Rabu, 11 April 2012
Selasa, 10 April 2012
Pejabat Dinas Bina Marga Resah Dituding Jadi Kontraktor
![]() | |
| Aris Mantong-Kabid Jalan dan Jembatan |
RANTEPAO, TNO -- Aris Mantong, Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Toraja Utara mengaku resah dan tidak tenang dengan beredarnya cerita miring tentang dirinya.
Cerita yang beredar di kalangan kontraktor dan LSM tersebut dinilainya tidak benar dan bohong belaka. "Cerita itu hanya untuk merusak citra diri saya. Saya dicerita jadi kontraktorlah. Dicerita sebagai tukang bagi-bagi proyeklah. Semua itu tidak benar adanya. Saya sudah tua, apalagi yang saya cari. Pada akhirnya kita akan mati semua," ujar Aris Mantong saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (9/4).
Dikatakannya, cerita miring tentang dirinya itu ternyata sudah sampai ke telinga orang nomor satu di Pemkab Toraja Utara, yakni Bupati. "Sampai-sampai Pak Bupati tidak enak kalau lihat muka saya," ujar Aris Mantong.
Cerita miring itu sudah lama beredar, namun Aris Mantong baru mendengar langsung dari Ketua LSM Lekat Rian yang langsung menanyakan kebenarannya.
Sementara itu, Rian yang dikonfirmasi terpisah menjelaskan, Aris Mantong selaku PNS dan pejabat Dinas Bina Marga seharusnya memberi keterangan resmi terkait hal tersebut.
"Kalau isu itu tidak berdasar, kenapa seperti orang kelabakan dan terkesan panik? Santai-santai sajalah kalau memang tidak mengerjakan proyek, tidak perlu panik," tandas Rian.
Cerita yang beredar di kalangan kontraktor dan LSM tersebut dinilainya tidak benar dan bohong belaka. "Cerita itu hanya untuk merusak citra diri saya. Saya dicerita jadi kontraktorlah. Dicerita sebagai tukang bagi-bagi proyeklah. Semua itu tidak benar adanya. Saya sudah tua, apalagi yang saya cari. Pada akhirnya kita akan mati semua," ujar Aris Mantong saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (9/4).
Dikatakannya, cerita miring tentang dirinya itu ternyata sudah sampai ke telinga orang nomor satu di Pemkab Toraja Utara, yakni Bupati. "Sampai-sampai Pak Bupati tidak enak kalau lihat muka saya," ujar Aris Mantong.
Cerita miring itu sudah lama beredar, namun Aris Mantong baru mendengar langsung dari Ketua LSM Lekat Rian yang langsung menanyakan kebenarannya.
Sementara itu, Rian yang dikonfirmasi terpisah menjelaskan, Aris Mantong selaku PNS dan pejabat Dinas Bina Marga seharusnya memberi keterangan resmi terkait hal tersebut.
"Kalau isu itu tidak berdasar, kenapa seperti orang kelabakan dan terkesan panik? Santai-santai sajalah kalau memang tidak mengerjakan proyek, tidak perlu panik," tandas Rian.
Posting : beritakota makassar online
Proyek Jalan Beton di Toraja Utara Diindikasi Bermasalah
![]() |
| Aris Mantong |
Pekerjaan Rabat beton yang panjangnya sekitar dua kilometer menuju ke kantor bupati baru Toraja Utara terlambat dituntaskan, padahal seharusnya batas waktu pengerjaan proyek itu adalah 31 Desember lalu. Proyek ini termasuk bagian dari Paket peningkatan jalan alternatif Bolu Ba'tan.
Proyek ini bersumber dari APBN 2011 senilai Rp5 milyar ini menggunakan Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID) yang dikerjakan oleh PT Sabar Jaya. Berdasarkan penelusuran kalangan LSM di Toraja Utara, diketahui keterlambatan itu disebabkan karena pihak ketiga yang menjadi subkontraktor proyek ini terlambat memulai pekerjaan.
"Makanya sampai sekarang proyek 2011 ini belum kelar-kelar hingga bulan februari 2012 ini. Hasil investigasi kami simpulkan proyek ini dikerja asal jadi dan tidak sesuai bestek,” ujar Henok Palungan, salah satu aktifis LSM di Toraja Utara.
Henok menjelaskan, kondisi kualitas proyek akan tidak terkontrol lagi, sebab konsultan pengawas yang mengawasi jalannya proyek telah berakhir masa kerjanya sejak 31 Desember lalu. Praktis penyelesaian proyek yang masih terus dikerjakan ini sudah tidak diawasi oleh pengawas independen. Pengawasan selanjutnya diambil alih oleh dinas PU sendiri.
Pekerjaan rabat beton yang sudah dianggap selesai pun kondisinya bergelombang. Disisi kanan rabat beton terlihat beberapa tempelan semen yang baru. Namun dibeberapa titik juga terlihat berlubang disamping rabat yang dikhawatirkan akan pecah jika ada beban lumayan berat diatasnya.
PPTK Aris Mantong yang ditemui terpisah menjelaskan bahwa wajar wajar saja kalau ada bolong-bolong dipinggirannya karena digerus air hujan. Apalagi, menurutnya, proyek ini masih dalam masa pemeliharaan.
"Selama masa pemeliharaan yakni enam bulan lamanya, kontraktor tidak boleh lepas tangan,” ujar Aris.
Mengenai pekerjaan yang belum selesai Aris Mantong mengaku belum menerapkan denda sebesar 0,01 persen. Saat didesak apa alasannya sehingga tidak memberlakukan denda keterlambatan, Aris hanya berkilah untuk tidak usah disinggung-singgung mengenai denda tersebut.
"Tidak usahmi disinggung mengenai keterlambatan dan dendanya,” ujar Aris dengan mimik wajah yang serius. (abazta/ar)
Sejumlah LSM Tuding Walikota Makassar Tidak Konsisten
![]() |
| Walikota Makassar-Ilham A Sirajuddin |
"Wali kota harus memberikan klarifikasi kepada masyarakat dengan langkahnya yang mempertahankan seorang terpidana korupsi menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum," ujar Direktur Forum Informasi dan Komunikasi Organisasi Non Pemerintah Sulsel, Asram Jaya di Makassar, Kamis.
Ia mengatakan, banyaknya orang-orang yang melanggar sumpah dalam pakta integritas yang disepakati oleh sejumlah pejabat dan wali kota saat akan dilantik pada tahun-tahun sebelumnya masih kembali mendapatkan kesempatan pada mutasi Rabu (29/2).
