baik di Tana Toraja. Sejarah perjuangannya ditulis laiknya pejuang sejati. Dia memang berprediat pahlawan nasional. Sementara 23 sahabatnya, kelompok yang ikut berjuang pasca-pengasingan tahun 1917, hingga kini masih diliputi kontroversi.

Penjajah Belanda mengecap para sahabat Pong Tiku sebagai pemberontak. Dan, meski Agustus 2011 nanti, kolonialisme sudah 66 tahun enyah dari Indonesia, namun kesan “the torajan rebel”, pemberontak Toraja, bagi ke-23 sahabat seperjuangan sang pahlawan nasional itu, hingga kini masih terus dialamatkan penjajah kepada mereka dan keluarganya.
Dan kini, bahkan terkesan dibiarkan dan terus “dikhutbahkan” dalam lembaga keagamaan.
Inilah yang melatar belakangi munculnya tulisan ini. Sebagai keluarga para sahabat Pong Tiku, kami merasa perlu membela diri. Setidaknya, tulisan ini muncul masih dalam suasana perayaan meninggalnya Pong Tiku, yang diperingati saban 10 Juli.
Sembilan puluh empat tahun silam, tepatnya 10 Juli 1907 di tepian Sungai Sa’dan di sekitar Singki’, Rantepao (kini di belakang kantor Bupati Toraja Utara saat ini) Pong Tiku tewas dieksekusi secara licik oleh serdadu Belanda. Konon 2 saudaranya tewas di tangan anak buah Pong Tiku. Ada pengkhianatan.
Darahnya tumpah tidak hanya membasahi bumi Toraja, Tana Matarik Allo – Tondok Lepongan Bulan, tetapi juga melintasi Tana Enrekang – Bumi Mansenrempulu, serta Bumi Sawitto, kini berada di Pinrang, sebelum akhirnya mengalir ke Selat Makassar mengikuti aliran Sungai Sa’dan.
Sampai Maret 1906, Tana Toraja masih steril dari tangan penjajah Belanda. Namun ancaman sebenarnya sudah dirasakan sejak pertengahan 1905. Kala itu, serbuan serdadu Belanda sudah memasuki wilayah Duri, arah selatan Tana Toraja dan dari arah timur lebih duluan bercokol di Palopo.
Kondisi ini disikapi para pemuka masyarakat dan penguasa adat se Tana Toraja bermusyawarah. Tujuannya menghilangkan benih perpecahan sekaligus menyatukan sikap dan kekuatan melawan serdadu Belanda. Pertemuan dilaksanakan September 1905 di Buntu Pune dekat Ke’te’ Kesu’. Sebagian Warga Toraja, mengenal dengan Ikrar Buntu Pune.
Pertengahan Maret 1906, pasukan kompeni Belanda berkekuatan 150 serdadu bersenjata lengkap dipimpin 3 perwira dibawah komando Kapten Infantri Kilian memasuki wilayah Tana Toraja dari arah timur/Palopo tanpa menghadapi perlawanan. Para penguasa adat dan tokoh masyarakat khususnya yang berdomisili di dataran rendah ternyata tidak konsisten pada Ikrar Buntu Pune.
Namun tidak demikian bagi Pong Tiku yang berdomisili di punggung Bukit Lolai dan di balik Gunung Sesean. Ia tetap kokoh pendiriannya melawan Belanda sebagaimana diikrarkan di Buntu Pune. Sebaliknya, ia memperkuat benteng pertahanannya yang tersebar di berbagai kampung.
Meskipun dipertahankan dengan gigih, gempuran artileri serdadu Belanda memaksa Pong Tiku meninggalkan bentengnya satu per satu dan akhirnya bertahan di benteng Buntu Batu yang tidak bisa ditembus.
Dengan tipu muslihat melalui ajakan berunding, Pong Tiku akhirnya ditangkap dan dieksekusi di Singki’, Rantepao. Ini sekaligus menandai berakhirnya peperangannya melawan Belanda dalam kurun waktu 14 bulan.
Pong Tiku dikenang dengan baik dan para peneliti sejarah banyak yang tertarik menulis sejarah perjuangannya. Demikian juga ketika diusulkan sebagai Pahlawan Nasional semua pihak mendukung sampai akhirnya secara resmi Pong Tiku ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia.
Setelah kematian Pong Tiku nyaris tidak ada lagi perlawanan bersenjata dalam skala besar. Namun, rahasia diantara para sahabat Pong Tiku yang masih menyimpan rencana melawan Belanda terus ada:

1.Tandibua’
, saudara sulung Pong Tiku yang langsung mengambil alih tampuk pimpinan pemerintahan (Kepala Distrik) di Pangala’, setelah kematian Pong Tiku. Ia masih menyimpan dendam atas kematian adiknya. Melalui operasi rahasia bersama pejuang lainnya, mereka berjuang.

