Sabtu, 16 Februari 2013

Pelempar Bom 5 Gereja di Makassar Diduga Satu Kelompok


JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian masih menyelidiki kasus pelemparan bom molotov terhadap lima gereja di Makassar. Pelaku pelemparan diduga sama atau satu kelompok. Hal ini terlihat dari kemiripan bom yang dilempar dan ciri-ciri pelaku.Pelempar Bom 5 Gereja di Makassar Diduga Satu Kelompok
"Dari hasil analisis, ada kemiripan. Bahan peledak yang digunakan dari setiap peristiwa sama. Tiga tempat terakhir, ada penggunaan botol mineral dan bensin. Ciri-ciri pelaku juga menggunakan sepeda motor jenis matic serta pelaku menggunakan helm," terang Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (15/2/2013).
Saat ini, kepolisian masih melakukan pemeriksaan terhadap tujuh orang saksi. Kepolisian juga masih mengupayakan penyelidikan dari rekaman CCTV. Kepolisian belum dapat memastikan apakah pelaku tergabung dalam jaringan teroris Poso. Aksi teror pun menggunakan bom molotov, bukan bom rakitan yang biasa digunakan kelompok teror. Boy meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi atas serangan bom molotov tersebut.
"Masyarakat harap tenang dan memberikan kepercayaan kepada petugas untuk mengusut secara tuntas pelakunya dan kepada pelaku agar menghentikan tindakan provokatif yang merugikan persatuan dan kesatuan," ucapnya.
Sebelumnya, dalam waktu yang berbeda, terjadi aksi pelemparan bom molotov terhadap lima gereja di Makassar. Pertama, dua gereja di Kota Makassar dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal, Minggu (10/2/2013). Kedua gereja tersebut adalah Gereja Tiatira Malengkeri di Jalan Muhajirin Raya Lorong 2 No 2, Kecamatan Tamalate, dan Gereja Jemaat Jordan Toraja Mamasa di Jalan Dirgantara no 3A, Kecamatan Panakukang, Makassar. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Tiga gereja kembali dilempari bom molotov, Kamis (14/2/2013). Ketiga gereja itu adalah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sulsel di Jalan Samiun, Kecamatan Ujungpandang, Gereja Toraja di Jalan Gatot Subroto No 26, Kecamatan Tallo, dan Gereja Toraja Klasis di Jalan Pettarani 2, Kecamatan Panakukang. Pelemparan dilakukan dalam waktu yang berdekatan. Api cepat dipadamkan di gereja tersebut sehingga tidak ada korban jiwa maupun luka.
Editor :
Hindra

»»   Selengkapnya...

Jumat, 15 Februari 2013

BIN Turut Selidiki Insiden Bom Molotov di 3 Gereja Makassar


"Apa ini untuk buat suasana di Makassar jadi keruh?" kata Kepala BIN

VIVAnews - Badan Intelijen Negara (BIN) mengaku masih mendalami kasus pelemparan bom molotov atas tiga gereja di Makassar Kamis dini hari tadi, 14 Februari 2013. Dugaan sementara, insiden itu untuk memprovokasi konflik horisontal di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan itu. Kepala BIN Marciano Norman di Istana Negara, Jakarta.

Kepala BIN, Letnan Jenderal TNI Marciano Norman, mengatakan pihaknya masih mempelajari apakah insiden tersebut ada upaya untuk membuat ketidakstabilan di Makassar. Sebab, polanya sudah terjadi sebanyak lima kali.

"Sedang diselidiki, apakah ini ada kaitannya untuk membuat suasana di Makassar menjadi keruh. Khususnya, kalau sudah mengarah pada rumah ibadah," jelas Norman di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis 14 Febuari 2013.

Melihat objek sasaran, Norman menduga yang menjadi target teror ini yaitu supaya terjadi konflik antarumat beragama di Ibukota Sulawesi Selatan ini.