Beberapa pejabat yang mendapatkan tempat strategis dan dinilai melanggar sumpah dalam pakta integritas yakni Kepala Dinas Pekerjaan Umum Makassar Ridwan Muhadir yang sekarang menjadi terpidana korupsi swakelola pekerjaan umum dengan nilai Rp13 miliar.
Pejabat lainnya yang mendapat kesempatan dan jabatan strategis yakni Ibrahim Saleh yang sekarang menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Makassar. Ibrahim Saleh sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Makassar.
Ia mengungkapkan, Ibrahim Saleh yang sekarang menjadi Kepala Bapeda Makassar masih terusik dengan kasus dugaan korupsi penyalahgunaan anggaran anggaran bantuan sosial pada 2009 senilai Rp2 miliar.
"Dalam pakta integritas itu sangat jelas, orang-orang atau pejabat yang masih terindikasi terlibat dalam tindak pidana korupsi harusnya di non aktifkan karena akan berdampak pada pelayanan masyarakat. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya, malah mendapat posisi strategis," katanya.
Hal serupa juga diungkapkan Direktur Komite Pemantau Legislatif (Kopel) Sulawesi Selatan Syamsuddin Alimsyah yang menyebut Wali Kota Makassar tidak konsisten dengan sumpahnya untuk memberantas tindak pidana korupsi.
Ia mengatakan, dua periode kepemimpinan Ilham Arief Sirajuddin selalu membawa perubahan untuk kemajuan Kota Makassar serta komitmennya yang tinggi untuk memberantas tindak pidana korupsi.
Tapi komitmen itu hanya dijalankan pada periode pertamanya menjabat wali kota dan pada masa periode kedua itu, ilham hanya komitmen pada kata-kata dan tidak menindaklanjutinya dengan langkah tegas seperti membebas tugaskan bwahannya yang terindikasi terlibat korupsi.
"Kita sangat mengapresiasi wali kota di waktu periode pertama pemerintahannya karena banyak hal-hal baru yang dilaksanakan dan menjadi bahan percontohan oleh daerah lainnya, tetapi sekarang hal itu sudah tidak lagi terjadi," katanya. (ANT)
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012Kamis, 05 April 2012
SOSIALISASI PERATURAN KEPALA BKN TENTANG PEDOMAN PENATAAN PNS DAN RANCANGAN PERATURAN JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR KEPEGAWAIAN DI WILAYAH KERJA KANREG IV BKN MAKASSAR
ACARA SOSIALISASI PERATURAN KEPALA BKN TENTANG PEDOMAN PENATAAN PNS DAN RANCANGAN PERATURAN JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR KEPEGAWAIAN DI WILAYAH KERJA KANREG IV BKN MAKASSAR
»» Selengkapnya...
| Makassar- Humas, Deputi Bidang Pengendalian Kepegawaian Bambang Chrysnadi, SH.M.Si hari ini (4/11) membuka secara resmi acara Sosialisasi peraturan Kepala BKN tentang pedoman penataan PNS dan Rancangan peraturan Jabatan Fungsional Auditor kepegawaian yang juga dihadiri oleh Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kepegawaian Drs. Made Ardita, M.Si serta Kepala Kantor Regional IV BKN Makassar. Acara yang dilaksanakan di Aula Laga Ligo tersebut dihadiri oleh Kepala Inspektorat serta Kepala BKD Prop/Kab/Kota se Wilayah kerja Kantor Regional IV BKN Makassar. Dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam penataan jabatan dan rancangan keputusan menteri Negara reformasi birokrasi tentang jabatan auditor kepegawaian bahwa dalam dua jabatan itu dimaksudkan memperkuat, memperkokoh semangat Reformasi Birokrasi yang sekarang dikenal dengan kebijakan moratorium. Semua penyelenggara Manajemen Pegawai Negeri Sipil bersama-sama hijrah dari urusan Manajemen Administrasi bergeser kepada Human Resource (Pengembangan Pegawai). Pembukaan Acara Sosialisasi oleh Deputi Dalpeg Bambang Chrysnadi (tengah)
di dampingi oleh Kepala Kantor Regional IV BKN Usman Gumanti (kiri)
dan Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kepegawaian Made Ardita (kanan)Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa dalam seperempat abad Negara, dalam penyelenggara PNS hanya sibuk mengarahkan seluruh sumber daya hanya untuk mengangkat pegawai, termasuk pegawai honor kemudian menjadi “horror” , ternyata selama ini bapak-bapak hanya sibuk menerima pegawai, mengurus pegawai yang masuk tiap tahun mulai dari formasi, penyelenggaraan ujian, penerimaan CPNS dan prajab. Dan beliau mengatakan sekarang kita harus menata PNS supaya tidak selalu mendapatka image yang buruk. Peserta Sosialisasi dari BKD Provinsi/Kab/Kota dan Inspektorat wilayah kerja Kanreg IV BKN Setelah pembukaan acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Drs. Made Ardita, M.Si tentang pedoman penataan PNS dan dilanjutkan oleh Drs. Badi Muliono tentang teknis pelaksanaan PERKA BKN mengenai pedoman penataan PNS, dan terakhir oleh Paulus Dwi Laksono tentang Materi Pokok sosialisasi RPJ Auditor Kepegawaian. Dalam acara tersebut dirangkaikan dengan penyerahan berkas penetapan NIP dari Kab.Tual yang diserahkan oleh Kepala Kantor Regional IV BKN Makassar kepada Kepala BKD Kab.Tual serta Sekretaris Daerah Kab.Tual dan disaksikan oleh Deputi Dalpeg, Bapak Bambang Chrisnadi,SH.M.Si. (redaksi) |
Daftar Nama Tenaga Honorer Belum Pernah Diumumkan
| Jakarta-Humas BKN, sampai saat ini Badan Kepegawaian Negara (BKN) belum pernah mengumumkan daftar nama tenaga honorer Kategori 1 (K1) hasil verifikasi dan validasi (Verval) secara resmi. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kasubag publikasi, Petrus Sujendro saat menemui Forum Honorer Indonesia (FHI), Selasa (14/2). Pertemuan dalam rangka audiensi dengan FHI tersebut diselenggarakan di Ruang Rapat Gd I lt. 1 Kantor Pusat BKN Jakarta dan dihadiri juga oleh Kasubdit Dalpeg II, Paulus Dwi Laksono. Kasubag publikasi, Petrus Sujendro (kiri) dan Kasubdit Dalpeg II, Paulus Dwi Laksono saat menjelaskan tentang pengumuman tenaga honorer. Pada kesempatan audiensi ini, Pembina FHI, Hasbi menyampaikan laporan bahwa saat ini sudah beredar daftar tenaga honorer K1 hasil verval di Kabupaten Lahat. Menurut Hasbi dengan beredarnya hal tersebut maka menimbulkan keresahan tenaga honorer yang tidak memenuhi kriteria (TMK). Berkaitan dengan masalah tersebut Hasbi meminta BKN segera mengumumkan data hasil Verval secara resmi dan transparan. Menanggapi permasalahan tersebut, Petrus Sujendro menegaskan bahwa sampai detik ini BKN belum pernah mengeluarkan pengumuman secara resmi terkait tenaga honorer K1 hasil Verval di website resmi BKN. “BKN belum mengumumkan secara resmi karena belum ada regulasi sebagai dasar hukumnya,” tegas Petrus Sujendro. Disinggung soal adanya oknum pegawai BKN yang terlibat pengumuman itu, Paulus Dwi Laksono menyampaikan bahwa pihaknya akan mendalami masalah tersebut lebih lanjut. Pewakilan FHI menanyakan pengumuman resmi terkait daftar tenaga honorer hasil Verval.Terkait regulasi pengangkatan tenaga honorer, lebih lanjut Petrus Sujendro menjelaskan bahwa berdasarkan Rapat kerja Komisi II DPR RI dengan Pemerintah pada Senin (13/2) penyelesaian RPP tenaga honorer baik Kategori 1 (K1) dan K2 diharapkan rampung pada April 2012. (rima/bal/twr) |
Rabu, 04 April 2012
Masa Reses, Anggota DPR Ramai-ramai ke Luar Negeri
| foto: detikcom |
Masa Reses, Anggota DPR Ramai-ramai ke Luar Negeri
Jakarta DPR RI akan memasuki masa reses (libur sidang) pertengahan April ini. Sejumlah kunjungan ke luar negeri pun disiapkan.