2. Ne’ Matandung,
Kepala Distrik/Puang Balusu sudah lama memendam kebencian terhadap Belanda karena kecongkakan dan kekejamannya. Dibenaknya tersimpan rencana untuk membalas sekaligus untuk menebus kekhilafannya karena tidak konsekwen dengan Ikrar Buntu Pune. Para pejuang militan dibawah pimpinan Pong Massangka selain secara moril juga dalam bentuk materi berupa uang tunai 100 gulden dan 1 ekor kerbau untuk membiayai kegiatan operasional merealisasikan rencana perjuangan.
3. Pong Massangka , salah seorang pejuang yang relatif lebih muda (sebaya Pong Tiku) sejak kedatangan Belanda di Tana Toraja tidak pernah menunjukkan sikap tunduk kepada Belanda apa lagi menyerahkan senjatanya.
Sikap tegas ini dihargai para seniornya seperti Pong Arung, Ne’ Matandung dan Tandibua’ serta para tokoh masyarakat lainnya. Kini di Toraja Utara, tetapi juga secara intensif menjalin komunikasi dengan para penguasa adat diluar Toraja Utara antara lain dengan Puang Sangalla’ dan Puang Mengkendek dari wilayah Selatan, Pong Simpin dari wilayah Timur dan Bombeng serta Wa’ Saruran dari wilayah Barat.
Pong Massangka lalu terpanggil mengkonkretkan semangat perjuangan bawah tanah para pejuang dalam suatu wadah dengan nama sandi “UNTENDANNI SALU SA’DAN” artinya mengatasi arus yang disimbolkan penjajah.
Untuk memudahkan operasionalnya maka mulailah diintensifkan komunikasi rahasia para pejuang lewat Poros Perlawanan Balusu-Pangli/Bori’-Pangala’ di Utara terus ke Pantilang di Timur, Sangalla’ dan Mengkendek di Selatan serta Rembon dan Buakayu di Barat.
Sesuai kesepakan para pejuang ditetapkanlah target utama waktu itu yakni membunuh Controleur sebagai penguasa tertinggi pemerintah kolonial Belanda di Toraja untuk memberikan shock terapi dan kekacauan bagi serdadunya sehingga diharapkan dapat lebih mudah dilumpuhkan.
Namun sangat disayangkan sebelum terlaksana, para pejuang justru tersandung pembunuhan seorang misionari berkebangsaan Belanda, AA Van de Loosdrehct di Rantedengen Bori’, 26 Juli 1917 patut disesalkan karena:
1.Yang bersangkutan bukanlah target yang direncanakan sehingga mengacaukan rencana mulia para pejuang untuk membebaskan orang Toraja dari penindasan dan pemerasan rezim kolonial Belanada.
2. Pejuang yang sebenarnya adalah ksatria justru dicap Zending dan kalangan gereja sampai hari ini, sebagai para gerombolan avonturir yang haus darah,penjahat dan pembunuh pendeta serta para gembong judi, suatu kumpulan istilah yang sangat tidak bersesuaian dengan dasar ajaran kristiani yakni cinta kasih.
3.Para pejuang harus membayar dengan pengorbanan besar jauh melebihi korbannya yang hanya 1 orang dibanding 23 orang harus menjalani hukuman di tempat pembuangan sebagian diantaranya (antara lain : Ne’ Matandung,Tandibua’, Pong Mangoki’ dan masih banyak yang lain) harus kehilangan nyawa di pengasingan.
Pong Massangka pun nyaris tidak kembali seandainya tak mendapat remisi hukuman 7 tahun dari total hukuman 20 tahun. Ini penghargaan atas keberhasilannya menangkap macan yang sudah banyak menelan korban termasuk anak Kepala Penjara di Nusakambangan.
Segera setelah peristiwa tersesebut perlawanan mereka langsung ditumpas dan para pejuang berjumlah 23 orang diasingkan ke berbagai tempat di Indonesia seperti Nusakambangan, Digul-Tanah Merah dan Sawah Lunto. Setelah itu, praktis tidak ada lagi pergerakan yang mengancam pemerintah kolonial Belanda sehingga lebih muda menjalankan pemerintahannya namun suatu kesyukuran bahwa sejak itu faktor pemicu perlawan para pejuang mulai dihindari dengan lebih mengutamakan pendidikan.
Ketika Tana Toraja dipimpin Bupati Lethe 1961, lalu D.S Rante Salu tahun 1964 pihak keluarga para pejuang mencoba mengusulkan agar perjuangan mereka mendapat pengakuan memang sempat diteruskan ke Kodam XIV Hasanuddin. Namun tak berhasil karena mendapat resistensi dari lembaga keagamaan terbesar di Tana Toraja.
Demikian halnya Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata enggan menulis sejarah ini karena khawatir akan mendapat tantangan yang sama meskipun sudah diusulkan sejak 2009.
Terakhir ketika sejumlah orang memprakarsai sebuah seminar yang diadakan pada tanggal 24 Juni 2011 di suatu tempat di Toraja Utara yang bertujuan mendiskusikan hal-hal kontroversi yang masih berkembang sampai kini khususnya yang mendiskreditkan para pejuang, pihak Gereja Toraja yang sangat diharapkan kehadirannya justru tidak memenuhi undangan panitia meskipun panitia sudah bersusah payah menghadirkan pakar sejarah dari Universitas Hasanuddin, DR. Edward L. Poelinggomang MA, sebagai salah seorang pembicara.
Bupati Toraja Utara, Drs. Frederik Batti Sorring MM, yang membuka acara seminar tersebut juga sempat mengutarakan kekecewaannya akibat ketidakhadiran pihak-pihak yang diundang.

Penulis:Daniel Pong Massangka
Pemerhati Sejarah asal Tana Toraja

Sumber: Tribun Timur.com
»»   Selengkapnya...

Senin, 11 Juli 2011

Petinggi Saling Serang, Demokrat akan Hancur


Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Marzuki Alie menyesalkan sikap beberapa elite Partai Demokrat yang saling menyerang. Apalagi hal itu dilakukan secara terbuka di media massa.

"Jika dibiarkan. lama-lama Demokrat akan hancur," jelas Marzuki di Jakarta, Senin (11/7). Ia mengatakan hal ini menanggapi sikap kader Demokrat yang tidak etis karena saling memojokkan.


"Ribut-ribut di media ini kan jadi malu sekali kita. Hancur lama-lama partai ini," imbuhnya.

Marzuki sebelumnya mengirimkan pesan singkat kepada Susilo Bambang Yudoyhono sebagai Ketua Dewan Pembina Partai yang meminta arahan untuk sebuah tindakan tegas menyelamatkan partai.

"Setiap hari kita didegradasi oleh kita sendiri dengan provokasi media. kita akan menuju kehancuran. Mohon Kawanbin (Ketua Dewan Pembina) mengambil tindakan tegas untuk menyelematkan partai. Kami siap diperintah dan mendukung apa pun keputusan Kawanbin sebagai the founding fathers PD," tulis Marzuki dalam sms kepada SBY.

Dalam sebuah acara pekan lalu, petinggi Demokrat seperti Amir Syamsuddin, Kastorius Sinaga, Denny Kailimang, dan Ruhut Sitompul terlibat saling adu argumen. Dalam acara tersebut, Ruhut menuduh Dewan Pembina yang menzalimi Muhammad Nazaruddin karena belum ada bukti apa-apa, tiba-tiba saja sudah memecatnya dari bendahara umum.

Amir dan Kastorius yang duduk di Dewan Pembina Partai, keberatan dengan pernyataan Ruhut. Mereka membantah hal itu dan mengatakan putusan tersebut sudah tepat.

Ruhut balik menyerang Amir dan Kastorius yang disebutnya sebagai Kader dadakan, karena baru beberapa bulan saja di Demokrat, sudah berani bicara macam-macam. Amir yang keberatan dengan ucapan Ruhut menanggapi balik.

Ia menyebut kalau kecintaan pada Partai tidak bisa ditentukan oleh lamanya seorang kader di dalam partai, tetapi berdasarkan kinerja. Denny Kailimang sendiri akhirnya ikut terlibat dalam adu argumen tersebut.
»»   Selengkapnya...

Hasil Pemilihan Ketua Umum BPMS Gereja Toraja 2011 - 2016

Sidang Mejelis Sinode Gereja Toraja (SMS-Getor) ke -23 kemarin telah berakhir. Salah satu hasil yang ditunggu-tunggu dari perhelatan akbar umat Kristiani, khususnya Gereja Toraja ini adalah terpilihnya Ketua Umum Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) masa bakti 2011 - 2016.