Untuk itu, ia berpesan kepada masyarakat Makassar agar tidak reaktif karena malah akan menimbulkan benturan di kalangan masyarakat sendiri. Norman meminta masyarakat tetap tenang dan menyerahkan kasus ini kepada aparat keamanan untuk mengembalikan situasi Makassar seperti semula dan mengejar pelaku. "Pancingan seperti ini jangan direspon oleh masyarakat secara negatif," tambahnya.

Soal pengamananan pascapelemparan bom tersebut, Norman menyebutkan bahwa semua unsur di Makassar saat ini sedang meningkatkan pengamanan untuk meyakinkan kepada masyarakat agar peristiwa sejenis tidak terjadi lagi.

Kepolisian juga sudah sigap dengan melakukan langkah pencegahan. "Tentunya langkah-langkah preventif tetap dilakuan. Masyarakat ikut meningkakan keamanan lingkungan, gereja-gereja terus dijaga," kata Kapolri, Jenderal Timur Pradopo di Istana Negara. (ren)
»»   Selengkapnya...

Kamis, 14 Februari 2013

Pemuda Lintas Agama Kecam Pelemparan Bom Molotov 2 Gereja Makassar


Minggu dini hari, (10/2) dua gereja di Makassar mengalami pelemparan bom molotov. Kedua gereja tersebut adalah Gereja Toraja - Mamasa (GTM) Jemaat Jordan yang berada di jalan Dirgantara IX dan Gereja Toraja Klasis Makassar Jemaat Tiatira Malengkeri di jalan Masjid Nurul Muhajirin. Apa yang terjadi atas dua gereja tersebut dikecam oleh pemuda lintas agama. Pemuda Lintas Agama Kecam Pelemparan Bom Molotov  2 Gereja Makassar


"Kami menilai ada pergeseran nilai pluralisme di Sulsel dengan kejadian ini," demikian ungkap Vincent, Aktivis Solidaritas Pemuda Islam untuk Kerukunan Umat Beragama Makassar. 
Menurut Vincent, perusakan atas rumah ibadah ini harus diusut oleh pihak kepolisian secepatnya, karena tindakan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab ini telah menciderai keharmonisan umat beragama. Ia pun meminta agar semua umat beragama jangan terprovokasi oleh apa yang terjadi ini. 
Saat ini polisi masih menyelidiki kasus pelemparan bom molotov yang menyebabkan pintu utama dan papan nama gereja terbakar itu. Menurut keterangan pihak Kepolisian Sektor Panakukang, Makassar pelaku diketahui ada tiga orang dengan mengenderai dua speda motor. 
Kesatuan dan kerukunan adalah sebuah aset sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara dapat berjalan dengan baik. Sayangnya ada saja pihak-pihak yang ingin mencoba menghancurkan hal ini, untuk itu tindakan-tindakan provokasi seperti pelemparan bom motolov ini harus disikapi dengan bijaksana.

posting :jawabaNews
»»   Selengkapnya...