Komisi I DPR misalnya, sudah menyiapkan lawatan ke 4 negara. 4 negara yang dikunjungi adalah Jerman, Ceko, Polandia, dan Afrika Selatan. Rombongan akan berangkat pada pertengahan April ini. Anggaran yang digunakan cukup mahal, sekitar Rp 3 miliar.
Kunjungan ke Ceko, dalam hitungan Fitra, menghabiskan dana Rp. 1.011.982.400, Polandia menghabiskan anggaran Rp 729.564.000, ke Jerman menghabiskan anggaran Rp 826.029.600, dan Afrika Selatan menghabiskan anggaran Rp. 606.425.600. Total pengeluaran yang dikeluarkan untuk kunjungan ini adalah Rp 3.174.001.600. Sumber seknas FITRA diolah dari PMK No.84/PMK.02/2011.
Namun pimpinan DPR merestui kunjungan Komisi I DPR ke 4 negara. Komisi selain Komisi I DPR, pimpinan DPR juga membebaskan Badan Kerjasama Antar perlemen (BKSAP) dalam rangka menjaga hubungan baik dengan negara sahabat.
Wakil Ketua Komisi I DPR menegaskan kunjungan kerja Komisi I DPR tak bisa dihindarkan. Mengingat Komisi I DPR adalah mitra kerja Kementerian Luar Negeri.
"Kunjungan Komisi I karena mitra kerja Komisi I DPR salah satunya adalah Kemlu. Keliru apabila Komisi I dalam tugas pengawasan tidak menjangkau sampai ke perwakilan RI di luar negeri dalam melakukan Raker dengan KBRI," jelas Hayono yang memimpin rombongan ke Jerman ini, kepada detikcom, Kamis (5/4/2012).
Tak hanya Komisi I DPR yang melawat ke luar negeri pada masa reses. Komisi VIII DPR juga telah menyiapkan tiket kunjungan ke 2 negara pada akhir bulan ini.
Komisi VIII DPR berkunjung ke Denmark dan Norwegia dalam rangka studi banding RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender. Namun tak semua anggota Komisi VIII DPR ikut dalam rombongan ini.
"Saya ikut menandatangani ada anggota yang ke Denmark dan Norwegia tapi saya tidak ikut karena saya tidak ikut dalam pembahasan UU tersebut," kata anggota Komisi VIII DPR dari PD, Muhammad Baghowi.
(van/vid)
Komisi I DPR misalnya, sudah menyiapkan lawatan ke 4 negara. 4 negara yang dikunjungi adalah Jerman, Ceko, Polandia, dan Afrika Selatan. Rombongan akan berangkat pada pertengahan April ini. Anggaran yang digunakan cukup mahal, sekitar Rp 3 miliar.
Kunjungan ke Ceko, dalam hitungan Fitra, menghabiskan dana Rp. 1.011.982.400, Polandia menghabiskan anggaran Rp 729.564.000, ke Jerman menghabiskan anggaran Rp 826.029.600, dan Afrika Selatan menghabiskan anggaran Rp. 606.425.600. Total pengeluaran yang dikeluarkan untuk kunjungan ini adalah Rp 3.174.001.600. Sumber seknas FITRA diolah dari PMK No.84/PMK.02/2011.
Namun pimpinan DPR merestui kunjungan Komisi I DPR ke 4 negara. Komisi selain Komisi I DPR, pimpinan DPR juga membebaskan Badan Kerjasama Antar perlemen (BKSAP) dalam rangka menjaga hubungan baik dengan negara sahabat.
Wakil Ketua Komisi I DPR menegaskan kunjungan kerja Komisi I DPR tak bisa dihindarkan. Mengingat Komisi I DPR adalah mitra kerja Kementerian Luar Negeri.
"Kunjungan Komisi I karena mitra kerja Komisi I DPR salah satunya adalah Kemlu. Keliru apabila Komisi I dalam tugas pengawasan tidak menjangkau sampai ke perwakilan RI di luar negeri dalam melakukan Raker dengan KBRI," jelas Hayono yang memimpin rombongan ke Jerman ini, kepada detikcom, Kamis (5/4/2012).
Tak hanya Komisi I DPR yang melawat ke luar negeri pada masa reses. Komisi VIII DPR juga telah menyiapkan tiket kunjungan ke 2 negara pada akhir bulan ini.
Komisi VIII DPR berkunjung ke Denmark dan Norwegia dalam rangka studi banding RUU Keadilan dan Kesetaraan Gender. Namun tak semua anggota Komisi VIII DPR ikut dalam rombongan ini.
"Saya ikut menandatangani ada anggota yang ke Denmark dan Norwegia tapi saya tidak ikut karena saya tidak ikut dalam pembahasan UU tersebut," kata anggota Komisi VIII DPR dari PD, Muhammad Baghowi.