Tiga nama yang ikut meramaikan bursa pemilihan ketua umum BPMS ini, yaitu Pdt. Musa Salusu, MTh, Pdt. Dr. I. Y. Panggalo dan Pdt. SP Toding Allo, akhirnya memunculkan satu nama untuk menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) Gereja Toraja masa periode 2011 - 2016, yaitu Pdt. Musa Salusu, MTh. Dimana hasil akhir dari pemilihan Ketua Umum ini, Pdt. Musa Salusu, MTh, berhasil mengumpulkan suara terbanyak (231 Suara), sementara Pdt. Dr I.Y.Panggalo mendapatkan 141 suara, dan Pdt. SP Toding Allo hanya berhasil mendapatkan 42 suara.

berikut adalah susunan Pengurus pengurus BPMS masa bakti 2011 - 2016,
Ketua Umum : Pdt. Musa Salusu, M.Th,
Ketua I : Pdt. I.Y. Panggalo, Dr.Th
Ketua II : Pdt. Daniel Rori, S.Th. M.Min
ketua III : Pdt. Daniel Rori, S.Th. M.Min
Ketua IV : Pdt. Prof. Dr. dr. Daniel Sampepayung
Sekretaris Umum : Arsiati Kabangnga', M.Th
Bendahara Umum : Soleman Allo Linggi, M.Si.

Sumber : www.kecamatanmakale.blogspot.com
»»   Selengkapnya...

Peringatan bagi Tenaga Honor Daerah Tana Toraja

Inventaris terhadap ratusan tenaga honor daerah yang tersebar di berbagai satuan kerja perangkat daerah (SKPD) akan segera dilakukan Pemkab Tana Toraja. Setelah pemerintah mendapatkan data yang jelas tentang tenaga honor tersebut, pemerintah akan melakukan evaluasi apakah pemerintah akan memperpanjang atau memutus kontrak tenaga honor tersebut. Bila hasil inventaris tersebut ditemukan tenaga honor tidak produktif atau tenaga honor yang malas masuk kerja, akan segera diputus kontraknya.
“Saya sudah perintahkan Inspektorat untuk mendata ulang semua tenaga honor yang ada di lingkup pemkab Tana Toraja. Kalau datanya sudah jelas baru kita bayarkan gajinya,” jelas bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung, kemarin.
pemerintah akan melakukan perpanjangan atau pemutusan kotrak bagi tenaga honor yang sudah tidak dibutuhkan. Pemerintah juga akan membayar gaji tenaga honor selama enam bulan.

Dijelaskan Theofilus, pemerintah hanya akan membayar gaji kepada tenaga honor yang rutin masuk kerja dan dibuktikan dengan bukti fisik dan absensi. Tenaga honor yang tidak rajin atau malas masuk kerja tidak akan dibayarkan honornya. Pemerintah juga tidak akan membayar gaji tenaga honor yg sudah tidak aktif, meski namanya masih tercantum sebagai tenaga honor pada SKPD tertentu.“Setelah datanya masuk semua, kemudian akan dipilah, yang mana yang bisa kita lanjutkan kontraknya dan yang mana yang tidak. Ini perlu invetarisir menyeluruh,” tamba Theofilus.ditempat lain, Yohanis Sumule, Inspektur Inspektorat Tana Toraja, mengakui pihaknya kini sedang melakukan pemeriksaan dan pendataan ulang terhadap tenaga honorer di lingkup pemkab Tana Toraja. “Iya kami sedang lakukan inventarisir saat ini sesuai dengan perintah bapak bupati,” kata Sumule.Jumlah tenaga honor daerah yang tercatat hingga tahun 2010 yang lalu sebanyak 615 orang. itu menurut data sementara yang dihimpun dari bagian mutasi kantor badan kepegawaian daerah (BKD) Tana Toraja, Namun hingga saat ini BKD belum mengetahui secara pasti berapa jumlah tenaga honor daerah yang masih aktif bekerja. “Sedang dilakukan inventarisasi kembali oleh inspektorat. Kami masih menunggu data hasil inventarisasi dari inspektorat,” ujar kepala bidang mutasi BKD Tana Toraja, Joni Andi Lolo.
Menurut Joni jika merujuk data tahun lalu, terdapat enam tenaga honor yang sudah tidak aktif. Selain itu ada sekitar 19 orang yang sudah lulus menjadi pegawai negeri sipil (PNS) tahun lalu. Dalam APBD tahun 2011, gaji untuk tenaga honorer ini dianggarakan dengan alokasi Rp 520 ribu per tenaga honor per bulan. Namun pemerintah belum bisa membayar gaji para honorer ini karena belum ada SK dari bupati.
Sumber : www.kecamatanmakale.blogspotcom
»»   Selengkapnya...

Rekonstruksi TORAJA sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW)

Beberapa tahun yang lalu, Tana Toraja telah menjadi Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang terfavorit ke-2 di Indonesia setelah Bali. Keberhasilan Pemerintah Daerah Tana Toraja memajukan sector pariwisata ini sebagai andalan utama bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) sangat beralasan, mengingat adat dan budaya yang unik dan tiada duanya di belahan manapun di dunia ini serta potensi sumberdaya alam yang dimiliki cukup terbatas.
Persoalannya, sector pariwisata saja pada beberapa tahun terakhir ini telah MATI SURI. Jumlah kunjungan wisatawan telah mengalami penurunan yang drastis. Hal ini juga tidak terlepas dari dampak krisis global yang melanda sebagian besar wilayah di Asia Tenggara yang turut mengguncang aktivitas pariwisata di Indonesia termasuk di Tana Toraja dan Bali. Berbeda dengan Toraja, pemerintah daerah Bali, telah berhasil keluar dari persoalan yang krusial tersebut bahkan dapat melaju dengan kunjungan wisatawan yang terus meningkat walaupun beberapa ujian berat yang dilalui seperti aksi teroris yang meluluh lantakkan Bali yang dikenal dengan Bom Bali I dan II berbeda di Toraja. Pertanyaan apa yang salah dalam pengelolaan pariwisata di Toraja?