Kecewa dengan pelayanan, Warga Segel Puskesmas di Toraja Utara

TCN,tanahpapua.com --Warga yang kecewa pelayanan puskesmas menyusul meninggalnya pasien diare,
melakukan aksi penyegelan di Puskesmas Pangala, Toraja Utara sekitar pukul 21.00 Wita, Jumat
(11/2. Pihak puskesmas dituding telah lalai menangani pasien. Monalisa (5),putri pertama
pasangan Yulius Pongtanan dan Yuliarti menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan
menuju ke rumah sakit, Jumat (11/2). Sebelumnya, korban tidak mendapat perawatan maksimal
di Puskesmas Pangala, yang berlokasi di kecamatan Rindingallo itu.
Menurut keterangan yang dihimpun Kareba di rumah duka, Minggu (13/2), awalnya keluarga
membawa Monalisa yang menderita penyakit diare ke Puskesmas Pangala sekitar pukul 09.00
Wita, Jumat (11/2). Sesampainya di Puskesmas, korban sempat diperiksa oleh dokter Kristina
Natalia. Dokter Kristina sendiri adalah dokter dengan status pegawai tidak tetap (PTT) karena
tidak ada dokter tetap di Puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap tersebut.
Namun menurut Simon S. Tambing, salah satu keluarga korban, saat tiba di Puskesmas, korban
tidak mendapat perawatan maksimal. Sebab, meski kondisi korban sudah lemas akibat dehidrasi,
namun petugas Puskesmas tidak memberi obat pengganti cairan tubuh (infus) maupun
pertolongan pertama lainnya.
”Ada memang botol infus tergantung, tetapi katanya tidak ada jarumnya sehingga itu botol hanya
tergantung saja di situ tetapi tidak bisa masuk ke tubuh anak kami,” tegas Simon.
Selain tidak diberi infus, korban juga terkesan dibiarkan begitu saja tanpa perhatian dari dokter
maupun paramedis. Setelah beberapa jam di Puskesmas baru diberi rujukan ke rumah sakit di
Rantepao. ”Pada hal kondisi anak kami sudah sangat gawat,” sesal Simon.
Setelah diberi rujukan, kendala lain menghampiri. Mobil Puskesmas yang seharusnya standby
untuk kondisi darurat seperti itu, tidak berada di tempat. Kendaraan operasional satu-satunya
milik Puskesmas Rawat Inap Pangala itu, sedang berada di Rantepao, ibukota kabupaten Toraja
Utara, yang berjarak kurang lebih 40 kilometer.
”Itu yang keluarga sangat sesalkan, kenapa itu mobil dibawa kemana-mana, padahal dia harus
selalu siap di tempat ketika ada kondisi gawat seperti ini,” tandas Simon.
Karena mobil Puskesmas tidak ada, keluarga pun berusaha mencari mobil penumpang atau mobil
pribadi untuk disewa menuju ke Rantepao. Namun kondisi di Pangala tidak sama dengan daerah
perkotaan, kendaraan sangat sulit diperoleh di tempat itu. Sekitar pukul 14.30 Wita keluarga baru
mendapat mobil carteran. Korbanpun dibawa ke Rantepao. Korban hanya pergi sendiri dengan
keluarga, tanpa didampingi petugas medis dari Puskesmas Pangala. Namun nasib berkata lain,
sekitar sepuluh kilometer dari kota Rantepao, tepatnya di daerah Kalan, lembang Sikuku,
kecamatan Kapala Pitu, korban menghembuskan nafas terakhir.
Karena sudah tidak bernafas dan tidak memiliki tanda-tanda kehidupan, keluarga pun membawa
pulang korban ke rumah duka di kelurahan Pangala, kecamatan Rindingallo. Sesampai di rumah
duka, isak tangis keluarga tak terbendung. Selain merasa kehilangan, keluarga pun sangat
kecewa dengan perlakuan dan pelayanan dari petugas medis di Puskesmas Pangala.
Segel Puskesmas
Kecewa dan marah yang tak terbendung membuat keluarga dan warga sekitar melakukan aksi
penyegelan di Puskesmas Pangala, sekitar pukul 21.00 Wita, Jumat (11/2) . Hampir semua
ruangan di Puskesmas, mulai dari pintu masuk, kantor, poliklinik, unit gawat darurat (UGD),
hingga ruang perawatan pasien, disegel. Semua pintu dan jendela Puskesmas dipaku. Sedangkan
pintu masuk Puskesmas dipalang menggunakan dua buah bangku panjang.
”Kami tidak akan membuka segel itu sampai ada penjelasan resmi dari pihak Puskesmas dan
jalan keluar dari pemerintah, baik kabupaten maupun kecamatan,” tegas Simon Tambing.
Menurut Simon, aksi penyegelan ini merupakan puncak kekecewaan keluarga dan warga Pangala
atas pelayanan kesehatan yang diberikan Puskesmas yang didirikan sejak tahun 1974 itu.
Sebelum peristiwa yang dialami oleh korban Monalisa, jelas Simon, kejadian yang sama juga
menimpa beberapa warga lain. Secara umum, kata Simon, pelayanan kesehatan di Puskesmas
Pangala sangat mengecewakan.
”Ini bukan kejadian yang pertama. Itu hari, puskesmas ini juga pernah didemo, tetapi tidak
digubris oleh pemerintah kabupaten. Ini puncak dari kekecewaan masyarakat,” tandas Simon.
Hingga hari Minggu kemarin, Puskesmas Pangala masih disegel. Petugas puskesmas mengaku
tidak berani membuka segel yang dipasang warga. ”Kami hanya minta ijin satu ruangan dibuka
karena ada pasien yang sedang dirawat. Itu sudah diberi ijin oleh keluarga dan warga,” ujar
seorang petugas Puskesmas yang tidak mau ditulis namanya.
Sementara itu, kepala Puskesmas Pangala, TS Monto, menjelaskan pihaknya sudah berupaya
memberikan pelayanan yang baik kepada korban. Tindakan darurat juga sudah dilakukan.
Namun karena kondisi korban (dehidrasi) sudah cukup parah sehingga pemasukan jarum suntik
infus harus dilakukan oleh dokter ahli, sementara dokter di Puskesmas Pangala hanya dokter
umum.
”Kami sama sekali tidak bermaksud menterlantarkan pasien, kami sudah lakukan semua upaya
yang kami bisa lakukan,” jelas Monto.
Monto mengakui pada Jumat lalu, kendaraan operasional Puskesmas memang tidak berada di
tempat. Hal itu, katanya, bukanlah sebuah hal yang disengaja. Namun mobil itu sedang
melakukan tugas dinas ke Rantepao. Saat pasien tiba di Puskesmas, mobil itu sudah berangkat
sekitar satu jam yang lalu menuju ke Rantepao.
”Mobil ke Rantepao mengambil kelambu untuk pencegahan malaria dan biskuit (makanan
pendukung ASI) di Dinas Kesehatan. Bukan untuk kepentingan pribadi,” urai Monto, sambil
mengucapkan permintaan maaf dan turut berduka cita kepada keluarga korban.
»»   Selengkapnya...