(van/vid)
Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Kamis, 05/04/2012 06:38 WIB MPR: Sistem Pemilu Tertutup Kembalikan Indonesia ke Masa Kegelapan
Jakarta Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin merespons dorongan 3 fraksi di DPR agar UU Pemilu diarahkan ke sistem proporsional tertutup. Menerapkan kembali sistem ini dianggap mengantarkan kembali pemilu di Indonesia ke masa kegelapan.
"Bila pemilu 2014 kembali ke sistem proporsional tertutup, itu artinya kita kembali ke masa kegelapan. Gelap bagi masyarakat, juga gelap bagi parpol itu sendiri," kata Lukman kepada detikcom, Kamis (5/4/2012).
Saat ini 3 fraksi di DPR yakni FPDIP, FPKS, dan FPKB memang menginginkan kembali ke sistem proporsional tertutup. Menurut Lukman sistem pemilu proporsional terbuka yang telah diterapkan jauh lebih moderat. Sistem pemilu proporsional terbuka juga sebagai bagian dari reformasi sistem pemilu Ordr Baru.
"Proporsional terbuka telah mengakomodasi dua tuntutan sekaligus, yaitu: implementasi kedaulatan rakyat dan efektivitas keterwakilan pada ketersebaran populasi yang tak merata di wilayah kita yang amat luas. Sistem proporsional terbuka merupakan hasil dari pembahasan yang amat panjang menjelang pemilu 2004 dan 2009. Sistem itu sudah mapan kita praktikkan, jangan mudah diubah-ubah hanya karena pikiran sesaat," papar Wakil Ketua Umum PPP ini.
Pada sistem proporsional terbuka, menurut Lukman, parpol diberi keleluasaan untuk mengajukan daftar kader-kader terbaiknya. Namun rakyatlah pada akhirnya yang menentukan siapa diantara mereka yang jadi wakilnya.
"Pada proporsional tertutup rakyat 'dipaksa' untuk menerima nomor urut 1 dan mungkin 2 saja dari yang diajukan parpol sebagai wakilnya. Rakyat dirugikan karena tak punya pilihan, sementara parpol juga dirugikan karena hanya kader yang bernomor urut 1 dan 2 saja yang akan berkampanye. Bila yang terakhir ini yang akan terjadi, masa kegelapan politik nasional kita serasa di depan mata," tandas Lukman.
(van/nvt)
"Bila pemilu 2014 kembali ke sistem proporsional tertutup, itu artinya kita kembali ke masa kegelapan. Gelap bagi masyarakat, juga gelap bagi parpol itu sendiri," kata Lukman kepada detikcom, Kamis (5/4/2012).
Saat ini 3 fraksi di DPR yakni FPDIP, FPKS, dan FPKB memang menginginkan kembali ke sistem proporsional tertutup. Menurut Lukman sistem pemilu proporsional terbuka yang telah diterapkan jauh lebih moderat. Sistem pemilu proporsional terbuka juga sebagai bagian dari reformasi sistem pemilu Ordr Baru.
"Proporsional terbuka telah mengakomodasi dua tuntutan sekaligus, yaitu: implementasi kedaulatan rakyat dan efektivitas keterwakilan pada ketersebaran populasi yang tak merata di wilayah kita yang amat luas. Sistem proporsional terbuka merupakan hasil dari pembahasan yang amat panjang menjelang pemilu 2004 dan 2009. Sistem itu sudah mapan kita praktikkan, jangan mudah diubah-ubah hanya karena pikiran sesaat," papar Wakil Ketua Umum PPP ini.
Pada sistem proporsional terbuka, menurut Lukman, parpol diberi keleluasaan untuk mengajukan daftar kader-kader terbaiknya. Namun rakyatlah pada akhirnya yang menentukan siapa diantara mereka yang jadi wakilnya.
"Pada proporsional tertutup rakyat 'dipaksa' untuk menerima nomor urut 1 dan mungkin 2 saja dari yang diajukan parpol sebagai wakilnya. Rakyat dirugikan karena tak punya pilihan, sementara parpol juga dirugikan karena hanya kader yang bernomor urut 1 dan 2 saja yang akan berkampanye. Bila yang terakhir ini yang akan terjadi, masa kegelapan politik nasional kita serasa di depan mata," tandas Lukman.
(van/nvt)
Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Kamis, 05/04/2012 08:34 WIB Kadis PU Tana Toraja: 1 M Untuk Poros Panglion-Paku
Khristian H.P.Lambe, Legislator Partai Damai Sejahtera (PDS) juga anggota Komisi Dua DPRD Tana Toraja, yang dikonfirmasi kabar-toraja.com belum lama ini, Selasa (03/04/2012) mengatakan bahwa protes warga dengan menanam pohon pisang di tengah jalan karena aktifitasnya sangat terganggu dengan kondisi jalan. (Baca : Jalan Rusak, Warga Tanam Pisang)
Selain itu, politisi PDS ini juga menjelaskan bahwa di sekitar disekitar poros tersebut cukup padat pemukiman warga.
Posting: kabartoraja.com
Selasa, 03 April 2012
Hercules, Basri Sangaji, dan John Kei, Cerita Legenda Preman Jakarta
| Tiga Preman Penagih Utang di Ibukota Jakarta |
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ibukota Jakarta identik dengan kota besar dengan iklim kehidupan yang keras, dan premanisme. Di Jakarta juga melahirkan kisah dan legenda beberapa preman 'besar' dengan ratusan sampai ribuan pengikutnya.
Kelompok Hercules, (Basri) Sangaji, dan John Kei, merupakan 3 'geng' Debt Collector (penagih utang) ibukota Jakarta yang biasanya melayani tagihan di atas Rp 500 juta.
Namun, jauh sebelum muncul dan merajalelanya ketiga kelompok itu, jasa penagihan utang terbesar dan paling disegani adalah kelompok pimpinan mantan gembong perampok Johny Sembiring.
Kelompok Johny Sembiring bubar saat Johny Sembiring dibunuh sekelompok orang di persimpangan Matraman Jakarta Timur tahun 1996 lalu.
Namun, yang paling populer namanya dalam satu dasawarsa ini mungkin adalah Hercules, Basri Sangaji, hingga John Kei. Berikut beberapa profil dan kisah singkat para 'pahlawan' dunia hitam di Jakarta itu:
-HERCULES
Bernama lengkap Hercules Rosario Marshal. Ia seorang pejuang yang pro terhadap NKRI ketika terjadi ketegangan Timor-timur sebelum akhirnya merdeka pada tahun 1999. Sosoknya yang berkarisma hingga Hercules dipercaya pasukan TNI, di konflik Timor-timur kala itu, memegang logistik oleh KOPASUS dalam operasi di Tim-tim.