Merumuskan ulang tawaran daya tarik pariwisata Toraja
Ketika kita ditanya apakah yang paling menarik di Toraja?, maka jawabannya akan beragam. Mungkin saja ada yang menjawab karena adat dan budayanya yang unik, karena pemandangannya yang indah, dan mungkin juga karena masyarakatnya yang ramah. Lalu kalau kita ditanya apakah yang menjadi kendala jika ingin menikmati semua yang disebutkan tersebut di atas?, maka jawabannya akan beragam pula.
Kesemuanya ini perlu dikaji kembali lagi agar kita tidak terlena dengan jawaban pertanyaan pertama di atas. Kebanggaan yang berlebihan bagi kita yang selalu menekankan pada adat dan budaya Toraja adalah yang paling unik se nusantara, bahkan seluruh dunia akan merugikan kita. Adat dan budaya yang paling khas dan unik yang berujung kepada kesombongan diri sehingga mengira wisatawan akan berkunjung dengan sendirinya tanpa adanya usaha untuk menarik mereka secara khusus. Masyarakat Toraja harus menyadari bahwa setiap adat dan budaya keindahan alam, objek panorama, air terjun, ngarai dan lembah banyak dimiliki oleh daerah lain yang tidak kalah dalam memberikan tawaran wisata yang lebih mudah dinikmati dan menarik untuk dikunjungi. Kita boleh saja menyatakan bahwa Toraja jauh lebih indah melebihi alam di Bali, namun dalam kenyataanya Bali adalah ikon pariwisata nasional yang bahkan kepopulerannya jauh melebihi bangsa ini. Dari situ dapat kita tarik satu pelajaran bahwasanya keindahan adat dan budaya serta alam hanya akan menjadi benda mati yang tak bernyawa dan tidak mempunyai daya tarik apapun bagi pengunjung ketika tidak adanya tawaran lain yang lebih baik bagi objek wisata tersebut. Terlebih lagi , saat ini telah terjadi perubahan consumers-behaviour pattern atau pola konsumsi dari para wisatawan. Mereka tidak lagi terfokus hanya ingin santai dan menikmati pemandangan alam saja, saat ini pola konsumsi mulai berubah ke jenis wisata yang lebih tinggi, yang meskipun tetap santai tetapi dengan selera yang lebih meningkat yakni menikmati produk atau kreasi budaya (culture) dan peninggalan sejarah (heritage) serta alami (nature) atau eko-wisata dari suatu daerah.
Setiap wisatawan yang berkunjung mengharapkan apa yang disebut dengan Triple atraksi yaitu terdiri dari atraksi, aksesibilitas, dan amenitas yang mesti dibenahi. Atraksi, dapat diartikan sebagai objek wisata (baik yang bersifat tangible aupun intangible) yang meberikan kenikmatan kepada wisatawan. Atraksi sendiri dapat dikategorikan dalam tiga kategori, yakni alam, budaya dan buatan. Atraksi alam meliputi pemandangann alam, seperti pemandangan Batutumonga, udara sejuk dan bersih, hutan, sungai, gua dan lain-lain. Unsur lain yang melekat dalam atraksi ini adalah hospitality, yakni jasa akomodasi atau penginapan, restoran, biro perjalanan, dan sebagainya (Janinton dan Weber, 2006).Aksesibilitas mencakup keseluruhan infrastruktur transportasi yang menghubungkan wisatawan dari, ke dan selama di daerah tujuan wisata (Inskeep, 1994), mulai dari darat, laut, sampai udara. Akses ini tidak hanya menyangkut aspek kuantitas tetapi juga inklusif mutu, ketepatan waktu, kenyamanan, dan keselamatan. Diskusi tentang aksesibilitas biasanya lebih banyak menyoroti infrastruktur transportasi negara atau daerah tujuan wisata. Mungkin akses dari negara asal ke tujuan mudah dan lancar. Namun demikian akan timbul kesulitan lain jika di daerah tujuan tidak tersedia jaringan transportasi ke daerah sekitarnya. Demikian halnya di Toraja misalnya ketika wisatawan tiba di Jakarta, Makassar dan Bali namun akses ke Toraja menjadi lebih sulit sekalipun lewat udara. Sayangnya akses udara belum dapat diandalkan menuju ke Toraja sebagai modal transportasi yang tersedia bagi kepentingan wisata ke Toraja. Akiatnya wisatawan terkonsentrasi di Bali. Amenitas adalah infrastruktur yang sebenar tidak langsung terkait dengan pariwisata tetapi sering menjadi bagian dari kebutuhan wisatawan. Bank, money changer, telekomunikasi (telepon dan warnet), usaha persewaan (rental), penjual buku panduan wisata, dan lain-lain digolongkan dalam bagian ini.Semakin lengkap dan terintegrasinya ketiga unsur tersebut di dalam produk wisata maka akan semakin kuat posisi penawarannya dalam sistim kepariwisataan. Untuk itu kualitas produk yang ditawarkan mutlak diperlukan. Kualitas produk yang baik terkait empat hal, yakni keunikan, otensitas, originalitas, dan keragaman (Janinton dean Weber, 2006). Keunikan diartikan sebagai kombinasi kelangkaan dan daya tarik yang khas melekat pada suatu obyek wisata, misalnya Kerbau belang (tedong bonga) dan habitatnya di Toraja dapat dikatakan unik karena tidak ada duanya di dunia. Originaitas atau keaslian mencerminkan keaslian dan kemurnian, yakni seberapa jauh suatu produk tidak terkontaminasi oleh atau tidak mengadopsi model atau nilai yang berbeda dengan nilai aslinya. Di sini model seringkali menentukan. Contoh : Di Toraja Banyak bangunan hotel tidak menampilkan arsitektur lokal (tongkonan). Padahal penampilan arsitek dimaksud sangat mencirikan keaslian tanpa mengurangi kenyamanan wisatawan. Demikian pula karyawan hotel tidak lagi mengenakan dasi dan jas serta peci sebagai bagian dari tampilan, melainkan mengenakan pakaian tradisional yang didesain secara memikat. Bandingkan dengan yang ada di Bali dan Jogja bahkan penarik becak dan tukang dokarpun berpakaian tradisional untuk mendukung keaslian budaya yang ditawarkan tersebut. Sementara Otentisitas mengacu pada keaslian tetapi bedanya adalah otentisitas dikaitkan dengan drajat kecantikan atau eksotisme budaya sebagai atraksi wisata (Kontogeorgopolus, 2003 dalam Janinton dan Weber, 2006). Upacara rambu solo' di Tana Toraja tidak saja unik tetapi juga otentik. Ini berbeda dengan upacara kematian di daerah lain.Kejayaan wisata masa lalu Toraja akan terulang jika pemerintah daerah mengkaji ulang kebijakan dan program yang terkait dengan tawaran wisata tersebut. Menggagas ulang model pengembangan dengan merekonstruksi kembali kebijakan sangat dibutuhkan untuk mengembalikan kejayaan yang pernah dicapai oleh Bumi Lakipadada. Dibutuhkan terobosan baru yang kiranya membutuhkan inovasi dan kreativitas antara pelaku wisata dan pembuat kebijakan tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat.
Untuk itu mestinya ada brand yang brilian untuk membuat strategi dan program demi pertumbuhan dunia pariwisata di Toraja. Dalam hal ini menyiapkan strategi khusus untuk menggarap wisatawan baik mancanegara maupun wisatawan nusantara lokal). Hal ini yang seharusnya menjadi perhatian pertama bagi pemerintah daerah di Toraja yang tidak hanya menjadi jualan dalam menjelang PILKADA nantinya tetapi betul-betul memiliki branding yang kuat menjual image Toraja masa depan. Semoga.
Yunus P. Paulangan
blog : yunuspaulangan.blogspot.com
»»   Selengkapnya...