Gubernur SuLSel Tinjau Gereja Dilempari Bom Molotov

Gubernur sulawesi selatan Syahrul yasin limpo senin petang meninjau gereja toraja mamasa jalan dirgantara Makassar pasca pelemparan bom molotov oleh orang tak dikenal. Gubernur menyerahkan sepenuhnya insiden pelemparan bom gereja ini pada proses hukum dan berharap kejadian ini tidak didramatisir.
Gereja toraja mamasa yang terletak di jalan dirgantara Makassar ini dilempari bom molotov pada minggu dini hari lalu oleh sekelompok orang tak dikenal. Meski tidak ada kerusakan parah pasca dilempari bom namun nampak tersisa di dinding gereja ini bekas hitam lemparan bom.

Gubernur sulawesi selatan Syahrul yasin limpo meninjau langsung ke gereja ini senin petang.
Gubernur SuLSel Syahrul yasin limpo berharap kasus ini tidak terlalu di dramatisir dan menyerahkan sepenuhnya hasil penyilidikan ke pihak kepolisian.

Gubenur sulawesi selatan Syahrul yasin limpo mengatakan:
( saya pikir tidak perlu didramastisir …serahkan kepihak keamanan… secara intensif kita berharap dapat diselesaikan secepatnya…dan umat dapat menjalankan ibadahnya kembali.)

Gubernur SuLSel juga meminta masyarakat untuk tetap tenang dan meminta aparat kepolisian segera mengusut tuntas pelaku teror bom gereja. And-ari.
 posting  makassar TV
»»   Selengkapnya...