Dalam operasi di Tim-tim itu, Hercules tertimpa nasib yang kurang beruntung hingga berakibat pada kondisi fisik dan penampilannya. Mata kanannya cacat dan begitu juga tangan kanannya, hilang hingga siku. Musibah yang dialaminya di Tim-tim kala membuatnya harus dirawat intensif di RSPAD Jakarta hingga pulih.
Saat pulih, petualangannya di ibukota Jakarta pun dimulai. Pengakuan Hercules, dirinya masuk ke Jakarta sekitar tahun 1987. Awalnya Hercules berkecimpung di Hankam Seroja yang menampung dan memberdayakan penyandang cacat seperti dirinya yang mendapat luka cacat dalam Operasi Seroja di Timor-timur.
Di Hankam Seroja, ia mendapatkan pelatihan keterampilan. “Saat itu saya sudah main ke Tanah Abang dan setelah selesai di Hankam, saya ke Tanah Abang lagi. Saya merebut daerah hitam dan di situ pertarungan sengit. Hampir tiap malam ada orang mati,” kata Hercules.
Bersama teman-temannya dari Timor Timur, Hercules mulai membangun daerah kekuasannya di Tanah Abang. Dari kelompok kecil, hingga Hercules membawahi sekitar 17.000 orang ‘pasukannya’ yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta.
Dan dari situlah perjalanan hidupnya menjadi Hercules yang di kenal sampai sekarang, ia jalani. Hidup di Jakarta tepatnya di daerah Tanah Abang yang terkenal dengan daerah ‘Lembah Hitam’, seperti diungkapkan Hercules daerah itu disebutnya sebagai daerah yang tak bertuan, bahkan setiap malamnya kerap terjadi pembacokan dan perkelahian antar preman.
Hampir setiap malam pertarungan demi pertarungan harus dia hadapi. “Waktu itu saya masih tidur di kolong-kolong jembatan. Tidur ngak bisa tenang. Pedang selalu menempel di badan. Mandi juga selalu bawa pedang. Sebab setiap saat musuh bisa menyerang,” ungkapnya
Rasanya tidak percaya Hercules menjadi sosok preman yang paling ditakuti, setidaknya di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta. Tubuhnya tidak begitu tinggi. Badannya kurus. Hanya tangan kirinya yang berfungsi dengan baik. Sedangkan tangan kananya sebatas siku menggunakan tangan palsu. Sementara bola mata kanannya sudah digantikan dengan bola mata buatan.
Tapi setiap kali nama Hercules disebut, yang terbayang adalah kengerian. Banyak sudah cerita tentang sepak terjang Hercules dan kelompoknya. Sebut saja kasus penyerbuan Harian Indopos gara-gara Hercules merasa pemberitaan di suratkabar itu merugikan dia. Juga tentang pendudukan tanah di beberapa kawasan Jakarta yang menyebabkan terjadi bentrokan antar-preman.
Belum lagi sejumlah tawuran antar-geng yang merenggut korban jiwa atau luka-luka. Sejak pertengahan 80-an kelompok Hercules malang melintang di kawasan perdagangan Tanah Abang. Tak heran jika bagi warga Jakarta dan sekitarnya, nama Hercules identik dengan Tanah Abang.
Banyak cerita dari pria yang bernama lengkap Hercules Rozario Marshal ini. Mulai sepak terjangnya ketika memulai menjadi preman di Jakarta, isu kedekatannya dengan Prabowo Subianto, hingga pengakuannya yang kini belum pernah membunuh orang dan soal mitos yang menyebut dirinya kebal peluru.
Meski tubuhnya kecil, nyali pemuda kelahiran Timtim (kini Timor Leste) 45 tahun lalu ini diakui sangat besar. Dalam tawuran antar-kelompok Hercules sering memimpin langsung. Konon cerita, pernah suatu kali dia dijebak dan dibacok 16 bacokan hingga harus masuk ICU, tapi ternyata tak kunjung tewas.
Bahkan dalam suatu perkelahian, sebuah peluru menembus matanya hingga ke bagian belakang kepala tapi tak juga membuat nyawa pemuda berambut keriting ini tamat. Ada isu dia memang punya ilmu kebal yang diperolehnya dari seorang pendekar di Badui Dalam.
Pada suatu kesempatan ada yang mencoba menanyakan salah satu mitos yang beredar di kalangan masyarakat adalah apakah Hercules kebal peluru? Dengan tersenyum Hercules, membantah hal itu. “Kita tidak kebal peluru. Kita selalu selamat karena berbuat amal, membantu anak yatim piatu. Doa mereka yang selalu membuat saya selamat,” uangkapnya.
Bantuan Sosial
Namun kini, Hercules tak seperti dulu lagi. Di balik cerita-cerita seram mengenai dirinya, jarang yang mengetahui bahwa ternyata Hercules adalah penerima penghargaan Bintang Seroja dari pemerintah, saat bergerilya di Timor Timur.
Di balik sosok dirinya yang sangar, ada sisi lain yang belum banyak diketahui orang. Dalam banyak peristiwa kebakaran, ternyata Hercules menyumbang berton-ton beras kepada para korban. Termasuk buku-buku tulis dan buku pelajaran bagi anak-anak korban kebakaran.
Begitu juga ketika terjadi bencana tsunami di beberapa wilayah, Hercules memberi sumbangan beras dan pakaian. Soal beras, memang tidak menjadi soal baginya karena Hercules memiliki tujuh hektar sawah di daerah Indramayu, Jawa Barat.
Bahkan ada juga bantuan bahan bangunan dan semen untuk pembangunan masjid-masjid. Sisi lain yang menarik dari Hercules adalah kepeduliannya pada pendidikan. “Saya memang tidak tamat SMA. Tapi saya menyadari pendidikan itu penting,” ujar ayah tiga anak ini yang menyekolahkan ketiga anaknya di sebuah sekolah internasional.
Mengenai pertobatannya, ia mengaku mulai ia lakukan sejak tahun 2006 lalu. Kini Hercules menapaki dunia bisnis di bidang perkapalan dan perikanan.
“Manusia hidup sementara. Mati akan dipanggil satu-satu, tinggal menunggu kematian. Sekarang, saya sadar, saya bertobat, masuk dunia bisnis dan membantu manusia yang membutuhkan,” kata Hercules.
Hercules juga membuat ormas yang disebutnya sebagai Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB). Dengan ormas ini Hercules berharap dapat membantu masyarakat lainya yang terkena musibah.