Minggu, 03 Juli 2011

Kisah Pdt. Aris van de Loosdrecht, Martir Tana Toraja

Published On: Sun, Jul 3rd, 2011

Kisah Pdt. Aris van de Loosdrecht, Martir Tanah Toraja


Aris van de Loosdrecht dan Alida van de Loosdrecht
TORAJA (TCN) — Ini kisah Pendeta Antonie Aris van de Loosdrecht dan Alida van de Loosdrecht, misionari pertama yang memberitakan Injil ke Toraja,dan Martir Iman Tana Toraja.
Antonie Aris van de Loosdrecht dan istrinya Alida adalah misionaris pertama yang menginjakkan kakinya di bumi Toraja. Atas jasanya masyarakat Toraja dapat mengenal Injil Kristus. Bahkan dapat dikatakan dari “benih” pelayanan mereka, Gereja Toraja dapat berdiri dan berkembang sampai sekarang.
Kisah perjuangan Pendeta Aris dan istrinya Ida van de Loosdrecht yang rela menyeberangi lautan meninggalkan keluarga dan orang-orang yang disayangi demi masyarakat Toraja yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya, menjadi bagian yang perlu kita teladani. Sungguh suatu pelayanan yang tidak akan pernah dapat dibalas oleh masyarakat Toraja secara umum dan Gereja Toraja secara khusus. Injil yang bertumbuh dan menjadi dasar terbentuknya Gereja Toraja adalah Injil yang dihiasi dengan darah MARTIR Anton Aris van de Loosdrecht.
Aris van de Loosdrecht dan Alida van de Loosdrecht menikah pada 7 Agustus 1913. Kemudian mereka berangkat untuk memberitakan Injil ke Tanah Toraja pada tanggal 5 September 1913, ini berarti mereka pergi ke sebuah tempat yang baru dan sangat terpencil kurang lebih satu bulan setelah pernikahan mereka. Mereka tiba di Indonesia yang waktu itu dikenal dengan sebutan “Hindia Belanda”. Akan tetapi tujuan mereka bukanlah Indonesia, melainkan Tanah Toraja. Daerah ini merupakan daerah yang masih sangat terpencil, belum lagi ancaman dari penduduk asli yang saat itu masih sering mengadakan perburuan terhadap manusia (kalau kita tidak ingin menyebutnya sebagai kanibalisme).
Anton dan Ida (demikian panggilan mereka) tinggal di daerah Poso selama awal tahun 1914, di desa Tentena, sekitar 2000 Km timur laut Rantepao. Sebelum berangkat ke Rantepao, mereka dibantu oleh seorang penerjemah Alkitab N. Adriani, untuk menyesuaikan diri dan mengenal bahasa Toraja. Setelah merasa matang dengan pelatihan dan informasi yang didapatnya, mereka kembali ke Rantepao pada awal April.
Jelas bahwa Anton dan Ida sadar benar akan masalah bahasa yang menjadi kendala bagi mereka memberitakan Injil, karena itu mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempelajari bahasa Toraja.
Rumah Kediaman Aris van de Loosdrecht

Mereka tinggal di Rantepao dan mulai melaksanakan berbagai pelayanan mereka. Karena pelayanan mereka banyak masyarakat Toraja yang tertarik dengan Injil sekalipun pada saat itu ikatan adat dan kepercayaan animisme masih sangat kuat. Anton dapat menjalin hubungan yang begitu akrab dengan para kepala-kepala suku dan juga para parenge’ atau para imam. Salah satu parenge’ yang dikenalnya cukup baik, bahkan dapat dikatakan menjalin persahabatan dengannya adalah Pong Maramba. Dikemudian hari hubungan ini menjadi rusak karena Pong Maramba meminta kepada Anton untuk bersedia menjual istrinya. Tentu saja permintaan ini didasari atas budaya patriakhal yang melihat perempuan sebagai milik laki-laki sehingga dapat diperlakukan semaunya, termasuk dijual. Sekalipun Anton telah menjelaskan bahwa dalam agama Kristen istri bukanlah milik melainkan sebagai rekan sekerja yang sama derajatnya, namun Pong Maramba tetap tidak mengerti penolakan Anton. Namun akhirnya konflik ini selesai ketika Pong Maramba ditangkap dan dipenjarakan. Selama melaksanakan pelayanan di Tana Toraja, mereka memfokuskan pada pembangunan sekolah-sekolah yang dapat menampung anak-anak Toraja untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Anton sangat bekerja keras dalam hal ini, dalam salah satu suratnya ke Belanda, Alida mengatakan bahwa suaminya bekerja dari jam setengah enam pagi sampai jam sebelas malam. Dari surat-suratnya kita dapat menyimpulkan bahwa pasangan misionaris ini sangatlah ramah kepada masyarakat Toraja, hal ini diakibatkan karena mereka sendiri mendapatkan sambutan yang sangat ramah dan baik dari masyarakat Toraja. Selain itu mereka juga banyak memberikan pelayanan medis kepada masyarakat, dalam surat-surat mereka, mereka menjelaskan akan rendahnya kualitas kehidupan dan kesehatan masyarakat Toraja, bahkan para parenge’ mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak jauh berbeda dengan kehidupan para budaknya.
Perkembangan misi yang dilakukan oleh pasangan misionaris ini sangat luar biasa, dalam beberapa waktu saja mereka telah berhasil mendirikan banyak sekolah, dan para guru-guru didatangkan dari daerah-daerah yang lebih dulu dikuasai oleh Belanda, seperti Ambon, Sangir, dan Manado. Akan tetapi jumlah orang yang dibabtis sampai saat itu belum ada. Hal ini disebabkan karena komitmen mereka akan pengejaran yang benar dan keyakinan yang kokoh dalam Kristus akan dicapai jika mereka dibaptis dengan pemahaman yang benar. Buah iman dari pelayanan mereka adalah dibaptisnya empat orang anak Toraja dari golongan parenge’ yang telah mengikuti katekisasi dalam waktu yang cukup lama. Anton tidak seperti pendeta-pendeta yang diutus dari Makassar di Makale. Ia sangat mementingkan kualitas iman yang lahir dari pemahaman yang benar akan iman Kristen, itulah sebabnya ia menolak membaptis keempat pemuda ini pada awalnya, ia memaksa mereka untuk harus ikut pelajaran Katekisasi dulu, jika mereka tidak ingin mereka boleh pergi ke Makale dan dibaptis oleh pendeta lain di sana.
Bersama Jemaat
Tantangan Injil di Toraja pada waktu itu ialah adat-istiadat Toraja dan terutama golongan orang-orang yang menikmati aturan-aturan adat tersebut. Mereka antara lain to parenge’ dan to Minaa (imam aluk Todolo). Selain itu ada juga tantangan dari sesama orang Kristen dan Belanda yang bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda. Sekalipun mereka Kristen namun iman mereka bukanlah iman Kristen. Tingkah laku mereka sangat memalukan dan membuat orang-orang Kristen lainnya menjadi malu. Akan tetapi bagaimanapun juga pekerjaan pasangan penginjil ini tidak sia-sia, ini terbukti dengan didirikannya puluhan sekolah dengan jumlah murid ratusan orang.
Pada tanggal 26 juli 1917 Antonie Aris van de Loosdrecht menghembuskan nafas terakhirnya di Bori’. Sungguh suatu peristiwa yang sangat disayangkan harus terjadi. Misionaris ini meninggal setelah mengalami pendarahan yang hebat akibat luka tusukan tombak yang mengenai jantungnya.
Kronologis peristiwa tersebut di mulai ketika Anton pada hari tersebut berencana berangkat ke beberapa wilayah kerjanya, yaitu Nanggala, kemudian ke Balusu lalu mengakhiri perjalanannya di Bori’. Entah mengapa rencananya ini diubah, ia tidak berangkat ke Nanggala dulu, tetapi ia berangkat ke Bori lebih dahulu. Kira-kira jam empat sore ia berangkat ke Bori’ dan tiba di sana sekitar jam lima sore. Setelah mandi di kali belakang rumah guru sekolah, ia kemudian duduk-duduk di beranda rumah guru bersama dengan guru sekolah di Bori’. Mereka mendiskusikan beberapa cerita-cerita Alkitab yang akan diterjemahkan kedalam bahasa Toraja.
Ketika hari mulai gelab, tiba-tiba seseorang yang wajahnya telah dilumuri dengan arang sehingga menjadi sangat hitam dan sulit untuk dikenali, melompat ke beranda rumah tersebut. Tidak lama kemudian ia menghujamkan tombaknya ke dada Anton. Anton terjatuh dari atas kursi dan sang pembunuh melarikan diri. Saat itu ia terluka parah, salah seorang murid bermaksud untuk memanggil istri Anton di Barana’, namun Anton melarangnya ia berkata “Tidak usah! Sebentar lagi saya akan mati, sampaikan salam saya kepada Istri yang sangat saya cintai dan juga anak-anak saya, sekarang tinggalkan saya sendiri, saya ingin berdoa”. Dalam keadaan berdoa inilah Anton menghembuskan nafas terakhirnya. Darah seorang MARTIR telah tertumpah di Tana Toraja, untuk apa dan mengapa?
Menurut kesaksian dari beberapa orang, termasuk istri Anton, Kepala Polisi, dan bahkan pengakuan dari para pembunuh itu, penulis dapat menyimpulkan bahwa pembunuhan itu adalah sebuah pembunuhan berencana yang tujuannya memancing pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Peristiwa ini merupakan imbas dari keputusan pemerintah Hindia Belanda akan pembatasan hari perjudian. Sebelumnya pemerintah memberi isin dua belas hari untuk mengadakan perjudian, namun kemudian dikurangi menjadi empat hari. Akibatnya beberapa orang yang sudah sangat kecanduan terhadap judi bersumpah untuk membunuh controuler (wakil pemerintah Hindia Belanda, setingkat Camat). Dalam perjalanan mereka ke Rantepao pada sore tersebut, mereka melihat kedatangan Anton yang adalah orang Belanda, maka muncullah niat untuk juga membunuh Anton. Sungguh sangat disayangkan hal ini terjadi sebab ternyata pembunuh Anton adalah orang yang kenal dekat dengannya, bahkan anak dari pembunuh ini sangat rajin ke sekolah.
kisah perjuangan Anton dan Ida van der Loosdrecht yang rela menyeberangi lautan meninggalkan keluarga dan orang-orang yang disayangi demi masyarakat Toraja yang tidak pernah mereka kenal sebelumnya, menjadi bagian yang perlu kita teladani. Sungguh suatu pelayanan yang tidak akan pernah dapat dibalas oleh masyarakat Toraja secara umum dan Gereja Toraja secara khusus. Injil yang bertumbuh dan menjadi dasar terbentuknya Gereja Toraja adalah Injil yang dihiasi dengan darah MARTIR Anton Aris van der Loosdrecht.
Sumber:http://ceritapengharapan.com
»»   Selengkapnya...