Selasa, 12 Februari 2013

Nenek 105 Tahun Babak Belur Dipukul Perampok


Nenek 105 Tahun Babak Belur Dipukul PerampokTNO-TANA TORAJA -- Seorang nenek berusia 105 tahun bernama Sattu dan kerabatnya, Immar (17), terluka akibat dipukul perampok yang menyatroni rumah mereka di Kampung Buntu, Kelurahan Benteng Ambeso, Kecamatan Gandasil, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan.  


Pelaku yang diduga berjumlah dua orang menyatroni rumah korban pada hari Minggu (10/2/2013) sekitar pukul 03.30 Wita kemarin. Saat kejadian, pemilik rumah, Sattu yang akrab dipanggil Ne'Gopir dan seorang keluarganya bernama Immar sedang tertidur lelap. Salah satu pelaku masuk ke rumah melalui pintu belakang.
Pelaku kemudian langsung menuju kamar tidur korban Immar. Karena ketahuan, pelaku langsung meninju bagian wajah korban Immar. Akibatnya, pelipis korban luka parah akibat terkena tinju pelaku.  
Sementara pelaku lainnya juga langsung masuk ke rumah dan menuju kamar tidur Ne'Gopir. Di dalam kamar, pelaku pun memukul Ne'Gopir yang menyebabkan korban mengalami luka di bagian wajah. Akibat dianiaya pelaku, salah satu korban berteriak dan didengar salah salah seorang tetangga, dan langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP).
Akan tetapi, setibanya di rumah korban, tetangga yang hendak melolong, dikejar parang oleh para pelaku. Pelaku pun kabur sebelum masyarakat berdatangan.
Kapolsek Mengkendek, AKP Mathius Tappi menyatakan, dari hasil penyelidikan sementara, pelaku percobaan perampokan yang berjumlah lebih dari satu orang sudah mengetahui keadaan rumah korban. 
"Dari olah TKP, pelaku sudah biasa keluar masuk rumah korban. Pelaku tidak berhasil mengambil barang yang ada di dalam rumah karena keburu aksinya ketahuan," ujar Mathius, Senin (11/2/2013).


posting :KOMPAS.com
Editor :
Farid Assifa

»»   Selengkapnya...

Minggu, 10 Februari 2013

Abraham: Pimpinan KPK Sepakati Anas Tersangka


TNO- Jakarta - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Abraham Samad, menegaskan seluruh pimpinan lembaga antirasuah telah sepakat untuk menetapkan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, sebagai tersangka. Namun, surat perintah penyidikan kasus suap Gedung Olahraga di Bukit Hambalang, Sentul, Bogor, masih belum diteken, walau sudah disiapkan.


"Sudah sepakat, tetapi kan harus ditandatangan semua (pimpinan KPK)," ujar Abraham seusai melantik Direktur Penuntutan KPK, Ranu Mihardja, dan Sekretaris Jenderal KPK, Anis Zaid Basalama, di kantornya, Jumat, 8 Februari 2013.
Tanpa pacaran, Abraham Samad langsung nikahi IndrianaAbraham mengatakan KPK belum meneken surat itu lantaran tiga dari pimpinannya masih bertugas di luar daerah, yakni Bambang Widjojanto, Busyro Muqoddas, dan Adnan Pandu Praja. Adnan mengaku akan mengikuti sebuah penandatanganan nota kesepahaman di Selandia Baru pada pekan depan.  "Tapi mudah-mudahan dalam satu atau dua (hari), tapi kita liat saja lah nanti lah," ujar dia tak melanjutkan kalimatnya.
Beredar kabar Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Anas Urbaningrum sebagai tersangka kasus suap proyek Gedung Olahraga di Bukit Hambalang, Sentul, Bogor. Dari hasil ekspose KPK, Kamis malam, 7 Februari 2013, sumber Tempo menyebutkan KPK meyakini Anas menerima suap berupa duit yang kemudian dibelikan mobil Toyota Harrier pada 2010.
Menurut sumber Tempo, Anas diduga melanggar pasal suap karena menerima hadiah selaku penyelenggara negara. Pada saat penerimaan tersebut, Anas menjabat sebagai Ketua Fraksi Demokrat di DPR. "Dia diduga melanggar Pasal 12 a dan b atau Pasal 11 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi," ujar sumber yang sempat membacakan surat perintah penyidikan Anas.
Abraham menegaskan tidak ada perbedaan pendapat maupun perpecahan dari para pimpinan KPK dalam menentukan status hukum Anas. Hanya saja, "Ada hal-hal yang mungkin perlu disinergikan," ujar dia. "Ini tidak mungkin diungkapkan ke hadapan publik."
Saat ditanyai sejauh mana bukti dugaan gratifikasi berupa mobil Anas, Abraham belum bersedia memberikan penjelasan. "Tunggu saja nanti karena kalau disampaikan sepotong-sepotong nanti jadi tidak utuh."
TRI SUHARMAN
posting :TEMPO.CO