Soal kedekatan Hercules dengan Jenderal Prabowo Subianto. Hercules tak menampik hal itu. Namun, kedekatan dirinya dengan Prabowo mempunyai kedekatan emosional. Hal itu dikarenakan dirinya bersama Prabowo adalah alumni dari Timor Timur. Ditambahkan, beberapa orang yang terlibat semasa konflik di Tim-Tim juga diakui dekat dengan dia, “Jadi bukan hanya Prabowo saja. Tidak ada hubungannya dengan yang lain selain emosional,” terangnya.
Tak Pernah Membunuh
Diakui Hercules, dia beberapa kali berurusan dengan kepolisian. Meski pernah dipenjara beberapa waktu, Hercules mengakui hingga saat ini dirinya belum pernah sekali pun melakukan tindakan pembunuhan dan pemerasan.
Dalam kasus penyerangan ke kamar Jenazah RSCM, Hercules menyebutkan saat itu ditahan selama 60 hari dan pada kasus penyerangan kantor Indopos, dirinya ditahan selama 40 hari.
“Saya tidak pernah ditahan karena membunuh orang, memeras orang. Nama saya di kepolisian masih bersih. Mudah-mudahan tidak ada,” ucapnya.
Soal Premanisme
Dalam kasus premanisme, ia punya penilaian, banyaknya preman yang muncul dikarenakan masalah pendidikan dan tidak dimilikinya keterampilan untuk berkembang. Namun jika preman itu melakukan tindakan kekerasan maka adalah tanggung jawab kepolisian untuk menindaknya.
Biasanya preman ini berakhir bekerja sebagai debt collector atau penagih utang. Hercules pun juga mengakui dirinya pernah bekerja debt collector. ”Ya kalau tidak dibayar ya saya tagih,” katanya.(*)
-JHON KEI dan BASRI SANGAJI
Jhon Refra Kei atau yang biasa disebut Jhon Kei, 40, tokoh pemuda asal Maluku yang lekat dengan dunia kekerasan di Ibukota.
Usaha jasa penagihan utangnya semakin laris ketika kelompok penagih utang yang lain, yang ditengarai dipimpin oleh Basri Sangaji, tercerai berai lantaran sang pemimpin tewas terbunuh.
Para ’klien’ kelompok Basri Sangaji pun mengalihkan ordernya ke kelompok John Kei. Basri Sangaji dikenal sebagai tokoh pemuda yang juga asal Maluku Utara. Ia meninggal dalam suatu pembunuhan sadis di hotel Kebayoran Inn di Jakarta Selatan pada 12 Oktober 2004 lalu.
Kematian Basri Sangaji, santer dikaitkan dengan Jhon Kei yang sarat dengan motif bisnis dan dendam pribadi atas kematian kakak kandung Jhon Kei dalam bentrokan antara kedua kubu masing-masing.
Jhon Kei merupakan pimpinan dari sebuah himpunan para pemuda Ambon asal Pulau Kei di Maluku Tenggara usai pasca-kerusuhan di Tual, Pulau Kei pada Mei 2000 lalu. Nama organisasi Jhon Kei, Angkatan Muda Kei (AMKEI) dengan jumlah anggotanya mencapai belasan ribu.
Lewat organisasi itu, Jhon mulai mengelola bisnisnya sebagai debt collector alias penagih utang.
Pada Maret 2005 lalu, kelompoknya terlibat perang dengan kelompok lain yang diduga anak buah dari Basri Sangaji. Saat itu sidang pembacaan tuntutan terhadap terdakwa pembunuhan Basri Sangaji.
Namun, sebelum pembunuhan Basri Sangaji di sebuah hotel, bentrokan antara kelompok Basri dan kelompok Jhon Kei juga sempat meletus di sebuah Diskotik Stadium di kawasan Taman Sari Jakarta Barat pada 2 Maret 2004 lalu.
Saat itu kelompok Basri mendapat ‘order’ untuk menjaga diskotik itu. Namun mendadak diserbu puluhan anak buah Jhon Kei Dalam aksi penyerbuan itu, dua anak buah Basri yang menjadi petugas security di diskotik tersebut tewas dan belasan terluka.
Polisi bertindak cepat, beberapa pelaku pembunuhan ditangkap dan ditahan. Kasusnya disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Pada 8 Juni 2004, saat sidang mendengarkan saksi-saksi yang dihadiri puluhan anggota kelompok Basri dan Jhon Kei, kembali terjadi bentrokan.
Seorang anggota Jhon Kei yang bernama Walterus Refra Kei alias Semmy Kei terbunuh di ruang pengadilan PN Jakbar. Korban yang terbunuh itu justru kakak kandung Jhon Key. Kematian itu menimbulkan cerita yang berseliweran hingga berujung pada tewasnya Basri Sangaji.(*)
-BASRI SANGAJI
Nama lengkapnya Basri Jala Sangaji, 35 tahun, pemimpin sekelompok pemuda yang menguasai beberapa wilayah yang padat tempat hiburan di Jakarta. Dia adalah anak pertama dari mantan pejuang nasional, AM Sangaji.
Ia tewas ketika bersama bersama adiknya, Ali Sangaji, 30 tahun, dan orang kepercayaannya, Jamal Sangaji, 33 tahun. Dua orang ini terluka parah. Selangkangan Ali terluka akibat tembakan. Tangan kanan Jamal nyaris putus karena ditebas golok dalam insiden di Hotel Kebayoran Inn.
Jenazahnya kemudian dikirim ke Desa Rohomoni, Pulau Haruku, Maluku Tengah. Di kampung halamannya inilah dia dikebumikan.
Sebagian dari anak buah Basri adalah "pensiunan" konflik Maluku. Dengan modal massa itu, Basri juga menjejak kancah politik. Pada pemilihan presiden kemarin, ia termasuk tim sukses pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid.(*)
Kelompok Hercules, (Basri) Sangaji, dan John Kei, merupakan 3 'geng' Debt Collector (penagih utang) ibukota Jakarta yang biasanya melayani tagihan di atas Rp 500 juta.
Namun, jauh sebelum muncul dan merajalelanya ketiga kelompok itu, jasa penagihan utang terbesar dan paling disegani adalah kelompok pimpinan mantan gembong perampok Johny Sembiring.
Kelompok Johny Sembiring bubar saat Johny Sembiring dibunuh sekelompok orang di persimpangan Matraman Jakarta Timur tahun 1996 lalu.