Minggu, 26 Juni 2011

Makam I Sawerannu Memperihatinkan


Makam I Sawerannu Memperihatinkan


MAKASSAR (TCN) — Inilah Makam Raja Tallo VII bersama makam Istri Beliau, I Sawerannu. Sawerannu adalah putri asal Toraja yang diperistrikan Raja Tallo VII yang bergelar Macan Bulenga Ri Tallo. Di masa kepemimpinannya, Beliau terkenal sebagai Raja yangg arif dan bijaksana.
Warga TCN, Sulwan Dase yang mengunjungi Makam Raja Tallo VII bersama makam Istri Beliau di kompleks Makam Raja-Raja Tallo di Makassar melaporkan kondisinya saat ini sangat memperihatinkan. Penutup makam sudah rusak sehingga yang ada hanya batu Nisan Beliau saja.
Datang dan lihatlah, betapa memprihatinkannya makam Istri raja Tallo VII dari Toraja yang bernama I SAWERANNU. Seharusnya kita orang Toraja yang hiduo di jaman ini memperdulikan hal ini. Sebab makam Beliau ini adalah satu-satunya situs bukti hubungan kekerarabatan antara orang-orang Gowa dan Toraya.

Kompleks Makam Raja-Raja Tallo dapat menjadi salah satu objek wisata sejarah di Makassar. Namun, selain promosi yang kurang, akses ke lokasi makam perlu mendapat perhatian.
Bagi yang rindu untuk berziarah, silahkan ke Makam Raja_Raja Tallo di Makassar.
Sumber TCN
»»   Selengkapnya...