posting : 
»»   Selengkapnya...

Sabtu, 09 Februari 2013

Ini 3 Titah Anas Setelah SBY Ambil Alih Kewenangannya

TNO-Jakarta - - Kewenangan teknis Anas Urbaningrum selaku Ketum DPP Partai Demokrat telah diambil alih oleh Ketua Majelis Tinggi PD, Susilo B. Yudhoyono. Tidak lama setelah pengambilan alihan tersebut, Anas menyampaikan tiga perintah kepada jajaran DPP PD. Apa saja titah dari Anas?

Menurut salah satu Sekretaris Departemen PD yang hadir dalam pertemuan di rumah Anas di Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Jumat (8/2/2013) tengah malam, Anas menegaskan sikap SBY mengambil kendali PD dari tangannya. Namun demikian Anas tetap menjabat sebagai Ketua Umum PD sah yang terpilih secara sah melalui Kongres dan karenanya berhak mengambil keputusan penting di PD.

"Pertama, ketum tidak ingin ada statement menyerang dari para kader di semua tingkatan. Kedua keputusan Kongres yang menghasilkan Ketua Umum, program kerja dan AD/ART adalah keputusan tertinggi yang hanya bisa dibatalkan melalui kongres atau KLB. Ketiga ketum tetap menjalankan tugas-tugas seperti biasa dalam menjalankan amanat Kongres," kata sumber tersebut.

Karena itu, Anas pun tetap menjalankan tugas seperti biasa pada hari ini. Anas sebagai Ketum PD merasa memiliki kewenangna untuk melantik seluruh DPC Propinsi Banten di Pandeglang.

"DPD dan DPC yang belum melakukan Musda dan Muscab lakukan sebagaimana biasa sesuai AD/ART. Demikian seruan dan titah ketum tepat pukul 12.23 WIB bertempat di Duren Sawit," tegasnya.

Di dalam pertemuan dengan seluruh anggota Majelis Tinggi PD di Cikeas, Jumat (8/2/2013), SBY menegaskan langkah mengambil alih roda organisasi untuk menyelamatkan partai. Dan SBY sebagai Ketua Majelis Tinggi akan menjadi komandonya.

"Ketua Majelis Tinggi bertugas berwenang dan bertanggungjawab untuk memimpin penyelamatan dan konsolidasi partai," kata SBY di kediaman pribadinya di Cikeas, Jawa Barat, Jumat (8/2/2013).

Menurut SBY, segala keputusan kebijakan dan tindakan partai akan ditentukan dan dikendalikan langsung oleh Majelis Tinggi. Dan SBY akan mengeluarkan langsung keputusan-keputusan penting partai. Fraksi di DPR, DPD dan DPC di seluruh Indonesia juga akan di bawah komando Majelis Tinggi. Dan mereka juga akan bertanggungjawab langsung kepada Majelis Tinggi.

Anas diminta fokus terhadap kasus hukum yang dihadapinya. Sementara penyelamatan PD oleh Majelis Tinggi akan selesai setelah PD bebas dari prahara.

(van/lh)

posting : detikNews


»»   Selengkapnya...