Namun, yang paling populer namanya dalam satu dasawarsa ini mungkin adalah Hercules, Basri Sangaji, hingga John Kei. Berikut beberapa profil dan kisah singkat para 'pahlawan' dunia hitam di Jakarta itu:
-HERCULES
Bernama lengkap Hercules Rosario Marshal. Ia seorang pejuang yang pro terhadap NKRI ketika terjadi ketegangan Timor-timur sebelum akhirnya merdeka pada tahun 1999. Sosoknya yang berkarisma hingga Hercules dipercaya pasukan TNI, di konflik Timor-timur kala itu, memegang logistik oleh KOPASUS dalam operasi di Tim-tim.
Dalam operasi di Tim-tim itu, Hercules tertimpa nasib yang kurang beruntung hingga berakibat pada kondisi fisik dan penampilannya. Mata kanannya cacat dan begitu juga tangan kanannya, hilang hingga siku. Musibah yang dialaminya di Tim-tim kala membuatnya harus dirawat intensif di RSPAD Jakarta hingga pulih.
Saat pulih, petualangannya di ibukota Jakarta pun dimulai. Pengakuan Hercules, dirinya masuk ke Jakarta sekitar tahun 1987. Awalnya Hercules berkecimpung di Hankam Seroja yang menampung dan memberdayakan penyandang cacat seperti dirinya yang mendapat luka cacat dalam Operasi Seroja di Timor-timur.
Di Hankam Seroja, ia mendapatkan pelatihan keterampilan. “Saat itu saya sudah main ke Tanah Abang dan setelah selesai di Hankam, saya ke Tanah Abang lagi. Saya merebut daerah hitam dan di situ pertarungan sengit. Hampir tiap malam ada orang mati,” kata Hercules.
Bersama teman-temannya dari Timor Timur, Hercules mulai membangun daerah kekuasannya di Tanah Abang. Dari kelompok kecil, hingga Hercules membawahi sekitar 17.000 orang ‘pasukannya’ yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta.
Dan dari situlah perjalanan hidupnya menjadi Hercules yang di kenal sampai sekarang, ia jalani. Hidup di Jakarta tepatnya di daerah Tanah Abang yang terkenal dengan daerah ‘Lembah Hitam’, seperti diungkapkan Hercules daerah itu disebutnya sebagai daerah yang tak bertuan, bahkan setiap malamnya kerap terjadi pembacokan dan perkelahian antar preman.
Hampir setiap malam pertarungan demi pertarungan harus dia hadapi. “Waktu itu saya masih tidur di kolong-kolong jembatan. Tidur ngak bisa tenang. Pedang selalu menempel di badan. Mandi juga selalu bawa pedang. Sebab setiap saat musuh bisa menyerang,” ungkapnya
Rasanya tidak percaya Hercules menjadi sosok preman yang paling ditakuti, setidaknya di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta. Tubuhnya tidak begitu tinggi. Badannya kurus. Hanya tangan kirinya yang berfungsi dengan baik. Sedangkan tangan kananya sebatas siku menggunakan tangan palsu. Sementara bola mata kanannya sudah digantikan dengan bola mata buatan.
Tapi setiap kali nama Hercules disebut, yang terbayang adalah kengerian. Banyak sudah cerita tentang sepak terjang Hercules dan kelompoknya. Sebut saja kasus penyerbuan Harian Indopos gara-gara Hercules merasa pemberitaan di suratkabar itu merugikan dia. Juga tentang pendudukan tanah di beberapa kawasan Jakarta yang menyebabkan terjadi bentrokan antar-preman.
Belum lagi sejumlah tawuran antar-geng yang merenggut korban jiwa atau luka-luka. Sejak pertengahan 80-an kelompok Hercules malang melintang di kawasan perdagangan Tanah Abang. Tak heran jika bagi warga Jakarta dan sekitarnya, nama Hercules identik dengan Tanah Abang.
Banyak cerita dari pria yang bernama lengkap Hercules Rozario Marshal ini. Mulai sepak terjangnya ketika memulai menjadi preman di Jakarta, isu kedekatannya dengan Prabowo Subianto, hingga pengakuannya yang kini belum pernah membunuh orang dan soal mitos yang menyebut dirinya kebal peluru.
Meski tubuhnya kecil, nyali pemuda kelahiran Timtim (kini Timor Leste) 45 tahun lalu ini diakui sangat besar. Dalam tawuran antar-kelompok Hercules sering memimpin langsung. Konon cerita, pernah suatu kali dia dijebak dan dibacok 16 bacokan hingga harus masuk ICU, tapi ternyata tak kunjung tewas.
Bahkan dalam suatu perkelahian, sebuah peluru menembus matanya hingga ke bagian belakang kepala tapi tak juga membuat nyawa pemuda berambut keriting ini tamat. Ada isu dia memang punya ilmu kebal yang diperolehnya dari seorang pendekar di Badui Dalam.
Pada suatu kesempatan ada yang mencoba menanyakan salah satu mitos yang beredar di kalangan masyarakat adalah apakah Hercules kebal peluru? Dengan tersenyum Hercules, membantah hal itu. “Kita tidak kebal peluru. Kita selalu selamat karena berbuat amal, membantu anak yatim piatu. Doa mereka yang selalu membuat saya selamat,” uangkapnya.
Bantuan Sosial
Namun kini, Hercules tak seperti dulu lagi. Di balik cerita-cerita seram mengenai dirinya, jarang yang mengetahui bahwa ternyata Hercules adalah penerima penghargaan Bintang Seroja dari pemerintah, saat bergerilya di Timor Timur.
Di balik sosok dirinya yang sangar, ada sisi lain yang belum banyak diketahui orang. Dalam banyak peristiwa kebakaran, ternyata Hercules menyumbang berton-ton beras kepada para korban. Termasuk buku-buku tulis dan buku pelajaran bagi anak-anak korban kebakaran.
Begitu juga ketika terjadi bencana tsunami di beberapa wilayah, Hercules memberi sumbangan beras dan pakaian. Soal beras, memang tidak menjadi soal baginya karena Hercules memiliki tujuh hektar sawah di daerah Indramayu, Jawa Barat.
Bahkan ada juga bantuan bahan bangunan dan semen untuk pembangunan masjid-masjid. Sisi lain yang menarik dari Hercules adalah kepeduliannya pada pendidikan. “Saya memang tidak tamat SMA. Tapi saya menyadari pendidikan itu penting,” ujar ayah tiga anak ini yang menyekolahkan ketiga anaknya di sebuah sekolah internasional.
Mengenai pertobatannya, ia mengaku mulai ia lakukan sejak tahun 2006 lalu. Kini Hercules menapaki dunia bisnis di bidang perkapalan dan perikanan.