RANTEPAO (TNO posting TCN)– Pemerintah Kabupaten Toraja Utara melaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati hari pahlawan nasional Pongtiku yang ke-9 yang dipusatkan di lapangan Sepakbola Pongtiku dan Taman Makam Pahlawan Pongtiku di Pangala’ Kecamatan Rindingallo Kabupaten Toraja Utara, Senin (18/7). Citizen Reporter TCN, Tamar Pambunan mengirimkan sejarah singkat Pahlawan Nasional Pongtiku berikut ini yang dibacakan pada upacara peringatan tersebut.
Pongtiku lahir sebagai anak bungsu dari pasangan suami istri Karaeng dan Le’bok pada petengahan Abad ke XIX (1846) di Tondon Pangala’. Karaeng adalah penguasa adat Pangala’ dan sekitarnya. Karena kemampuan dan kepemimpinan Pongtiku yang menonjol, maka sekalipun ia anak bungsu dialah yang menggantikan ayahandanya sebagai penguasa tatkala ayahnya sudah tua.
Sebelum Angkatan Perang Belanda datang di Tana Toraja, orang Toraja telah mempunyai hubungan dagang dengan orang Bugis.
Toraja Selatan dan Toraja Barat menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan Sidenreng, Rappang dan Sawito sedang Toraja Utara mitra dagangnya adalah kerajaan Bone dan Luwu.
Pimpinan orang Bugis dan kerajaan-kerajaan Sidenreng, Rappang dan Sawito adalah Petta Manyoro Lolo (Panglima Angkatan Perang Kerajaan Sidenreng) yang kemudian diketahui bernama Petta Serang, anak dari Raja Sidenreng, sedang pimpinan orang Bugis dari Kerajaan Bone dan Luwu adalah Petta Punggawa (Panglima tertinggi Angkatan Perang Bone, yang juga adalah Putra mahkota dengan nama Andi Baso’ Abdul Hamid)
Melalui hubungan dagang antara orang Bugis dan orang Toraja tersebut pemimpin-pemimpin Toraja dapat mengetahui bahwa akan pecah perang antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan yang tidak mau lagi mengakui Perjanjian Bungaya yang mengatur hubungan antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan yang sangat merugikan.
Untuk mengantisipasi perang yang akan pecah dalam waktu tidak lama penguasa-penguasa Toraja mengadakan musyawarah di Tongkonan Buntu Pune Kesu’ (Kediaman Pongmaramba’) dan mencapai kesepakatan antara lain :
Menggalang persatuan antar penguasa dengan menghilangkan semua benih-benih perpecahan dan mengangkat Pongtiku Panglima Perang sedang Pongmaramba’ dan penguasa-penguasa adat lainnya sebagai Panglima Pasukan Penghancur.
Kesepakatan mereka didasari motto : “Misa’ Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate”.
Selesai musyawarah, Pongtiku kembali ke daerahnya untuk mempersiapkan dan menyiagakan benteng-bentengnya sebanyak 9 (Sembilan) buah menghadapi perang.
Pada bulan Maret 1906, pasukan Angkatan Perang Belanda di bawah Pimpinan Kapten Killian dengan tujuan melucuti dan mengumpulkan senjata api dari semua penguasa Toraja. Komandan pasukan Belanda memerintahkan Pongtiku datang menghadap dan menyerahkan semua senjata yang dimilikinya. Pongtiku menolak, malah ia menyiagakan semua benteng-bentengnya menghadapi perang.
Perang perlawanan Pongtiku dalam daerahnya sendiri berlangsung selama kira-kira 6 bulan (Mei s/d Oktober 1906) dengan 6 kali pertempuran dan 1 kali pengepungan selama kira-kira 4 bulan (Juli s/d Oktober 1906).
Pertempuran tanggal 1 Juni 1906 untuk mempetahankan Benteng Buntu Asu dari serangan Angkatan Perang Belanda di bawah Komando Kapten De Last yang dilakukan dalam 3 gelombang semuanya kandas di muka Benteng dengan menelan banyak korban, Angkatan Perang Belanda dipukul mundur dan dihalau kembali ke Rantepao.
Pongtiku adalah penantang utama datangnya penjajah Belanda di Tana Toraja dan Toraja Utara dan dengan gigih dan gagah perkasa dengan segala kemampuan yang ada padanya mengobarkan perang lebih setahun lamanya, tepatnya dari bulan Mei 1906 s/d Juli 1907.
Ia bertahan dan menyerang musuhnya dari benteng-benteng yang jumlahnya 9 buah yang telah dipersipakan sejak dini. Perang Pongtiku melawan Belanda bukanlah tindakan spontanitas akan tetapi adalah perang yang direncanakan dan dipersiapkan dengan matang yangn merupakan bagian integral dari perang perlawanan Raja-Raja di Sulawesi Selatan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda disebut sebagai Perang Bone III. Demikian hebatnya pertahanan dan perlawanan Angkatan Perang Pongtiku terhadap gempuran Angkatan Perang Belanda, mengharuskan Letjen Swart yang dijuluki oleh Belanda sebagai Pasifikator Van Aceh (Pengaman Aceh) mengambil Komando pertempuran melawan Angkatan Perang Pongtiku yang bertahan tak terkalahkan dalam Benteng Batu di Baruppu’.
Belanda dengan menggunakan taktik seperti taktik yang digunakan terhadap Pangeran Diponegoro, Pongtiku menerima Case Fire, untuk mengadakan perundingan perdamaian dengan Belanda. Kesempatan ini digunakan oleh Belanda untuk membatasi gerak Pongtiku, tetapi Pongtiku menggunakan pula kesempatan yang sama untuk menyelenggarakan Upacara Pemakaman kedua orang tuanya yang wafat dalam Benteng menurut adat Toraja. Sehari sebelum selesai upacara pemakaman kedua orang tuanya, Pongtiku dengan sejumlah pasukan kembali ke medan juang bergabung dengan teman-teman seperjuangannya di Benteng Ambeso yang dipimpin oleh Bombing dan Ua’ Saruran dan Benteng Alla’ dalam Wilayah Enrekang.
Setelah Benteng Ambeso dan Benteng Alla’ jatuh ke tangan Belanda pada Bulan Januari 1907 Pongtiku tidak tertawan, ia berhasil lolos bersama pasukannya kembali ke wilayah kekuasaannya. Dengan petunjuk mata-mata Belanda ia tertangkap lalu di bawa ke Rantepao. Tanggal 10 Juli 1907, ia dieksekusi dan gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa di pinggir Sungai Sa’dan, tepatnya di tempat dimana Tugu Peringatan baginya didirikan di Singki’ Rantepao.
Meneliti sejarah perjuangan bangsa melawan Pemerintah Hindia Belanda dapatlah diketahui bahwa Pongtiku adalah penantang terakhir yang mengobarkan perang klasik terakhir tahun 1906-1907 di Wilayah Sulawesi Selatan sesuai sumpah yang diucapkannya “Iatu Tolino Pissanri Didadian sia Pissanri Mate Iamoto Randuk Domai Tampak Beluakku Sae Rokko Pala’ Lette’ku Nokana’ Lanaparenta Tumata Mabusa” (Manusia hanya sekali dilahirkan dan mati, dari ujung rambut sampai telapak kakiku saya tidak akan rela diperintah oleh Belanda)
Pengorbanan tidak sia-sia karena setahun setelah Pongtiku gugur tahun 1907. Pada tahun 1908 bangkitlah perlawanan modern yang dimulai dengan gerakan Budi Utomo atau Kebangkitan Nasional yang disusul dengan perlawanan-perlawanan dari pahlawan dan pejuang-pejuang bangsa yang mencapai puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
Berdasarkan perjuangan Pongtiku, Pemerintah RI melalui Keputusan Presiden RI Nomor : 073/TK/2002 tanggal 6 Nopember 2002, Pongtiku ditetapkan dan disahkan sebagai Pahlawan Nasional.
Demikian riwayat singkat Pahlawan Nasional Pongtiku
Dikirim Oleh: Tamar Pambunan
(Sumber : Dinas Sosial Kab. Toraja Utara)
»»   Selengkapnya...