Soal Pidato SBY, Pengamat: Anas Dibonsai Secara Politik

Jakarta - - Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, mengambil alih seluruh kendali partai dari tangan Anas Urbaningrum. Meski masih menjabat sebagai ketua umum, secara kewenangan Anas sudah dibonsai.

"Secara keseluruhan komentar SBY menunjukan startegi pembonsaian politik. Dibiarkan hidup tapi tumbuh berdasarkan kehendak si empunya," jelas pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Gun Gun Heryanto saat berbincang, Sabtu (9/2/2013).

Gun Gun menilai, SBY memang tidak mengutak-atik jabatan Anas dari Ketua Umum. Namun Anas tidak lagi memiliki kewenangan.

"Menjadi ketua umum secara de jure, tapi secara de facto tidak punya kewenangan lagi," lanjut Gun Gun.

SBY sendiri tidak bakal berani melengserkan Anas dari kursi ketua umum. Pasalnya belum ada aturan hingga saat ini yang dilanggar oleh Anas.

"Statusnya dia kan di KPK saat ini masih saksi," tegasnya.

(mok/mok)

posting :detikNews
Moksa Hutasoit - detikNews
»»   Selengkapnya...

Jumat, 08 Februari 2013

Ditinggal Pengawal ke Toilet, Terdakwa Kasus Penipuan Rp 6,5 Miliar Kabur



TNO-Jakarta - - Sepak terjang terdakwa kasus penipuan sebesar Rp 6,5 miliar, Henry Daniel, licin bagai belut. Menjelang sidang vonis, Henry, malah kabur saat ditinggal pengawal dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan pergi ke kamar kecil.

Henry kabur saat menjelang sidang vonis yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan pada Kamis 10 Januari 2013 lalu.

Jaksa Agung Muda Pengawasan Marwan Effendy menceritakan lolosnya Henry. Ia mengatakan Henry awalnya akan menjalani sidang vonis pada pagi hari. Namun gara-gara mobil tahanan penuh, Henry naik mobil pribadi yang tidak berjeruji dan tanpa pengawalan dari aparat Kepolisian.

"Itu menyalahi prosedur. Kalau mobil tananan penuh bisa dibawa pakai mobil pribadi tetapi dengan pengawalan polisi," kata Marwan di Kejaksaan Agung, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Jumat (8/2/2013).

Setiba di pengadilan, lanjut Marwan, pegawal kebelet pipis dan pergi ke kamar kecil. Ia kemudian menitipkan Henry ke temannya, seorang pensiunan pegawai Kejaksaan. Padahal seharusnya Henry dimasukkan ke tahanan atau diborgol. Nah, melihat peluang itu, Henry pun kabur.

"Bagaimana kita mau minta pertanggungjawaban kepada pegawai Kejaksaan yang sudah pensiun?" kata Marwan.

Akibat kelalaian itu, pengawal tahanan dari Kejari Jakarta Selatan diperiksa intensif hingga kini.

"Laporan sudah saya serahkan ke Wakil Jaksa Agung (Darmono). Nah soal hukuman belum tahu tunggu pimpinan dong, tidak bisa kita dahului, tapi saya sudah usulkan," ujar Marwan.

Marwan merahasiakan identitas si pengawal itu. Ia berpendapat pengawal tersebut lalai. "Yang jelas pegawai ini tak melaksanakan sesuai SOP (standard operating procedur)," ujar Marwan.

Marwan juga mendesak Kejari Jaksel segera menangkap Henry. "Jadi langkah selanjutnya tahanan ya kita akan segera tangkap," katanya.

Jaksa Penuntut Umum menuntut terdakwa Henry dengan penjara tiga tahun enam bulan akibat penipuan terhadap korban Winarman Halim atas penjualan Apartemen Regatta senilai Rp 6,5 miliar yang terletak di Jakarta Utara. 


(aan/nrl)
Salmah Muslimah - detikNews


»»   Selengkapnya...