“Manusia hidup sementara. Mati akan dipanggil satu-satu, tinggal menunggu kematian. Sekarang, saya sadar, saya bertobat, masuk dunia bisnis dan membantu manusia yang membutuhkan,” kata Hercules.
Hercules juga membuat ormas yang disebutnya sebagai Gerakan Rakyat Indonesia Baru (GRIB). Dengan ormas ini Hercules berharap dapat membantu masyarakat lainya yang terkena musibah.
Soal kedekatan Hercules dengan Jenderal Prabowo Subianto. Hercules tak menampik hal itu. Namun, kedekatan dirinya dengan Prabowo mempunyai kedekatan emosional. Hal itu dikarenakan dirinya bersama Prabowo adalah alumni dari Timor Timur. Ditambahkan, beberapa orang yang terlibat semasa konflik di Tim-Tim juga diakui dekat dengan dia, “Jadi bukan hanya Prabowo saja. Tidak ada hubungannya dengan yang lain selain emosional,” terangnya.
Tak Pernah Membunuh
Diakui Hercules, dia beberapa kali berurusan dengan kepolisian. Meski pernah dipenjara beberapa waktu, Hercules mengakui hingga saat ini dirinya belum pernah sekali pun melakukan tindakan pembunuhan dan pemerasan.
Dalam kasus penyerangan ke kamar Jenazah RSCM, Hercules menyebutkan saat itu ditahan selama 60 hari dan pada kasus penyerangan kantor Indopos, dirinya ditahan selama 40 hari.
“Saya tidak pernah ditahan karena membunuh orang, memeras orang. Nama saya di kepolisian masih bersih. Mudah-mudahan tidak ada,” ucapnya.
Soal Premanisme
Dalam kasus premanisme, ia punya penilaian, banyaknya preman yang muncul dikarenakan masalah pendidikan dan tidak dimilikinya keterampilan untuk berkembang. Namun jika preman itu melakukan tindakan kekerasan maka adalah tanggung jawab kepolisian untuk menindaknya.
Biasanya preman ini berakhir bekerja sebagai debt collector atau penagih utang. Hercules pun juga mengakui dirinya pernah bekerja debt collector. ”Ya kalau tidak dibayar ya saya tagih,” katanya.(*)
-JHON KEI dan BASRI SANGAJI
Jhon Refra Kei atau yang biasa disebut Jhon Kei, 40, tokoh pemuda asal Maluku yang lekat dengan dunia kekerasan di Ibukota.
Usaha jasa penagihan utangnya semakin laris ketika kelompok penagih utang yang lain, yang ditengarai dipimpin oleh Basri Sangaji, tercerai berai lantaran sang pemimpin tewas terbunuh.
Para ’klien’ kelompok Basri Sangaji pun mengalihkan ordernya ke kelompok John Kei. Basri Sangaji dikenal sebagai tokoh pemuda yang juga asal Maluku Utara. Ia meninggal dalam suatu pembunuhan sadis di hotel Kebayoran Inn di Jakarta Selatan pada 12 Oktober 2004 lalu.
Kematian Basri Sangaji, santer dikaitkan dengan Jhon Kei yang sarat dengan motif bisnis dan dendam pribadi atas kematian kakak kandung Jhon Kei dalam bentrokan antara kedua kubu masing-masing.
Jhon Kei merupakan pimpinan dari sebuah himpunan para pemuda Ambon asal Pulau Kei di Maluku Tenggara usai pasca-kerusuhan di Tual, Pulau Kei pada Mei 2000 lalu. Nama organisasi Jhon Kei, Angkatan Muda Kei (AMKEI) dengan jumlah anggotanya mencapai belasan ribu.
Lewat organisasi itu, Jhon mulai mengelola bisnisnya sebagai debt collector alias penagih utang.
Pada Maret 2005 lalu, kelompoknya terlibat perang dengan kelompok lain yang diduga anak buah dari Basri Sangaji. Saat itu sidang pembacaan tuntutan terhadap terdakwa pembunuhan Basri Sangaji.
Namun, sebelum pembunuhan Basri Sangaji di sebuah hotel, bentrokan antara kelompok Basri dan kelompok Jhon Kei juga sempat meletus di sebuah Diskotik Stadium di kawasan Taman Sari Jakarta Barat pada 2 Maret 2004 lalu.
Saat itu kelompok Basri mendapat ‘order’ untuk menjaga diskotik itu. Namun mendadak diserbu puluhan anak buah Jhon Kei Dalam aksi penyerbuan itu, dua anak buah Basri yang menjadi petugas security di diskotik tersebut tewas dan belasan terluka.
Polisi bertindak cepat, beberapa pelaku pembunuhan ditangkap dan ditahan. Kasusnya disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Pada 8 Juni 2004, saat sidang mendengarkan saksi-saksi yang dihadiri puluhan anggota kelompok Basri dan Jhon Kei, kembali terjadi bentrokan.
Seorang anggota Jhon Kei yang bernama Walterus Refra Kei alias Semmy Kei terbunuh di ruang pengadilan PN Jakbar. Korban yang terbunuh itu justru kakak kandung Jhon Key. Kematian itu menimbulkan cerita yang berseliweran hingga berujung pada tewasnya Basri Sangaji.(*)
-BASRI SANGAJI
Nama lengkapnya Basri Jala Sangaji, 35 tahun, pemimpin sekelompok pemuda yang menguasai beberapa wilayah yang padat tempat hiburan di Jakarta. Dia adalah anak pertama dari mantan pejuang nasional, AM Sangaji.
Ia tewas ketika bersama bersama adiknya, Ali Sangaji, 30 tahun, dan orang kepercayaannya, Jamal Sangaji, 33 tahun. Dua orang ini terluka parah. Selangkangan Ali terluka akibat tembakan. Tangan kanan Jamal nyaris putus karena ditebas golok dalam insiden di Hotel Kebayoran Inn.
Jenazahnya kemudian dikirim ke Desa Rohomoni, Pulau Haruku, Maluku Tengah. Di kampung halamannya inilah dia dikebumikan.
Sebagian dari anak buah Basri adalah "pensiunan" konflik Maluku. Dengan modal massa itu, Basri juga menjejak kancah politik. Pada pemilihan presiden kemarin, ia termasuk tim sukses pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid.(*)
sumber: www.ceritamu.com/bangkas.uc/situs dan blog lainnya
Tribun Timur - Selasa, 6 Maret 2012 10:20 WIT
Penulis : Ridwan Putra
Editor : Ridwan Putra