Kamis, 23 Juni 2011

Ma’nene Ritual Unik Suku Toraja-Baruppu'



Tana Toraja di Sulawesi Selatan sudah lama terkenal dengan alam pegunungannya yang permai serta ritual adatnya yang unik. Yang paling tersohor, tentu saja, pesta Rambu Solo yang digelar menjelang pemakaman tokoh yang dihormati. Tiap tahun pesta yang berlangsung di beberapa tempat di Toraja ini senantiasa mengundang kedatangan ribuan wisatawan.
Selain Rambu Solo, sebenarnya ada satu ritual adat nan langka di Toraja, yakni Ma’ Nene’, yakni ritual membersihkan dan mengganti busana jenazah leluhur. Ritual ini memang hanya dikenal masyarakat Baruppu di pedalaman Toraja Utara — sebuah kabupaten baru. Biasanya, Ma’ Nene’ digelar tiap bulan Agustus.
Ritual budaya toraja yang unik ini, rencananya akan digelar selama sebulan penuh, yakni dari tanggal 1 Agustus sampai dengan 31 Agustus 2011. pada acara ma'nene nanti ini, akan diisi dengan berbagai macam kegiatan budaya yang menjadi item kegiatan Ma'nene.
Saat Ma’ Nene’ berlangsung, peti-peti mati para leluhur, tokoh dan orang tua, dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu dan diletakkan di arena upacara. Di sana, sanak keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. Secara perlahan, mereka mengeluarkan jenazah (baik yang masih utuh maupun yang tinggal tulang-belulang) dan mengganti busana yang melekat di tubuh jenazah dengan yang baru.
Mereka memperlakukan sang mayat seolah-olah masih hidup dan tetap menjadi bagian keluarga besar. Ritual Ma’ Nene’ oleh masyarakat Baruppu dianggap sebagai wujud kecintaan mereka pada para leluhur, tokoh dan kerabat yang sudah meninggal dunia. Mereka tetap berharap, arwah leluhur menjaga mereka dari gangguan jahat, hama tanaman, juga kesialan hidup.
Dari mana asal muasal ritual Ma’ Nene’ di Baruppu? Kisah turun-temurun menyebutkan, pada zaman dahulu terdapatlah seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek. Saat sedang berburu di kawasan hutan pegunungan Balla, bukannya menemukan binatang hutan, ia malah menemukan jasad seseorang yang telah lama meninggal dunia. Mayat itu tergeletak di bawah pepohonan, telantar, tinggal tulang-belulang.
Merasa kasihan, Pong Rumasek kemudian merawat mayat itu semampunya. Dibungkusnya tulang-belulang itu dengan baju yang dipakainya, lalu diletakkan di areal yang lapang dan layak. Setelah itu, Pong Rumasek melanjutkan perburuannya.
Tak dinyana, semenjak kejadian itu, setiap kali Pong Rumasek berburu, ia selalu beroleh hasil yang besar. Binatang hutan seakan digiring ke dirinya. Bukan hanya itu, sesampainya di rumah, Pong Rumasek mendapati tanaman padi di sawahnya pun sudah menguning, bernas dan siap panen sebelum waktunya.
Pong Rumasek menganggap, segenap peruntungan itu diperolehnya berkat welas asih yang ditunjukkannya ketika merawat mayat tak bernama yang ditemukannya saat berburu.
Sejak itulah, Pong Rumasek dan masyarakat Baruppu memuliakan mayat para leluhur, tokoh dan kerabat dengan upacara Ma’ Nene’. Dalam ritual Ma’ Nene’ juga ada aturan tak tertulis yang mengikat warga. Misalnya, jika seorang istri atau suami meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan Ma’ Nene’ untuknya.
Ketika Ma’ Nene’ digelar, para perantau asal Baruppu yang bertebaran ke seantero negeri akan pulang kampung demi menghormati leluhurnya. Warga Baruppu percaya, jika Ma’ Nene’ tidak digelar maka leluhur juga akan luput menjaga mereka. Musibah akan melanda, penyakit akan menimpa warga, sawah dan kebun tak akan menghasilkan padi yang bernas dan tanaman yang subur.
»»   Selengkapnya...

Kamis, 16 Juni 2011

KPK dan CIDA Luncurkan Proyek SIPS di Makassar


KPK dan CIDA Luncurkan Proyek SIPS di Makassar
Kamis, 16 Juni 2011 06:15
Makassar, Komisi Pemberantasan Korupsi meluncurkan proyek "Support to Indonesia's Island of Integrity Program for Sulawesi" di Makassar, Selasa, sebagai upaya mencegah korupsi. Upaya pencegahan korupsi itu dilakukan melalui perbaikan tata kelola pemerintahan dan manajemen yang lebih transparan dan akuntabel, kata Wakil Ketua KPK Bidang Pencegahan, Informasi, dan Data Moch Jasin.

Ia menjelaskan, proyek yang dikerjasamakan dengan Canadian International Development Agency (CIDA) Indonesia ini akan dilaksanakan selama lima tahun di lima daerah di Provinsi Sulawesi Selatan dan lima daerah di Provinsi Sulawei Utara yang terpilih dari 20 daerah yang mengajukan aplikasi untuk mengikuti proyek.

Di Sulsel program ini berjalan di Pemerintah Kota Makassar, Pemerintah Kabupaten Enrekang, Pemerintah Kabupaten Pinrang dan Pemerintah Kabupaten Tana Toraja. Sementara itu, di Sulut, proyek dilaksanakan di Pemerintah Kota Manado, Pemerintah Kabupaten Minahasa, Pemerintah Kota Bitung dan Pemerintah Kabupaten Sangihe. Kesepuluh daerah ini terpilih menjadi pionir pelaksanaan proyek SIPS berdasarkan hasil penilaian KPK melalui survei integritas sektor publik, penilaian inisiatif antikorupsi (PIAK) dan analisis aksebilitas.

"Daerah-daerah ini menunjukkan niat-niat dan komitmen untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan dan manajemen yang baik misalnya dengan berupaya melakukan penyederhanaan sistem pelayanan publik. Kami pilih yang paling minim potensinya," ujarnya.

Sebanyak 10 daerah yang telah terpilih ini diharapkan dapat ditularkan ke provinsi dan daerah lain di Pulau Sulawesi. Tiga fokus proyek adalah pelayanan terpadu satu pintu, administrasi kependudukan dan layanan pengadaan secara elektronik (LPSE atau e-procurement).
Selama lima tahun proyek berjalan akan dilakukan evaluasi berkala untuk menilai efektivitas dan efisiensi pencapaiannya.

"KPK akan terus mendorong perbaikan karena solusi pencegahan melalui konsultasi lebih baik daripada menangkap dan memenjarakan orang. Melalui proyek ini kami berusaha melakukan pencegahan tapi bukan berarti ada toleransi pada daerah yang terpilih," katanya.

CIDA Indonesia Field Refresentative Renaldy Martin menambahkan, intinya proyek ini adalah "good governance". Isunya bukan korupsi tapi pencegahan korupsi karena masih banyak ruang yang dapat dimaksimalkan untuk melakukan pencegahan. Survei integritas akan menjadi indikator resmi layanan publik.

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menyatakan, Sulsel akan terus melakukan perbaikan melalui tiga agenda yaitu agenda intelektual agar kabupaten lain ikut termotivasi, agenda manajemen dengan mendorong sistem pelayanan publik "one stop service", dan penerapan e-government serta agenda perilaku pejabat publik. "Ini pertama dan kami akan banyak belajar," ujarnya. (T.KR-RY/N002-ant)
»»   Selengkapnya...